Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Brenggolo, Plosoklaten, Kabupaten Kediri: Merenovasi Pasar Desa Peninggalan Era Kolonial agar Berfungsi Maksimal

Habibaham Anisa Muktiara • Senin, 15 April 2024 | 21:03 WIB

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Brenggolo memiliki pasar desa yang menjadi pusat ekonomi warga.  Dengan bangunan yang klasik karena peninggalan era kolonial Belanda. Agar bisa semakin berfungsi maksimal, pemerintah desa melakukan beberapa pembenahan.

“Pasar ini sudah ada sejak zaman Belanda. Dulu adalah kamp militer,” cerita Kepala Desa (Kades) Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten Gianto. 

Bangunan itu lalu dijadikan pasar desa. Dengan komoditas dari pakaian, sembako, hingga hewan ternak.

Gianto mengakui, dari beberapa jenis pedagang itu, yang mulai kekurangan peminat adalah pakaian. Karena tren saat ini beralih ke online shop. Tapi, masih ada yang bertahan dengan melakukan strategi penyesuaian.

Berbeda dengan penjualan hewan ternak, yang selalu ramai. Membuat prospek ke depan sangat menjanjikan. 

“Karena itulah pasar hewan ini saya benahi,” aku sang kades.

Memang, selama kepemimpinannya, pasar hewan beberapa kali mendapatkan sentuhan perbaikan. Demikian pula saat ini, yang tujuannya agar melengkapi fasilitas serta berujung pada peningkatan pendapatan asli desa (PAD).

Pada pengelolaan sebelumnya, PAD dari pasar sebanyak Rp 30 juta per tahun. Setelah Gianto jadi kades, naik menjadi Rp 100 juta per tahun. Hal ini ditopang oleh beberapa perbaikan fasilitas yang kini terus berlangsung.

“Perbaikan sudah saya mulai. Misalnya patok hewan yang semula bambu kini sudah menjadi cor dan besi,” kata laki-laki yang merupakan pensiunan perwira TNI tersebut. 

Selain itu, dia juga akan membuat area parkir di dalam pasar. Tempat parkir ini nanti menggunakan bangunan ruko yang sudah tidak terpakai. Pemdes akan membongkar belasan ruko menjadi ruang parkir yang luas.

Peningkatan fasilitas pasar ini juga untuk faktor keamanan. Sebelumnya sering terjadi pencurian karena aksesnya banyak dan tidak terkontrol. Jalan-jalan alternatif tersebut akan ditutup dan menyisakan jalan utama saja.

Kembangkan Ilmu dari Pelatihan menjadi Usaha

Harapan Pemdes Brenggolo membuat warganya lebih berdaya dari sisi ekonomi melalui pemberian pelatihan akhirnya terwujud. Banyak warga yang mampu membuka lapangan usaha setelah mengikuti pelatihan tersebut. Salah satunya adalah Ratna Dwi Safitri, warga Dusun Klaten yang kini membuka usaha kerajinan tas anyaman.

“Baru berjalan sekitar satu tahun,” terang Ratna.

Awalnya, Ratna mengikuti pelatihan yang berlangsung di balai desa. Setelah itu dia ganti merekrut ibu-ibu yang lain. Yang bersedia akan dia latih. Agar bisa membuat tas anyaman di rumah mereka masing-masing. Dengan bahan baku yang telah disediakan Ratna.

Meskipun demikian, Ratna tak ingin sekadar merekrut orang. Dari dua belas yang ikut, dia seleksi menjadi sembilan. Hal ini untuk memilih yang benar-benar berminat saja.

Model seperti ini mampu menggerakkan ekonomi warga. Mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan. Yang bisa meningkatkan taraf perekonomian.

Saat ini tas anyaman berbahan embo ini sedang ngetren. Pelaku usahanya juga menjamur. Karena itu, agar bisa bertahan di tengah persaingan Ratna melakukan banyak terobosan. Selain membuat warnanya beragam, juga motif-motif baru.  Ratna sangat mementingkan kualitas. Tidak heran jika tas anyamannya banyak diminati. Pemesannya datang hingga dar luar daerah. Selama Ramadan ini misalnya, dia sudah mengerjakan sekitar 250 tas. Bahkan, hingga  Oktober nanti pesanannya sudah penuh.

Harga tas buatan Ratna beragam dan tidak mahal. Mulai Rp 6 ribu hingga dan Rp 15 ribu. Semua bergantung motif. 

“Ke depan saya ingin mengembangkan dengan decoupage,” tandasnya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #desa milenial #jawapos