Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Jabon, Banyakan, Kabupaten Kediri: Rutin Gelar Acara Adat dan Doa Bersama Setiap Bulan Sura

Habibaham Anisa Muktiara • Jumat, 10 Mei 2024 | 16:59 WIB
LESTARIKAN TRADISI: Makam Ki Ageng Suryo Hadi Kusumo di Desa Jabon, Kecamatan Banyakan rutin diadakan acara doa bersama dan gerebek Sura.
LESTARIKAN TRADISI: Makam Ki Ageng Suryo Hadi Kusumo di Desa Jabon, Kecamatan Banyakan rutin diadakan acara doa bersama dan gerebek Sura.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Setiap tahunnya warga Desa Jabon memiliki tradisi kirab gerebek Sura. Acara yang dirayakan secara semarak ini dilakukan sejak tahun 2014 silam. Tujuan diadakan kegiatan tersebut untuk berdoa bersama dan melestarikan tradisi.

Warga Desa Jabon, Kecamatan Banyakan memiliki tradisi Gerebek Sura. Dalam kegiatan tersebut warga membawa nasi berkat untuk dimakan bersama. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap Jumat Pon di bulan Sura.

“Sebelum didoakan, tumpeng tersebut terlebih dahulu diikutkan kirab,” ujar Hasan, 50, warga Desa Jabon, Kecamatan Banyakan.

Tumpeng yang digunakan untuk kegiatan Gerebek Sura ini berisikan sayuran, buah, umbi-umbian dan kacang. Prosesi kirab dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Pesertanya mencapai ratusan orang. Meliputi kades, perangkat, pengurus RT/RW, perwakilan kecamatan, dan tokoh masyarakat.

Peserta kirab mengenakan busana tradisional. Sesampainya di makam, peserta kirab melakukan doa bersama. Tradisi ini diadakan di salah satu makam leluhur. Yaitu Ki Ageng Suryo Hadi Kusumo. Doa bersama ini dimaksudkan untuk meminta keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga desa. Serta terhindar dari segala hal buruk yang bisa menimpa.

Setelahnya, warga  akan berebut tumpeng yang sebelumnya diikutkan kirab. Gerebek tumpeng tersebut juga menjadi wadah warga untuk menjalin silaturahmi. Tak hanya itu, tradisi ini dimanfaatkan untuk mempererat rasa kekeluargaan. “Ini merupakan tradisi yang terus dilestarikan bersama,” tandas Hasan.

Namanya Terinspirasi karena Banyaknya Pohon Jabon. 

Jabon merupakan salah satu dari sembilan desa di Kecamatan Banyakan. Tercatat, jumlah penduduk di sana mencapai 6.343 jiwa. Desa ini diyakini memiliki sejarah panjang. Warga percaya sosok Eyang Singo Rono merupakan leluhur mereka.

“Eyang Singo Rono ini dikenal sebagai seorang pengembara yang membuka pemukiman untuk penduduk,” jelas Hasan, 50, warga Desa Jabon, Kecamatan Banyakan.

Makam Eyang Singo Rono ini berlokasi di pemakaman yang berada di Desa Jabon gang 9. Dahulu kala, warga percaya bahwa desa tersebut dipenuhi tumbuhan liar. Tidak hanya itu, di sana juga banyak ditemukan pohon Jabon. Karena jumlahnya banyak, desa ini akhirnya dinamakan Jabon.

“Untuk mengenang leluhur, warga desa rutin melakukan doa bersama saat suroan,” ucapnya.

Di Desa Jabon juga terdapat sebuah peninggalan dari zaman penjajahan. Peninggalan tersebut berupa bangunan gardu plengkung yang lokasinya berada di gang 6. Bangunan ini diyakini menjadi lokasi pejuang bergerilya dan berlindung dari serangan para penjajah. Bangunan tersebut dibangun pada 1920 silam dan masih berdiri kokoh hingga sekarang. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kabupaten kediri #banyakan #milenial #acara adat #desa jabon #Desa 1.000 Sapi