KEDIRI, JP Radar Kediri - Ketika melihat fasad Masjid Al-Moekti di Desa Mojokerep, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri ini, akan langsung melihat gaya bangunan di Timur Tengah. Berhias kubah dengan empat menara yang menyembul di samping kiri dan kanan.
Model kubahnya juga agak berbeda dengan kebanyakan masjid di Indonesia. Garis lengkungnya tidak menjulang tinggi melebihi garis tengah bundaran. Melainkan landai, bahkan tidak sampai setengah bola. Mirip dengan kubah yang ada di Hagia Sophia, tempat bersejarah di Turki yang beberapa kali berubah fungsi.
Dan, inspirasi masjid ini memang dari Hagia Sophia. Sang kontraktor yang membangun tempat ibadah ini terpesona ketika mengunjungi tempat itu ketika berumrah.
“Jadi beliau ini (Sugiono, Red) takjub ketika berkunjung ke Hagia Sophia,” kata Takmir Masjid Al-Moekti Muhammad Riyadi.
Maka, ketika kembali ke tanah air, Sugiono ingin membangun masjid. Yang desainnya setidaknya meniru bangunan terkenal di Turki yang kini jadi museum tersebut.
Yang paling menonjol adalah kubah masjid yang tidak sampai setengah bola itu. Kubah tersebut awalnya berwarna cokelat muda. Namun, saat ini terlihat hitam karena dilapisi aspal setelah mengalami kebocoran.
Di sebelahnya ada empat menara dengan puncak beratap kerucut. Satu pasang di kanan dan satu pasang di kiri kubah. Masing-masing pasangan berbeda ukuran. Bagian depan pendek, sedangkan yang belakang lebih tinggi. Menara ini dicat berseling warna cokelat tua dan krem.
Di serambi, berdiri sebelas pilar penyangga. Pilar ini mengelilingi bangunan utama dengan fungsi menopang atap dan kubah yang terbuat dari beton. Masing-masing pilar terhubung dengan tembok yang sisi bawahnya dibuat melengkung ke atas. Menambah kesan bangunan bercorak Timur Tengah.
Aroma Timur Tengah juga terasa dari lampu hias antik yang terpasang di dinding luar masjid. Sebagai penghias, ada 13 pot dari semen berukuran besar mengelilingi serambi. Pot tersebut ditanami bonsai kamboja Jepang yang bunganya berwarna merah.
“Pak Sugiono suka bunga kamboja,” terang Riyadi, memberi alasan soal pemilihan bunga tersebut.
Di bagian dalam, juga berkesan luas dan megah. Yang mencolok adalah lampu kristal yang tergantung di langit-langit. Tepat di tengah bangunan. Hanya, lampu ini jarang dinyalakan. Pengurus masjid lebih memilih memfungsikan lampu biasa sebagai penerangan di malam hari. Kecuali pada waktu-waktu tertentu.
Selain itu, ada kesan kuno dengan pemberian perabot berelemen kayu di dalam masjid. Seperti jam lantai berukuran besar yang terbuat dari kayu jati. Jam ini dipesan langsung dari Jepara, Jawa Tengah.
Juga ada mimbar dan lemari penyimpan peralatan masjid. Semuanya juga dari kayu jati.
Selain kayu, juga ada elemen kaca yang menghiasi. Bahkan, mendominasi bagian dinding masjid. Baik di samping dan depan, semua dindingnya berhias kaca. Berada dalam bingkai aluminium berbentuk segi lima berjajar enam yang dipisah pintu di tengah-tengah. Pintu ini juga dari kaca yang berangka kayu.
Ada lima pintu di seluruh masjid. Ukurannya 1 x 1,5 meter. Ada stiker yang menempel berisi kaligrafi.
Banyaknya elemen kaca ini punya maksud. Yaitu agar sinar matahari bisa menerangi hingga ke bagian dalam. Terutama bila siang hari.
“Ini juga untuk mengurangi penggunaan listrik,” terang Riyadi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah