KEDIRI, JP Radar Kediri- Di bawah kepemimpinan Kades Suhadi, Desa Panjer telah menyelesaikan program pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL). Yang berlangsung dua tahun, 2023 dan 2024. Rencananya sertifikat tanah akan dibagikan secara simbolis oleh Bupati Hanindhito Himawan Pramana.
Selama ini warga Desa Panjer, Kecamatan Plosoklaten mengalami kesulitan mensertifikatkan tanahnya. Selain biaya yang tak murah, juga waktunya yang lama. Karena itu, program PTSL mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
“Saat ada program PSTL masyarakat sangat antusias,” jelas Kepala Desa Panjer Suhadi.
Suhadi membandingkan, biaya mengurus sendiri serfikat bisa mencapai Rp 10 juta. Namun bila melalui PTSL hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 600 ribu.
“Biaya tersebut sesuai dengan keputusan pokmas,” imbuhnya.
Laki-laki berusia 62 tahun ini menjelaskan bahwa pada 2023, jumlah kuotanya sebanyak 517 bidang. Menariknya, realisasinya lebih banyak, yaitu 600 bidang. Yang terdiri dari 581 tanah warga, 18 tanah kas desa, dan 1 tanah wakaf. Lima di antaranya masih dalam proses pengerjaan sertifikat.
Realisasi yang lebih banyak itu karena ada satu bidang yang merupakan tanah waris. Sehingga dibagi ke banyak pihak.
Kemudian pada 2024 jumlahnya sebanyak 29. Yang terdiri dari 15 tanah warga dan 14 tanah kas desa. Karena pengurusan sudah selesai, rencananya sertifikat akan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Hanindhito Himawan Pramana. Hanya saja masih belum ada jadwal pastinya.
“Nantinya penyerahan sertifikat PTSL akan dilakukan menjadi tiga tahapan,” kata Suhadi.
Alasannya, karena ruangan di balai desa tidak terlalu luas. Jika langsung dilakukan dalam satu kali kegiatan, maka akan sesak dan berjubel. Karena itulah akhirnya dibagi dalam tiga tahap penyerahan.
Merawat Sumber agar Tetap Lestari dan Asri
Desa Panjer memiliki dua tempat yang bisa menjadi simbol wilayah. Kebetulan, dua tempat ini juga berdekatan. Yaitu mata air bernama Sumber Kahuripan dan makam leluhur bernama Punden Adipati Panjer. Kedua tempat ini juga sama-sama dinaungi banyak pepohonan rindang yang membuatnya terasa teduh.
Sumber Kahuripan memiliki luas 2.864 meter persegi. Selama ini menjadi sumber untuk pengairan sawah. Menariknya, yang lebih memanfaatkan adalah wilayah persawahan desa lain.
“Yang memanfaatkan air dari sumber ini adalah warga Desa Bangkok,” ujar Kepala Desa (Kades) Panjer Suhadi.
Di bawah kepemimpinan Suhadi, Pemdes Panjer melakukan upaya perawatan. Yang pertama adalah pembuatan bronjong untuk memperkuat tepian kolam sumber. Agar tidak ada tanah yang ambrol. Pemdes meminta bantuan pihak pengairan untuk merealisasikannya.
“Setelah itu kami lanjutkan dengan pemlengsengan, namun tidak keliling. Hanya sebelah barat dan utara bentuknya seperti huruf U,” jlentrehnya.
Setelah itu pemdes melengkapi dengan fasilitas lain. Mulai gazebo, mainan anak, dan membuat akses jalan paving. Jalan ini juga sudah dilengkapi dengan lampu penerangan. Membuat sumber sekarang tak sekadar jadi sarana irigasi namun juga untuk rekreasi.
Khusus akses berupa jalan paving tersebut tak hanya menuju Sumber Kahuripan. Juga sebagai jalan menuju Punden Adipati Panjer.
“Untuk ke depannya akan ditambah wahana permainan anak,” jelas Suhadi.
Demikian pula untuk situs, pemdes akan mengajukan renovasi kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri. Khususnya menambah bangunan joglo untuk istirahat tamu.
Masih ada program lain di 2025 nanti. Yaitu pemlengsengan sungai. Agar kedua tepi sungai tidak tergerus air. Untuk proyek ini anggarannya diambil dari dana desa (DD).
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah