Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Menang, Pagu, Kabupaten Kediri: Desa Budaya yang Lekat dengan Jejak Peninggalan Raja Besar Kerajaan Kediri

Habibaham Anisa Muktiara • Rabu, 3 April 2024 | 17:16 WIB

 

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Menang adalah desa budaya. Di desa ini ada lokasi yang dipercaya sebagai tempat muksa Sri Aji Jayabaya, raja ternama Kerajaan Kediri. Juga, ada pemandian Tirta Kamandanu, yang diyakini bisa membuat awet muda oleh sebagian orang.

Bila ke Desa Menang, Kecamatan Pagu, rugi bila tak mengunjungi petilasan Sri Aji Jayabaya. Tempat ini adalah destinasi wisata religi paling terkenal di desa ini. Menjadi tempat prosesi ketika perayaan Suroan.

“Tempat ini dulu tempat bertapa atau bersemedi Sri Aji Jayabaya,” terang juru kunci petilasan Mbah Suratin.

Sri Aji Jayabaya adalah raja kelima Kerajaan Kediri. Yang terkenal dengan Jangka Jayabaya-nya. Yang dianggap sebagai ramalan yang banyak terbukti saat ini.

Petilasan Sri Aji Jayabaya bukan satu-satunya destinasi wisata religi. Masih ada yang namanya Tirta Kamandanu. Pemandian ini lokasinya sekitar satu kilometer di utara petilasan. Konon, pemandian ini digunakan melukat (mandi dan bersuci) oleh Sang Prabu Sri Aji Jayabaya. Sebelum melakukan Parama Moksa, yakni menghadap Tuhan beserta raganya.

Banyak cerita menarik tentang pengunjung petilasan. Mereka yang berziarah bukan hanya orang awam. Banyak juga para pejabat. Ketika menjelang pemilihan umum, baik legislatif maupun kepala daerah, banyak calon yang berziarah. Berdoa dan meminta hajatnya terkabul. Termasuk pula ketika musim pilkades, hal serupa juga terjadi.

"Biasanya para caleg datang kesini untuk meminta izin berdoa sesuai keyakinan masing-masing,” ucap Mbah Suratin.

Mbah Suratin menambahkan, dia hanya bertugas sebagai perantara atau batu loncatan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa lewat sakral yang ada. “Aku hanya mengizinkan dan memberi salamnya atau ikut mendoakan. Soal tercapai atau tidak tergantung Yang Kuasa,” pungkasnya. 

Awalnya Coba-Coba, Kini Jadi Industri Rumah Tangga

Mata pencaharian warga Desa Menang sangat beragam. Tak hanya menumpuk di sektor pertanian, melainkan juga banyak yang bergelut di usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Seperti yang ditekuni Lastri ini. Perempuan berusia 46 tahun ini aktif sebagai pembuat dan pedagang jamu rempah sejak 2019 silam.

"Awalnya coba-coba, eh terus bertahan hingga sekarang," terang Lastri.

Ketika mengawali terjun sebagai pembuat jamu, dia mengemas produknya secara sederhana. Di botol bekas air minum dalam kemasan (AMDK) berukuran tanggung.

Produk wanita kelahiran 1977 ini ternyata disuka. Dari hanya membuat 20 botol meningkat menjadi 50. Kini, bahkan sudah bisa memproduksi hingga 80 botol. Semuanya dipasarkan sendiri dengan cara berkeliling menaiki sepeda.

Kini, Lastri tak lagi berkeliling. Dia tinggal menunggu konsumen yang datang ke tempatnya. Selain itu, kemasan yang dulu menggunakan botol bekas kini sudah tidak lagi. Berganti dengan kemasan baru lengkap dengan izinnya.

“Minuman jamu saya ini sudah memiliki izin edar berjualan,” kata Lastri.

Minuman jamu buatan mantan karyawan pabrik kerupuk ini ada enam jenis. Mulai dari kencur, temulawak, kunir asem, kunci luntas, kunci suruh, dan jahe. Dari kelimanya, yang paling laku adalah kencur dan kunir asem.

Semua produk Lastri tak menggunakan bahan pengawet dan pemanis buatan. Karena itu usianya hanya tiga hari bila ditempatkan di suhu ruangan. Namun, bila diletakkan di lemari pendingin bisa bertahan tiga minggu.

Lastri juga memanfaatkan momentum Lebaran seperti saat ini. Dia membuat jamu dengan kemasan berbeda. Yaitu dalam cup isi 120 mililiter. Kemasan ini pas untuk hidangan menjamu tamu. Selain itu, dia juga membuat sirup belimbing sebagai varian.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #desa milenial #desa budaya #jawapos