Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Bajingan Tengah Naik Daun di Mata Kaum Muda

Emilia Susanti • Senin, 6 Mei 2024 | 19:10 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - “Itu Mbah Mo, itu Alan, itu Kalagondang. Terus yang itu Keple. Kalau yang ini  belum ada namanya,” sebut pria bernama Sutriyoso. Warga Desa Kunjang, Kecamatan Ngancar ini bukan memperkenalkan orang. Melainkan sapi-sapi piaraannya yang masing-masing memang diberi nama seperti halnya manusia.

Sapi-sapi milik Yoso, demikian dia biasa disapa, ditempatkan berjajar di kandang yang berada di halaman belakang rumah. Lima ekor sapi yang dia perkenalkan itu berjenis kelamin jantan. Kemudian, masih ada lagi seekor berjenis kelamin betina serta seekor pedhet alias anak sapi. Usianya baru satu bulan.

Yoso bukan sekadar peternak sapi. Tapi, sapi-sapi itu juga penarik cikar alias pedati. Dan, Yoso memang ketua Komunitas Bajingan Kediri Raya. Bajingan adalah sebutan untuk sais atau pengendali cikar.

Beberapa saat terdengar gonggongan anjing. Berasal dari dua ekor yang terikat dengan tiang yang ada di kandang tersebut. Dua anjing itu bertugas sebagai penjaga para sapi milik Yoso.

“Sapi di sebelah (milik tetangga Yoso, red) ilang. Jadi saya pelihara anjing ini untuk jaga. Kalau sewa orang butuh biaya lagi. Kalau ini (anjing, Red) kasih makan sudah cukup,” jelas sang pemilik.

Pria 54 tahun itu kemudian kembali bercerita tentang sapi-sapi penarik cikarnya. Ternyata, dua di antaranya pernah menarik cikar yang ditumpangi Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Yaitu ketika berlangsung parade cikar saat memperingati Hari Jadi Kabupaten Kediri 2022 silam.

Sejak parade cikar itu, ada dampak besar yang dirasakan komunitas bajingan. Alat transportasi tradisional yang ditarik dua sapi ini jadi naik daun. Tak hanya di kalangan generasi tua tapi juga di mata anak-anak muda.

"Sekarang banyak anak muda yang minat," aku lelaki yang memang bertugas mengoordinasikan para bajingan di Kediri agar bisa meramaikan parade tersebut.

Dia kemudian menyodorkan bukti. Beberapa orang datang kepadanya setelah parade berlangsung. Ingin belajar menjadi bajingan.

Menurutnya, sebelum ada parade tersebut, cikar  sudah banyak berkurang. Mulai sedikit jumlahnya. Boleh disebut  hampir punah. Peran mereka sebagai kendaraan pengangkut sudah kalah dengan kehadiran alat transportasi bermesin seperti truk dan pikap.

“Banyak teman-teman yang sudah beli truk. Ada yang bilangi juga untuk ganti truk, tapi saya tetap bertahan,” kenangnya.

Untungnya,  jasa angkut barang dengan cikarnya masih diminati orang-orang. Sehingga, dia masih tetap yakin mempertahankan cikar miliknya. Apalagi, melihat pengalaman teman-temanya, merawat truk juga tidak mudah.

“Truk kalau dipakai lama-lama kan jadi rusak mesinnya. Kalau dijual harganya turun jauh. Beli truknya dengan jual sapi, tapi kalau dijual harganya ga bisa buat beli sapi lagi. Kalau sapi semakin lama harganya naik,” ujarnya menjelaskan alasannya tetap mempertahankan cikar.

Kini, alat transportasi yang ditarik dua ekor sapi itu memang sudah tak terlalu diminati untuk mengangkut muatan berupa material. Tapi, seiring itu, fungsinya mulai bergeser. Tak lagi jadi pemuat material melainkan jadi mengangkut manusia yang ingin jalan-jalan atau berwisata. Inilah yang membuat banyak anak muda tertarik ingin menjadi sais pedati.

“Sekarang banyak yang minat untuk angkut orang, untuk jalan-jalan,” ungkapnya.

Kini, setiap Minggu, para pemilik cikar di desanya akan berkumpul. Kemudian berkeliling bersama. Bukan lagi gerobak berisi pasir ataupun pupuk yang ditarik oleh sapi. Melainkan gerobak itu telah berganti kereta, lengkap dengan kursi penumpang. Lebih-lebih ada yang melengkapinya dengan sound system.

“Seminggu yang lalu juga ada halalbihalal bajingan. Terus kami juga menerima carteran bila ada yang berminat,” tandasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#cikar #bajingan #desa #mbah mo #sapi