JP RADAR KEDIRI- Upaya Memajukan UMKM Warga Desa, Kecamatan Papar
Konsisten Geluti Usaha Pembuatan Kain Batik dan Shibori Warga Desa, Kecamatan Papar banyak yang menjadi pelaku UMKM. Salah satunya seperti Hardini. Ditangannya, dia menyulap kain polos menjadi batik dan shibori.
Shibori masih menjadi salah satu motif yang disukai hingga saat ini. Kain model ini memiliki ciri khas warna dan motif. Ini juga yang membuat kain ini jadi buruan. Karena umumnya dikreasikan sebagai selendang dan pakaian.
Kain shibori merupakan kain yang diwarnai. Teknik pewarnaannya dengan mencelupkan kain yang diikat ke dalam pewarna. “Shibori sendiri berasal dari Jepang atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama jumputan,” terang Hardini, salah satu pelaku UMKM asal Desa/Kecamatan Papar.
Hardini menjelaskan, teknik ini diadopsi dari negara matahari terbit. Sehingga, kain shibori ini tak jarang pula disebut dengan batik jepang. “Konsep pembuatan kain shibori mengandalkan teknik ikat celup, dengan teknik ini, beberapa kain 'dilindungi' agar tidak terkena corak pewarna sehingga pada hasil akhirnya tercipta pola sesuai dengan bagian yang diwarnai,” jelasnya.
Berbeda dengan eco print. Kain shibori memiliki warna yang lebih mencolok. Itu karena menggunkan pewarna textil. Jika dibandingkan dengan daerah Jawa Barat, orang Jawa Timur lebih suka dengan warna yang menyala. Seperti halnya warna merah, biru, dan sebagainya. Namun, untuk saat ini warna yang paling disukai justru perpaduan hitam, cokelat, dan putih.
Kain shibori ini biasanya dimanfaatkan untuk berbagai model busana pria dan wanita. Meski memiliki warna yang mencolok, kain ini cocok digunakan untuk usia muda dan dewasa. Dalam pembuatan pakaian, kain shibori dapat dipadukan dengan kain lain. Salah satunya kain batik atau kain-kain lainya.
Baca Juga: Menelusuri Sumber-Sumber Air di Kediri: Sumber Soko Tetap Mengalir meski di Musim Kemarau
“Selain tas, juga dapat dibuat menjadi mukena,” ungkap Hardini. Karena menggunakan pewarna tekstil, jangan dijemur langsung di bawah terik matahari. Itu dilakukan agar warna lebih awet. Tidak hanya itu saja, usahakan jangan dicuci dengan mesin. Lebih baik dicuci manual.
Keterbatasan Fisik Tak Jadi Penghalang Berkarya
Keterbatasan fisik tak menyurutkan Totok Yulianto untuk mandiri. Dia dikenal karena usahanya di bidang furniture. “Selain membuat kursi bambu juga kerajinan ukiran,” jelasnya.
Hebatnya, Totok tidak bisa melihat. Namun keterbatasannya tersebut tidak menghalangi untuk tetap berkarya. “Waktu awal tidak bisa melihat saya sempat mengalami frustasi. Namun lambat laun berusaha bangkit,” ungkapnya.
Saat mengawali usaha, Totok meggunakan dana seadanya. Pada saat itu kerajinan pertamanya berupa bingkai foto yang dijadikan souvenir. Bahannya pada saat itu dari bambu dan pasir pantai.
Jiwa seni yang dia miliki membuat Totok cepat beradaptasi. Dia hanya perlu membiasakan diri memegang peralatan tajam. Beda dengan sebelum tak bisa melihat, dia lebih banyak berkutat dengan kuas cat dan cat semprot. Maklum, awalnya dulu Totok adalah pelukis. Baik di kanvas maupun di bak truk.
“Lebih ke lukisan iklan, yang ada di boks truk menggunakan kuas dan semprot,” imbuhnya.
Setelah kehilangan penglihatan dia beralih membuat bingkai foto. Untuk mengukur dia menggunakan tangannya untuk meraba. Ketika pertama kali memegang gerinda, Totok sempat melukai tangannya sendiri. Namun dia tidak menyerah. Hingga akhirnya usahanya berkembang dan dikenal banyak orang.
Kini dia mengembangkan usaha dengan membuat bambu kursi. Dibandingkan dengan kursi bambu pada umumnya, kursi buatan sangat unik. Kursinya memiliki ciri khas lengkungan yang asli dari bambu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah