KEDIRI, JP Radar Kediri - Stone pots atau pot batu banyak digemari masyarakat. Meski terbuat dari batu, bentuknya sangat unik. Desainnya yang cantik dan berkarakter makin memikat peminatnya.
Andreas atau biasa dipanggil Iyas merupakan perajin pot yang terbuat dari batu. Pria 39 tahun ini sudah lama menekuni usaha pembuatan pot batu tersebut. Hal ini bermula dari kecintaannya terhadap tanaman bonsai. Kemudian dia coba-coba untuk membuat pot dari batu yang ditemukan di bekas galian pasir tak jauh dari rumahnya.
“Untuk melubangi batu, alat yang digunakan adalah mesin gerinda dan pisau pahat,” terang Iyas.
Iyas menjelaskan untuk membuat pot tersebut dia akan membuat cekungan pada batu. Dia menggunakan gerinda untuk itu. Setelahnya batu tersebut ditatah sehingga membentuk cekungan sesuai alur batu dan pohon. Agar terlihat indah pot batu tersebut dilapisi cairan khusus agar lebih mengkilap.
“Memang butuh ketelatenan, karena proses melubangi butuh waktu,” ucapnya.
Di rumahnya di Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol memang terdapat berbagai ukuran batu. Iyas menjelaskan, setiap batu memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Ciri khas tersebut juga mempengaruhi proses pembuatannya. Untuk membuat satu vas dari batu andesit biasanya memakan waktu selama tiga hari.
Nasi Pecel Tumpang Mbah Musrinem Selalu Bikin Ketagihan.
Desa Sonorejo tidak hanya terkenal dengan wisata sumber dan produksi kerajinan tangannya. Desa dengan penduduk sekitar 8447 jiwa ini juga terkenal dengan kulinernya. Nama kuliner tersebut adalah nasi pecel tumpang Mbah Musrinem.
“Nasi pecel tumpang Mbah Musrinem ini sudah ada saat saya masih kecil,” jelas Kaur Perencanaan Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol Aditya Maulana.
Warung Mbah Musrinem ini berada di sebelah timur dari pertigaan lampu merah Sonorejo. Warung nasi pecel tumpang ini berwarna biru. Pengunjung juga bisa mencari petunjuk di Google Maps.
“Kalau sekarang yang meneruskan usaha tersebut adalah keluarga Mbah Musrinem,” terangnya.
Baca Juga: Profil Desa Kedungsari, Tarokan, Kabupaten Kediri: Dorong Kemandirian Pelaku Usaha Gerabah
Meski sangat sederhana, warung nasi pecel tumpang ini selalu ramai. Bahkan sejak warung tersebut mulai buka.
Berdasarkan cerita, Mbah Musrinem sudah berjualan nasi pecel tumpang sejak zaman penjajahan Belanda. Lokasinya masih ditempat berjualan saat ini.
Setiap harinya warung pecel tumpang ini berjualan dua sesi. Mulai pukul 04.30 WIB sampai siang hari. Lalu, siangnya akan tutup. Kembali buka lagi pada sore hari hingga tutup atau habis.
Nasi pecel tumpang Mbah Musrinem ini seperti nasi pecel tumpang pada umumnya. Dalam satu porsi terdapat campuran daun ketela, pepaya, kemangi, luntas, kecambah, dan lamtoro. Nasi dan sayuran ini kemudian diguyur dengan sambal pecel, tumpang, atau campur keduanya. Yang membedakan adalah rasa sambal tumpangnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah