JP Radar Kediri - Atapnya tak memiliki unsur genting sama sekali. Berhias tiga kubah warna putih nan megah. Empat pohon kurma di halaman masjid menambah kental nuansa Timur Tengah Masjid AsSalam.
Letaknya berada di tepi jalan Papar-Pare. Masuk wilayah Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Wajar bila menjadi favorit para musafir yang ingin salat dan beristirahat setelah melewati perjalanan panjang. Apalagi, rute ini selalu menjadi jalur alternatif bagi para pemudik.
Masjid ini sudah berdiri sejak 1997. Namun, saat itu bangunannya sederhana. Dilengkapi ruang untuk taman pendidikan Alquran (TPQ) serta menara setinggi 25 meter.
Namun, pada 2016, ada dermawan yang menawarkan perombakan total pada masjid itu. Bahkan, dermawan yang beretnis Tionghoa itu menawarkan masjid dibangun menjadi dua lantai.
“Tapi masyarakat menginginkan satu lantai saja,” cerita Tamyis, pria yang juga takmir Masjid AsSalam.
Desain masjid dibuat oleh arsitek Jakarta yang dibawa oleh sang dermawan itu. Sebelumnya, warga dikumpulkan dan disodori gambar. Mereka kemudian ditanya apakah mau model masjid seperti itu, yang diiyakan oleh warga.
Masjid ini sangat kental dengan nuansa Timur Tengah. Bahkan, ada empat pohon kurma yang ditanam di halaman. Pohon khas padang pasir tersebut kini sudah berusia lima tahun.
Yang menarik di bagian menara. Tower setinggi 25 meter ini terbagi dalam empat bagian. Bagian pertama adalah penyangga dengan empat tiang setinggi dua meter yang menopang lantai beton di bagian atas.
Di lantai tersebut kemudian menyambung dengan badan menara berbentuk segi enam. Di atasnya lagi, menara bentuk sama tapi dengan ukuran lebih kecil. Kemudian paling atas puncak menara bertransformasi menjadi segi empat.
Bentuk menara seperti ini sudah sejak dibangun pertama kali pada 1997. Dan tak mengalami perubahan saat masjid direnovasi. Hanya diperindah dengan keramik dinding dan lantainya.
Ciri khas bangunan Timur Tengah juga terlihat di bagian atap. Tak ada genting di bagian ini. Berganti kubah yang punya ornamen lubang-lubang bertutup kaca untuk jalan masuk cahaya matahari.
Kubahnya berjumlah tiga, yang desainnya setengah bola. Warnanya putih bersih, melambangkan kesucian. Di bagian atas dihias ornamen bulan sabit.
Masuk ke dalam,suasana terasa megah dan indah. Ketika mendongak ke atas, terlihat bagian lengkung dalam kubah. Ada lubang bersegi delapan yang menghubungkan bagian atap dengan kubah utama.
Diameter kubah bagian dalam sepanjang 10 meter. Ada jendela kaca di sekelilingnya, yang membantu terjadinya penyinaran langsung sinar matahari. Bagian dalam kubah dipercantik dengan warna cokelat dan hijau. Serta lampu gantung berwarna emas bertuliskan Masjid AsSalam.
“Kalau siang hari kami tidak perlu menyalakan lampu,” sebut pria yang bertempat tinggal di seberang masjid ini.
Masih di bagian dalam, ada empat pilar dari beton bergaya Yunani corak corinthiant. Warnanya keemasan, dipenuhi ornamen di bagian atas atau mahkotanya. Ornamen itu berbentuk daun.
Selain itu, perabotan dan pintu terbuat dari kayu jati. Seperti delapan pintu berukuran 4 x 2 meter serta mimbar tempat khotib berkhutbah. Kayu-kayu itu penuh dengan ukiran.
Editor : Anwar Bahar Basalamah