KEDIRI, JP Radar Kediri - Keunikan Masjid Al Hasan Lirboyo langsung terasa di bagian fasadnya. Penampakan muka bangunan itu sama di tiga sisi, depan, samping utara, dan samping selatan. Memiliki teras beratap pelana dengan dua pilar ganda sebagai penyangganya. Teras inilah yang menghubungkan dengan bagian dalam masjid.
Secara keseluruhan, Masjid Al Hasan Lirboyo berarsitektur Jawa. Dengan atas berbentuk limas. Di bagian puncak ada kubah kecil berwarna silver. Ada lafaz Allah dalam tulisan Arab di bagian atas kubah.
Keunikan lain, akan terlihat ketika masuk ke ruang utama masjid. Di bagian dalam ini ada saka guru sebagai ciri khas arsitektur joglo. Yang unik, empat pilar penyangga tersebut bukan tegak lurus. Melainkan miring ke bagian dalam. Sehingga, konfigurasi empat pilar itu membentuk pola limas atau kerucut segi empat.
Selain saka guru yang condong ke dalam itu, ada juga pilar-pilar di bagian pinggir. Pilar dengan ukuran yang lebih kecil ini terpasang tegak lurus hingga ke atap. Pilar-pilar ini juga menyangga lantai yang hanya berada di bagian tepi masjid.
Menurut Ketua Pondok 7 Lirboyo Abdul Mujib Abidin, tidak ada catatan tentang waktu berdirinya masjid. Hanya, saat itu dibangun bersamaan dengan pelaksanaan muktamar NU pada 1999.
“Aula Muktamar Lirboyo itu dulu digunakan untuk kegiatan (muktamar) tahun 1999. Saat itu, masjid itu sudah ada,” terangnya.
Sejak saat itu perwajahan masjid tak pernah mengalami perubahan. Tetap didominasi warna hijau. Demikian pula ornamennya yang tak pernah diganti
Di dalam masjid, bangunan juga didominasi warna hijau. Dipadu-padankan dengan warna emas di setiap hiasan atau motif pada dinding ataupun pilar. Sehingga membuat masjid ini terkesan mewah sekaligus megah.
Berbeda dengan Masjid Lawang Songo yang jadi favorit para santri, Masjid Al Hasan lebih ramai digunakan oleh warga sekitar dan para pengunjung yang hendak berziarah.
“Tetapi kalau Jumatan tetap penuh sampai luar,” terang pria yang akrab disapa Mujib ini.
Lebih jauh, Mujib mengungkapkan akan ada pengembangan untuk masjid Al Hasan. Hal ini mengingat jumlah santri yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Ternyata, niat mengembangkan masjid ini datang dari sang pendiri.
“Saya kurang paham siapa, karena komunikasinya langsung dengan petinggi pondok. Kami hanya melaksanakan,” ujarnya.
Sementara, untuk kapasitas masjid ini bisa menampung sebanyak 2,5 ribu jemaah. Itu jumlah total sudah termasuk yang berada di lantai dua. “Total santri sendiri sudah lebih dari dua puluh ribu orang,” jelasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah