Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Sosok Misbachul Munir, Anak Gen Z yang Masih Mau Menekuni Kerajinan Para Orang Tua

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 13 Mei 2024 | 18:30 WIB
KREATIF: Misbah merakit dan menata kembar mayang di rumah seseorang yang melakukan pemesanan.
KREATIF: Misbah merakit dan menata kembar mayang di rumah seseorang yang melakukan pemesanan.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Pemuda ini sibuk dengan bilah-bilah janur yang berwarna kuning cerah. Tangannya cekatan merangkai daun muda kelapa. Menjadi beragam bentuk menarik. Burung, keris, pecut, payung, hingga yang berwujud seperti candi. Setelah itu, semua bentuk tersebut dia tancapkan ke potongan batang pisang. Menjadi satu kembar mayang, suatu hiasan dari daun kelapa yang dipadu dedaunan dan biasa dibawa untuk upacara perkawinan.

Pemuda ini bernama M. Misbachul Munir. Karib disapa Misbah. Usianya baru 26 tahun. Artinya, dia lahir pada 1998. Masih masuk kelompok GenZ, generasi yang lahir mulai 1997 hingga 2012.

Uniknya, meskipun masuk kelompok zoomer-sebutan untuk para GenZ-hobi yang ditekuni pemuda yang tinggal di Desa Rembang, Kecamatan Ngadiluwih ini bukan yang berbau-bau teknologi informasi. Jauh dari gawai ataupun internet. Melainkan menjadi perajin janur kuning. Dijadikan penjor, kembar mayang, atau gagar mayang, yang merupakan pernak-pernik acara pernikahan.

“Penjor itu janur kuning melengkung yang dipasang di pinggir jalan. Biasanya jadi penanda bahwa di tempat itu ada pernikahan,” terang Misbah, di sela-sela keasyikannya membuat kerajinan janur di halaman rumahnya.

“Sedangkan kembar mayang itu untuk nikahan yang calon pengantinnya masih perawan dan perjaka. Kalau yang sudah pernah menikah namanya jadi  kembang mayang. Sedangkan kalau gagar mayang bila ada orang meninggal yang belum menikah,” lanjutnya, mengurai maksud pernak-pernik pernikahan yang jadi objek garapannya.

Soal hobinya membuat hiasan dari janur itu, Misbah melakukannya sejak kecil, sejak duduk di sekolah dasar. Bermula ketika dia sering diajak mendatangi hajatan nikah.

Di mata Misbah kecil, kembar mayang itu unik dan antik. Membuatnya sangat tertarik. Setiap kali mendatangi acara temu manten dia selalu mengambil satu atau dua ornamen dari kembar mayang. Tapi, bukan untuk sekadar dibuat mainan. Melainkan dipelajari dan kemudian ditiru.

“Coba dibongkar-pasang, terus ditiru pakai janur lain,” akunya.

Karena kebiasaannya itu, pohon kelapa di depan rumahnya  jadi korban. Janurnya sampai habis tak tersisa.

“Karena sering saya ambil untuk belajar,” akunya, kemudian tertawa lebar.

Namun, dengan kebiasaannya itu, Misbah jadi mahir membuat ornamen kembar mayang. Ketika SMP dia sudah melayani permintaan orang untuk membuat kembar mayang.

“Zaman segitu dikasih Rp 20 ribu. Pastinya senang sekali, berharapnya semoga ada lagi. Semoga ada lagi,” kenang alumnus SMPN 1 Ngadiluwih itu.

Nasib baik terus berlanjut. Ketika tengah membuat kembar mayang di hajatan nikah tetangganya, dia bertemu orang dari jasa dekorasi pernikahan. Melihat karyanya itu, si orang dekor tersebut tertarik. Kemudian menawari Misbah bergabung.

“Dulu pernah ada empat tim dekor yang mengajak kerja sama. Kalau saat ini yang masih bertahan ada dua tim dekor,” akunya.

Misbah mengaku masih bertahan menjadi seorang perajin janur kuning karena termasuk pekerjaan yang langka, jarang ada. Apalagi dia merasa punya skill, sehingga rugi bila tidak digunakan.

“Selagi ada yang membutuhkan, dan saya bisa melayani, ya saya buatkan. Ini sembari menunggu penempatan P3K juga,” aku pemuda yang baru saja lolos tes PPPK guru bahasa Indonesia itu.

Tapi, membuat kerajinan janur juga punya kesulitan tersendiri. Terutama saat janur menjadi barang langka. Harganya jadi naik. Yang dulu Rp 40 ribu per papah kini jadi Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu, tergantung tempat membeli. Walaupun, upah untuk pembuatan kembar mayang tetap tidak berubah, yaitu sebesar Rp 250 ribu.

“Dari pada tidak jadi pesan, jadi mending mengurangi untung sedikit,” akunya.

Kenapa tidak beralih janur sintetis? Misbah menggeleng. Sembari menjelaskan bahwa kembar mayang dari janur sintetis tak banyak dicari orang. Karena kembar mayang dari janur asli punya filosofi. Yang tidak bisa diganti dengan sembarangan.

“Di wilayah Kediri juga tidak ada yang pesan. Mungkin berbeda kalau di kota-kora besar ya,” duganya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Gen Z #seniman #kerajinan #manten #Janur