Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Tunglur, Badas, Kabupaten Kediri: Melihat Geliat UMKM yang Sukses di Desa

Habibaham Anisa Muktiara • Jumat, 3 Mei 2024 | 16:42 WIB
KREATIF: Sepatu rajut buatan Ika menjadi salah satu UMKM andalan Desa Tunglur, Kecamatan Badas. Sepatu ini sangat cocok untuk anak-anak.
KREATIF: Sepatu rajut buatan Ika menjadi salah satu UMKM andalan Desa Tunglur, Kecamatan Badas. Sepatu ini sangat cocok untuk anak-anak.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Tren fashion sudah menyasar semua kalangan. Tidak hanya orang dewasa. Anak-anak juga harus terlihat trendi. Salah satunya dengan item fashion sepatu.

Di Desa Tunglur, ada seorang perajin sepatu. Namun, bahannya berbeda dari kebanyakan. Di tangan Ika Widiyawati, gulungan benang disulap menjadi sepatu rajut nan menawan.

Hanya saja, Ika lebih fokus pada sepatu anak-anak. Dia biasanya menggunakan metode crochet. Yaitu menggunakan jarum tunggal atau biasa disebut hakpen.

Benang-benang ini, disulap menjadi sebuah sepatu anak beraneka warna dan model.

"Sepatu ini dibuat dengan cara dirajut, yang maksimal digunakan anak usia dua tahun,” terang Ika.

Perempuan berusia 28 tahun ini mengaku belum lama membuka usaha sepatu rajut. Sebelum dijadikan usaha, dia semula hanya ingin membuatkan sang buah hati. Dia pun akhirnya belajar secara otodidak.

“Saya belajar dari tutorial yang berada di internet, seperti youtube,” akunya.

Di tangannya beragam sepatu bisa dibuat. Mulai sepatu model sneakers, boots, hingga sepatu karakter. Dia lebih suka menggunakan benang rajut polyester dibanding wol. “Kalau pakai benang wol nanti lebih panas,” terangnya.

Dalam membuat rajutan, dia menggunakan single crochet dan double crochet. Bagian bawah sepatu atau sol sepatu dia buat sendiri. Ika menggunakan bahan kulit sintetis. Selain ringan, kulit sintetis juga tidak licin ketika digunakan berjalan.

Meski terbuat dari benang, cara merawat sepatu ini mudah.  “Ketika kotor, tinggal dicuci menggunakan sikat dan sabun,” kata Ika.

Berkat usahanya, dia sudah mendapatkan banyak orderan. Karena semua dia kerjakan sendiri, membuat pemesan harus sabar untuk mengantri.

 

Komitmen Rawat Benda-Benda Bersejarah di Desa

Di Kecamatan Badas banyak peninggalan dari zaman kerajaan. Tak terkecuali di Desa Tunglur. Di sana terdapat candi yang sarat akan sejarah.

Kondisi situs Candi Tunglur memang tak semegah Candi Surowono. Sebab, bangunan yang diperkirakan dari Kerajaan Kadiri ini sebelumnya tertimbun material vulkanik. Bahkan ada indikasi dahulu kawasan ini juga terdampak banjir.

Menariknya, situs ini memiliki candi perwara. Ada tiga buah bangunan yang terletak di sebelah barat candi induk. Bangunan perwara yang paling besar adalah beradi di bagian tengah. “Sebelumnya situs ini tertimbun tanah,” jelas Juru Pemelihara Situs Tunglur, Kecamatan Badas Romli.

Romli menjelaskan bahwa Situs Tunglur memiliki bangunan kuno seperti altar pemujaan. Diperkirakan ini sudah ada sejak masa Kerajaan Kadiri. Situs Tunglur sendiri pertama kali ditemukan oleh warga yang hendak membangun kolam ikan di lahannya.

Penemuan itu kemudian ditindaklanjuti oleh instansi terkait pada 2014 silam. “Dulu awal penemuan tidak ada (luapan) airnya. Terus sekarang kalau musim hujan air sering naik, kadang sampai benar-benar menenggelamkan kontruksi (bangunan) di situs ini,” terangnya.

Lebih lanjut, bila kemarau tiba, air akan kembali surut dan pengunjung bisa mendekat pada bangunan bersejarah itu. Biasanya kalau musim kemarau, anak-anak sekolah bisa belajar di bawah. Dekat dengan bangunannya.

Selama ini, beberapa orang mempercayai bahwa air dari Situs Tunglur bernilai suci. Bahkan bisa menjadi media penyembuhan. Banyak orang datang untuk mendapatkan tuah itu. "Sampai saya siapkan kain sarung misal mereka mau mandi di bawah,” ungkap Romli

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#badas #desa milenial #kediri #benda bersejarah #umkm #tren fashion #sepatu