KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Selopanggung kaya akan wisata alam. Ada air terjun bidadari yang masih alami. Juga, ada Watu Jagul, batu besar yang sering jadi jujukan penghobi sepeda dan seniman jaranan.
Seperti banyak desa di kaki Gunung Wilis, Desa Selopanggung di Kecamatan Semen, memiliki kekayaan alam yang sangat berpotensi jadi destinasi wisata. Selain air terjun Bidadari, juga ada Watu Jagul. Yang terakhir tersebut berada di Dusun Sumberagung yang jadi kisah penting dalam kisah asal-usul desa.
“Watu Jagul dipercaya menjadi asal mula adanya Desa Selopanggung,” cerita Imam, salah seorang warga.
Nama Selopanggung sendiri bila dipecah artinya adalah batu dari kata selo. Kemudian ada panggung yang punya makna tinggi atau tempat pentas. Karena itulah, nama tersebut diyakini juga merujuk pada keberadaan Watu Jagul ini.
Yang menarik, Watu Jagul sering jadi jujukan para seniman jaranan. Mereka percaya ilmu tentang jaranan belum sempurna bila tidak ke tempat ini.
“Sebelum tampil pemain jaranan dan kudanya dibawa ke watu jagul untuk melakukan ritual,” imbuhnya.
Meski diselimuti oleh cerita mistis, namun Watu Jagul menjadi salah satu jujukan wisatawan yang sedang berkunjung di Desa Selopanggung. Bahkan pemerintah desa pernah melakukan perbaikan jalan menuju situs tersebut. “Biasanya Watu Jagul ini sering menjadi rute pesepeda,” ungkap Imam.
Karena sering didatangi wisatawan, Pemerintah Desa Selopanggung pernah melakukan peningkatan akses menuju lokasi. Selain peningkatan fasilitas jalan, juga memberi penerangan jalan.
Dulu Angker, Kini Favorit Pengunjung
Tempat favorit di Desa Selopanggung lain adalah Lembah Peri-Persi. Jalan menuju tempat ini sangat menantang. Berkelok dan menanjak. Bak tubuh seekor ular. Menjadi tantangan tersendiri bagi penyuka olahraga sepeda.
“Tempat ini ramai dikunjungi pesepeda saat hari minggu,” cerita Naryanto salah satu warga.
Naryanto melanjutkan, semula pemerintah Desa Selopanggung menjadikan Lembah Peri-Peri menjadi tempat wisata. Namun belum lama berjalan, pandemi Covid-19 melanda, yang mengharuskan fasilitas ini tutup lagi.
“Sekarang cuma ada warung yang dikelola warga,” imbuhnya.
Setelah pandemi, arus pengunjung datang lagi. Mereka sering datang terutama saat musim hujan. Ketika aliran air di lembah maupun air terjun sedang deras-derasnya.
Lembah Peri-Peri memiliki legenda, bahwa tempat ini pernah didatangi oleh gadis cantik laksana peri. Hanya dia yang berani masuk ke lokasi yang punya kedung sangat dalam dan aliran airnya begitu deras. “Namun setelah masuk ke dalam kedung tersebut, gadis tersebut tidak pernah kembali,” imbuhnya.
Warga sekitar percaya, bahwa peri tersebut yang menjaga lembah tersebut. Hingga pada akhirnya sekitar tahun 1940, terjadi longsor hebat di salah satu titik di Gunung Wilis. Beberapa material gunung hanyut bersama air. Hingga sampai di Lembah Peri-Peri.
“Setelah kejadian itu, warga mulai berani datang ke kedung,” ingat Sumono, 51, yang merupakan warga sekitar.
Warga sekitar mulai melakukan aktivitas di sekitar kedung, mulai mandi hingga mencuci pakaian. Bahkan anak-anak berani untuk mandi disani. Dengan perkembangan zaman, sekarang lokasi kedung peri-peri menjadi salah satu lokasi wisata.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah