Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Dukuh, Ngadiluwih, Kabupaten Kediri: Warga Fokus Kelola Sektor Wisata dan Tradisi

Habibaham Anisa Muktiara • Jumat, 10 Mei 2024 | 18:41 WIB
LESTARI: Sumber Sugih Waras yang berada di Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih berangsur ramai dikunjungi usai pandemi Covid.
LESTARI: Sumber Sugih Waras yang berada di Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih berangsur ramai dikunjungi usai pandemi Covid.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Sumber Sugih Waras memiliki potensi untuk dikembangkan. Upaya tersebut sudah kerap dilakukan. Sayangnya, pandemi Covid-19 berpengaruh besar dengan upaya tersebut. Jumlah kunjungan jadi berkurang drastis.

“Sebelum pandemi sumber ini banyak sekali pengunjungnya,” jelas Penjaga Sumber Sugih Waras Andik Winarno.

Berbagai upaya penyelamatan terus dilakukan oleh pemdes dan pokdarwis setempat. Beruntung, sinyal positif mulai terlihat. Jumlah kunjungan semakin perlahan meningkat.

“Sekarang sedang masa pemulihan sedikit demi sedikit mulai banyak pengunjung,” ujarnya.

Pengembangan sumber ini menjadi tempat wisata sudah dilakukan sejak 2016 silam. Prosesnya dilakukan secara bertahap. Mulai dari penataan hingga penambahan beberapa wahana.

“Dulu dilakukan perbaikan pertama karena terjadi longsor di bagian dinding sumber,” imbuhnya.

Perbaikan Sumber Sugih Waras dilakukan bersama dengan warga. Semua dikerjakan secara sukarela. Kaum ibu-ibu menyediakan makan para pekerja. Sedangkan anak-anak turut membantu sebisanya.

Akses menuju sumber dibangun dengan material semen. Sehingga pengunjung lebih mudah melewatinya. Ada pula dua kolam renang dengan kedalaman berbeda.

Sumber ini buka setiap hari. Dari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Harga tiket masuk yang ditawarkan relatif murah. Yaitu Rp 5 ribu untuk orang dewasa. Lalu, gratis untuk anak-anak dan balita.

Ada wahana permainan outbound yang disediakan pengelola. Tak hanya itu, ada pula beberapa fasilitas pendukung. Seperti musala, kamar mandi, kafetaria, dan gazebo di sekitar kolam renang. Tak hanya itu, di Kawasan ini juga terdapat lapangan utama. Sehingga dapat digunakan untuk menggelar acara outdoor.

 

Konsisten Lestarikan Kesenian Jemblung melalui Festival

Desa Dukuh Kecamatan Ngadiluwih rutin menggelar festival Jemblung. Diadakannya festival tersebut bukan tanpa alasan. Salah satunya karena kesenian Jemblung ini tak hanya berisi musik dan nyanyian saja. Tapi juga mengandung nasihat dan dakwah.

Dapat dicermati dari lirik-lirik nyanyian yang mengarah pada edukasi untuk masyarakat. “Berisi pitutur dan dakwah juga,” jelas Andik, 40, salah seorang warga Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih.

Kesenian Jemblung menggunakan beberapa alat musik. Antara lain kendang, rebana, kenong, serta jidor. Musik dan lirik yang disajikan sarat akan upaya dakwah. Jemblung mengalami banyak variasi hingga saat ini. Pun dalam hal musik dan penambahan wayang.

Umumnya, kesenian ini terdapat tiga orang sinden. Nyanyiannya berisi musik gubahan yang diganti liriknya. Seperti pada alunan lagu caping gunung yang liriknya diubah menjadi ajakan untuk salat.

Kesenian Jemblung sangat baik jika digunakan sebagai pendidikan karakter pada anak. Festival ini diharapkan menjadi tali penyambung antara budaya asli Kediri bagi generasi penerus. “Semoga bisa berkembang pada generasi-generasi mendatang,” harap Andik.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #desa milenial #kediri #wisata sumber air #wisata kediri #mata air #jawa pos #sumber air