KEDIRI, JP Radar Kediri - Kini, masyarakat mulai mengenal Wisata Lembah Krepyak di Dusun Centong, Desa Langenharjo, Kecamatan Plemahan. Dulunya, lahan seluas satu hektare itu merupakan rawa-rawa. Selain tidak bisa ditanami, juga terdapat tumbuhan liar setinggi lutut orang dewasa.
“Sebenarnya lahan ini adalah milik warga,” terang Pengawas Wisata Lembah Krepyak Imam Muhdori.
Agar lahan tersebut tidak terbengkalai, akhirnya bumdes setempat mengelolanya sebagai tempat wisata. Pada 2020 silam, lahan mati tersebut dilakukan pembersihan. Kegiatan ini dilakukan bersama dengan masyarakat setempat.
Selain dilakukan pembersihan, juga dibangun fasilitas-fasilitas pendukung di sana. “Selain wahana permainan juga ada tempat kuliner,” ucap Imam.
Di sana tidak hanya menjual hasil umkm warga setempat. Namun juga makanan-makanan ringan lainnya. Tentunya, harga yang ditawarkan sangat ramah dikantong. Makanan yang dijual di sana seperti rujak, kerupuk pecel, gorengan, dan gado-gado.
Sebelum jumlah pengunjung menurun, jumlah penjualnya ada puluhan. Bahkan untuk penjual makanan terdapat tempat khusus serupa pujasera. Namun sayang kini hanya beberapa saja yang bertahan.
Imam mengatakan bahwa menurunnya pengunjung ini dikarenakan adanya kerusakan di beberapa wahana. Kerusakan tersebut belum dapat diperbaiki sebab terhalang oleh dana. “Namun kami tetap optimistis dalam mengelola wisata ini, sebab potensinya besar,” kata Imam.
Untuk dapat memikat pengunjung berwisata disana, kedepannya akan dilakukan beberapa penambahan wahana. Karena dekat dengan sumber, rencananya akan dibuatkan kolam untuk bermain air. Pengunjung nantinya dapat bermain air di sana.
Sementara itu, Narti, salah satu pedagang yang masih bertahan berharap kunjungan ramai kembali. Sebab jika tempat wisata ramai, penjual makanan juga ikut diuntungkan. “Kalau wisata ramai pengunjung, penjualan warung-warung juga ramai,” ujar Narti.
Perempuan berusia 43 ini sudah berjualan sejak awal tempat wisata dibuka. Saat pedagang banyak yang berhenti, dia memilih tetap bertahan. Walau jumlah penghasilannya setiap hari tidak menentu. “Paling banyak satu hari Rp 150 ribu, kalau ramai dulu bisa Rp 500 ribu itupun saat ada pertunjukan jaranan,” aku Narti.
Masjid Jami Imam Baidhowi Jadi Ikon Baru Desa Langenharjo
Di Desa Langenharjo, Kecamatan Plemahan terdapat sebuah masjid dengan arsitektur mirip Masjid Nabawai. Memiliki arsitektur yang indah, membuat masjid tersebut kerap didatangi pengunjung dari luar desa. Masjid ini memiliki luas sekitar 16 meter x 32 meter.
“Masjid Jami Imam Baidhowi ini dibangun pada bulan Januari tahun 2022,” jelas Takmir Masjid Jami Imam Baidhowi Sugiono.
Sugiono menjelaskan bahwa Masjid Jami Imam Baidhowi memang terinpirasi dari Masjid Nabawi. Masjid tersebut memiliki tiang-tiang yang megah. Pada bagian timur masjid terdapat sebuah lorong pergola. Lorong tersebut digunakan sebagai jalan ke masjid dari arah toilet.
Kemegahan desain bangunan Masjid Jami Imam Baidhowi ini juga karena adanya payung-payung elektrik. Seperti halnya di Masjid Nabawi. “Setiap harinya payung-payung ini secara otomatis akan terbuka mulai pukul 05.30 WIB hingga pukul 16.30 WIB,” terangnya.
Baca Juga: Menelusuri Sumber Air di Kediri: Tak Terawat, Sumber Tengis Jadi Tempat Pembuangan Sampah
Keindahan masjid ini hampir ada di setiap sudutnya. Seperti halnya pada ornamen pintu. Masjid Jami Imam Baidhowi ini memiliki lima pasang pintu. Setiap pintu ini memiliki ukiran modern yang terbuat dari bahan tembaga dan kuningan.
Beberapa bagian dinding masjid dilapisi dengan marmer dan batu granit. Untuk bagian lantainya berbahan marmer dan batu andesit. “Pintu-pintu masjid dan menara itu dipesan langsung dari Boyolali,” kata Sugiono.
Tak hanya itu, bagian mimbar dan mihrab terbuat dari kayu jati asli Jepara. Di bagian dalam masjid juga terdapat sebuah lampu gantung modern dengan diameter 4 meter. Sedangkan lantai bagian dalam masjid menggunakan batu granit.
Bapak dari empat anak ini menambahkan bahwa Masjid Jami Imam Baidhowi ini memiliki fasilitas halaman yang luas. Di sana juga terdapat lapak untuk tempat berjualan. “Biasanya ada pengunjung dari luar kota,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah