Di Desa Manggis, Kecamatan Puncu terdapat sebuah hutan lindung. Masyarakat mengenal dengan nama Hutan Simpenan. Primadonanya adalah monyet ekor panjang.
“Wisata ini biasanya ramai waktu hari Sabtu dan Minggu. Kalau nggak gitu pas tanggal merah,” terang Suprihadi, penjaga dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Bahkan, pengunjungnya tidak hanya warga sekitar. Namun hingga luar kota.
Suprihadi menjelaskan biasanya pengunjung akan mulai berdatangan mulai pagi hingga sore. Kebanyakan pengunjung yang datang adalah rombongan keluarga.
Baca Juga: Profil Desa Gedangsewu, Pare, Kabupaten Kediri: Warga Sulap Pohon Limbah Kopi Jadi Karya Seni
Tujuan mereka tak lain untuk melihat monyet ekor panjang. Bahkan pengunjung sampai membawa makanan untuk diberikan pada monyet-monyet. Seperti pisang, kacang, atau makanan kecil lainnya.
Jangan khawatir untuk berdekatan dengan monyet di sana. Sebab mereka sudah terbiasa dengan pengunjung. Bahkan saat pengunjung datang, monyet tersebut akan menghampiri. Tentu saja untuk meminta makanan.
“Monyet di hutan simpanan ini hidup secara berkelompok. Untuk yang di wilayah pintu masuk sebelah sini memang sudah akrab dengan manusia,” kata Suprihadi.
Tidak hanya memberi makan, pengunjung juga dapat melihat atraksi monyet ekor panjang. Mulai dari yang besar hingga masih kecil. Mereka bergelantungan dari pohon ke pohon. Bahkan juga tidak segan untuk duduk-duduk dekat pengunjung.
Baca Juga: Menelusuri Sumber-sumber Air di Kediri: Sumber Buntung Jadi Tempat Mandi dan Cuci Baju Warga
“Wisata di sini murah, hanya perlu membayar parkir saja,” ujar Edo Gustiar, 25, salah seorang pengunjung.
Tidak hanya monyet ekor panjang, di sana juga terdapat hewan lainnya. Seperti kalong hingga beberapa jenis burung yang biasanya masih menampakan diri.
“Cagar alam ini sangat sejuk dan asri, cocok untuk tempat liburan anak-anak,” imbuhnya.
Sebagai tempat wisata, di sana juga tersedia berbagai penjual makanan. Salah satunya adalah warung milik Zaenab. Perempuan berusia 52 tahun ini satu-satunya yang berjualan tetap di sana. “Jualan minuman, makanan ringan di sini mbak,” ucap Zaenab. (ara/tar)
Candi Dorok Jadi Simbol Bersejarah
Kekayaan Desa Manggis, Kecamatan Puncu tidak hanya pada alamnya berupa hutan lindung. Di sana juga terdapat candi yang menjadi simbol sejarah dari Kediri. Lokasi candi yang kini menjadi situs bersejarah itu berada di Dusun Dorok. Sesuai dengan namanya, candi tersebut dikenal dengan nama Candi Dorok.
Baca Juga: Inilah Sosok Misbachul Munir, Anak Gen Z yang Masih Mau Menekuni Kerajinan Para Orang Tua
Dari pengamatan yang dilakukan, Candi Dorok ini terbilang terawat. Tempatnya berada di permukaan tanah dengan kedalaman sekitar tiga meter. Bangunannya berada di dekat rumah pemilik lahan yakni Tumudi. Berbeda dengan Candi Tegowangi ataupun Candi Surowono yang dibangun dari batu, candi tersebut dari bata.
“Dulu saya menemukan candi ini pada 1996,” jelas Tumudi. Dia menemukan candi itu pada saat sedang menggali tanah untuk menanam pohon. Saat sedang menggali, cangkulnya tiba-tiba membentur benda keras.
Rupanya cangkulnya membentur bata yang membentuk bidang segi empat. “Setelah menemukan temuan itu saya langsung melapor ke dinas,” imbuhnya.
Baca Juga: Profil Desa Sidomulyo, Wates, Kabupaten Kediri: Punya Sumber Air yang Bisa Dijadikan Tempat Jujukan Memancing dan HealingBaca Juga: Profil Desa Sidomulyo, Wates, Kabupaten Kediri: Punya Sumber Air yang Bisa Dijadikan Tempat Jujukan Memancing dan Healing
Setelah dilaporkan, kemudian dilakukan penggalian hingga terbentuk bangunan seperti saat ini. Karena berada di bawah tanah, untuk dapat melihat candi diberi sebuah tangga yang menjorok. Agar tidak menampung hujan, bagian candi diberi atap.
“Pengunjungnya selain anak-anak sekolah, juga kelompok sejarah,” lanjut Tumadi. Anak sekolah yang datang kesana kebanyakan untuk mengerjakan tugas sejarah. Namun hingga saat ini masih belum diketahui Candi Dorok ini merupakan peninggalan dari kerajaan mana. Hanya saja jika dilihat dari bentuknya diperkirakan berasal dari abad ke 10 masehi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah