KEDIRI, JP Radar Kediri - Salah satu kuliner legendaris yang berada di wilayah Kediri adalah ayam panggang Bangi. Warung makan turun-temurun yang sudah berdiri lebih dari puluhan tahun tersebut tak pernah sepi dari pembeli. Yang dulu dalam sehari hanya menjual empat ekor ayam, kini dalam satu hari bisa menjual ratusan ekor.
“Dulu awalnya tahun 1986 tidak langsung berjualan ayam, melainkan nasi pecel,” cerita Dwi Nafandi yang merupakan anak kedua dari Kasiono, pemilik ayam panggang Bangi. Pria yang akrab dipanggil Fandi ini bercerita bahwa saat itu mereka mencoba menambah menu ayam panggang. Karena masih baru memulai, mereka hanya menjual sebanyak empat ekor saja.
Tidak disangka, ayam panggang dengan bumbu racikan ibunya tersebut justru laku terjual. Dari situlah usaha ayam pangganya ini dikembangkan hingga saat ini. “Sekarang setiap hari memangga sekitar 150 ekor ayam,” ungkapnya.
Di warung ini pun masih menggunakan arang untuk memanggang ayam. Sehingga cita rasanya tidak berubah. Ayamnya direbus dulu sampai matang sebelum dipanggang. Sembari kemudian diolesi dengan bumbu rahasia warisan keluarga.
Bumbu dengan sensasi pedas ini menjadi ciri khas ayam panggang Bangi yang kaya akan rempah-rempah. Proses pemberian bumbu dilakukan tidak hanya sekali saja. Hal itu bertujuan agar bumbu meresap sempurna dan sensasi pedasnya sampai ke daging bagian dalam.
“Agar terjamin kesegarannya, ayam yang dipanggang ini disembelih di hari yang sama,” kata lakii-laki berusia 57 tahun tersebut.
Menu ini biasa disajikan bersama nasi, touge, dan sayur kangkung sebagai pelengkap. Meski terlihat sederhana, ayam panggang ini selalu ramai oleh pengunjung. Pengunjungnya bahkan kebanyakan berasal dari luar kota.
Dirikan Polindes untuk Wadahi Kebutuhan Kesehatan Warga
Pemerintah Desa (Pemdes) Woromarto, Kecamatan Purwoasri pada tahun ini akan menyelesaikan pembangunan polindes. Bangunan polindes yang berlokasi menjadi satu dengan kantor desa ini sudah mulai dibangun pada akhir tahun 2023.
“Pengerjaan polindes ini sudah sekitar 40 persen,” jelas Kepala Desa Woromarto, Kecamatan Purwoasri Siti Miftahul Janah.
Dari keterangan yang dihimpun, bangunan polindes ini memiliki ukuran sekitar 12x6 meter. Di sana terdapat empat ruangan. Yaitu ruang tindakan, penyimpanan obat, pertemuan, dan toilet. “Pembangunan akan dilanjutkan pada tahun ini sekaligus diselesaikan,” tuturnya.
Pembangunan polindes ini diawali dengan pemasangan fondasi hingga atap. Sedangkan pada tahun ini dilakukan kegiatan finishing. Pengerjaan tahun ini akan dilakukan Juli nanti. Setelah pengerjaan selesai, rencananya polindes ini sudah dapat digunakan pada akhir tahun.
Selain menyelesaikan pembangunan polindes, pada tahun ini pemerintah desa juga membangun saluran patusan. Sebelum dijadikan bangunan permanen, saluran patusan ini hanya berupa tanah. Dengan kondisi tersebut selama ini saluran tidak lancar, selain air banyak terserap ditanah. Namun juga kondisinya sering banyak rumput yang tumbuh.
“Patusan ini panjangnya sekitar 152 meter, dengan tinggi satu meter,” kata Siti.
Lokasi patusan tersebut berada di Dusun Sumber. Untuk membuat patusan, dana yang digunakan adalah dana desa. Dengan dibuatkan patusan, diharapkan aliran air menjadi semakin lancar.
Selain membuat patusan, pemerintah desa juga membuat tembok penahan tanah. Lokasi tembok penahan tanah ini berada di dua titik. Yaitu di Dusun Woromarto dan Dusun Bangi. Panjang 250 meter dengan lebar 0,8 meter.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah