JP Radar Kediri - Tak ada kubah di masjid ini. Gantinya, atap khas rumah joglo. Juga, menara masjid yang tak terlalu tinggi namun mirip dengan candi. Kian menegaskan akulturasi bentuk arsitektur Islam dan Hindu.
Bagi yang pernah mengunjungi Masjid Kudus, yang dibnagun oleh Sunan Kudus, akan merasakan kemiripan menara masjid tersebut dengan yang ada di Masjid Al Barokah, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Bangunannya tidak tinggi, seperti terbagi dalam tiga bagian. Di akhiri atap mirip gunungan di bagian puncaknya.
Menara ini juga memperlihatkan bentuk batu bata sebagai penyusunnya. Tidak ditutup semen melainkan berkonsep bata ekspose. Mirip candi, atau tembok-tembok keraton di era kerajaan.
Memang, menara masjid yang berada di Jalan Siti Inggil sengaja meniru Masjid Kudus di Jawa Tengah.
“Menaranya ya seperti ini, nggak tinggi seperti masjid-masjid di tempat lain,” kata Wakil Takmir Slamet Dagadu, ketika berbincang di emperan masjid.
Masjid Al Barokah ini mengalami transformasi hingga berbentuk seperti sekarang ini pada 2018. Berawal dari keresahan warga karena masjid yang lama tak terlalu luas. Hanya bisa menamping puluhan orang saja.
“Kemudian kami melakukan musyawarah tetapi dana yang terkumpul sekitar Rp 25 juta. Akhirnya ada salah satu warga yang mengusulkan jadi donatur sepenuhnya.
Namun orangnya mau desain bangunannya sesuai keinginannya,” ungkapnya sembari menyebut Yosep Suprianto, nama sang donatur.
Warga setuju. Karena yang mereka inginkan adalah masjid bisa menampung sebanyak-banyaknya warga. Tak terlalu memusingkan desain maupun bentuknya.
“Sekarang bisa menampung hingga 700 jamaah,” kata pria yang akrab disapa Slamet itu.
Tak disangka-sangka, selera sang donatur terbilang unik. Dia menginginkan bangunan seperti Masjid Kudus. Ciri khasnya adalah menara yang mirip dengan candi, perpaduan antara budaya Hindu – Jawa dengan Islam.
Kemudian, bangunan untuk salat berjamaah kental dengan arsitektur Jawa. Untuk mewujudkannya, donatur tersebut menyewa konsultan.
Tembok tersusun dari bata merah. Tanpa finishing atau ditutup semen. Warna bata yang cokelat kemerahan mirip dengan warna pintu dan jendela dari kayu jati. Menjadikan pintu, jendela, dan dinding seperti satu kesatuan.
“Semua kayu jati ini dipesan dari Jepara,” jelasnya dengan menyebut semua proses pemesanan diatur oleh sang donatur.
Dalam hal fasad, masjid ini merupakan rumah joglo. Terbagi dalam dua bangunan yang menyambung jadi satu. Terlihat dari atap yang juga dua dengan bentuk identik.
Penataan ruangan salat sangat menarik.
Sang arsitek mampu menyiasati lahan yang tak mengarah ke kiblat. Ruang utama terdiri dari dua bagian berbentuk segi empat. Keduanya tidak sejajar. Yang depan untuk tempat salat jemaah pria, di belakangnya, yang bergeser ke kanan beberapa meter, tempat jemaah wanita.
“Ini menyesuaikan lahannya,” ujar Slamet.
Yang tak boleh luput dari pandangan mata adalah ornamen pada pintu dan jendela. Penuh dengan ukiran yang sangat detil. Meskipun tak paham maknanya, orang awam akan mengagumi kerumitan ukiran yang terdiri dari lengkung-lengkung kecil bergerigi tersebut.
“Ini juga dipesan dari Jepara. Di bawa ke sini sudah seperti ini (diukir, Red),” jelas Slamet sembari menyebut total pintu masjid itu berjumlah sepuluh buah.
Nyatanya, masjid yang mencoba mengimitasi Majid Kudus ini telah menarik perhatian masyarakat. Beberapa pasangan yang hendak menikah datang untuk melaksanan ijab dan qabul. Hal yang tak pernah dibayangkan oleh warga sebelumnya.
“Kami nggak menerapkan tarif. Siapapun silakan, tetapi biasanya mereka mengisi infaq,” tandasnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah