Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Brumbung, Kepung, Kabupaten Kediri: Menggelar Kirab Budaya sebagai Cara Melestarikan Budaya dan Mengingat Sejarah

Habibaham Anisa Muktiara • Senin, 22 April 2024 | 21:15 WIB
RITUAL : Kades Brumbung Tohari mencipratkan air  ke benda purbakala yang dimiliki pemdes, ketika  berlangsung bersih desa pada 2023 lalu.
RITUAL : Kades Brumbung Tohari mencipratkan air ke benda purbakala yang dimiliki pemdes, ketika berlangsung bersih desa pada 2023 lalu.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Air dari Sumber Beji Diarak hingga Balai Desa Bagi Pemdes Brumbung, peringatan hari jadi desa jadi sarana melestarikan budaya dan sejarah desa. Agar terjaga dari generasi ke generasi. Salah satu wujudnya adalah dengan kirab budaya.

Berada di lereng Gunung Kelud, Desa Brumbung tak hanya kaya akan potensi alam. Juga kaya dengan sejarah dan budaya. Hal itulah yang mendasari kegiatan kirab budaya yang rutin mereka gelar.

“Tradisi ini sudah lama ada. Dan kami adakan lagi sejak 2023 lalu,” terang Juwito, lelaki yang juga juru penjaga Cagar Budaya di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Kirab budaya tersebut digelar dalam rangkaian peringatan hari jadi Desa Brumbung. Yaitu setiap 30 Juli. Meskipun, ada sedikit perbedaan pada tahun berdirinya desa.

“Berdasarkan catatan buku sejarah, Desa Brumbung berdiri pada 1843,” sebutnya.

Namun, bila mengacu pada Prasasti Brumbung, desa ini berdiri pada 1050 saka. Atau bertepatan dengan 1128 masehi.

Menghidupkan lagi kirab budaya bertujuan melestarikan tradisi. Sekaligus untuk menanamkan pengetahuan tentang asal-usul desa. Agar generasi muda selalu ingat kemudian menurunkan lagi ke generasi berikutnya.

Dalam prosesi kirab budaya, pemdesa memanfaatkan 12 sumber air yang mereka miliki. Karena diawali dengan pengambilan air dari patirtan peninggalan Kerajaan Medangkamulan.

“Setelah mengambil air di petirtan, kemudian dilanjutkan mengambil air dari Sumber Beji,” kata laki-laki berusia 41 tahun tersebut.

Setelahitu air dibawa ke balai desa. Kemudian dilanjutkan dengan selamatan dan penuturan tentang sejarah desa. Kegiatan seperti ini disambut antusias warga.

Selainitu, ada ritual lain di Sumber Beji. Berupa siraman dawet. Ritual ini awalnya bertujuan mendatangkan hujan. Karena itu dilakukan ketika musim kemarau.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kabupaten kediri #kirab budaya #sumber air