Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus Ramadan: Masjid Miswandoko Purwokerto Ngadiluwih Kediri Terlihat Elegan dengan Sentuhan Jawa

Ayu Ismawati • Senin, 1 April 2024 | 21:34 WIB

 

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Tak semua masjid megah bercorak Timur Tengah. Masjid Miswandoko ini bahkan menghilangkan ornamen kubah. Berganti atap joglo serta menara dan gapura yang bata ekspose.

Masjid ini berada di tengah perkampungan. Tepat di pojokan perempatan jalan di Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Namun gampang ditemukan karena menaranya yang unik. Menara setinggi 19 meter ini seluruh dindingnya dari bata merah. Dengan teknik bata eskpose, tanpa finishing. Sehingga sangat jelas tatanan batu batanya.

Teknik serupa juga ditunjukkan pagar keliling serta gapura masjid. Membuat laksana keraton Jawa zaman dulu. Karena memang penonjolan unsur Jawa sangat diutamakan dalam membangun masjid bernama Masjid Miswandoko ini.

“Kalau kebanyakan masjid kan unsurnya Timur Tengah. Ada kubahnya. Kalau di sini (Miswandoko, Red) semua unsur Jawa. Karena yang membangun dulu ingin menyesuaikan dengan budaya masyarakat sini,” terang Mochamad Sya’roni, pria yang menjabat sebagai ketua takmir. 

Lalu, siapa pembangun masjid ini? Bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang purnawirawan jenderal polisi. Namanya Gatot Eddy Pramono, dengan pangkat terakhir komisaris jenderal. Jabatan tertingginya adalah wakil kepala Polri periode 2020-2023.

Masjid ini mulai dibangun pada 2022. Lokasinya dipilih di Desa Purwokerto karena merupakan kampung halaman mendiang sang istri. Namanya pun diambil dari mertua Gatot, Miswandoko.

“Karena masjid ini didedikasikan untuk keluarga istri beliau, namanya juga diambil dari nama Pak Miswandoko, mertuanya. Kini masjid ini diwakafkan untuk kepentingan warga,” terang Sya’roni.

Kembali ke desain masjid, semuanya mendapat sentuhan budaya Jawa. Kiblat arsitekturnya adalah rumah joglo. Dengan atap dua susun berbentuk kerucut. Di setiap sudut atap terdapat ornamen serupa sirip sebanyak tiga buah.

Pola segitiga sama kaki-yang mirip gunungan dalam wayang-tak hanya ada di desain atap. Ornamen ini juga menempel di pilar-pilar masjid. Menyimbolkan filosofi masyarakat Jawa yang sarat nuansa spiritual.

“Maknanya kan lurus ke Sang Pencipta. Ngadek jejeg dalam menyembah Allah,” sang takmir mengurai makna ornamen-ornamen masjid.

Masjid ini sejatinya terkesan sangat minimalis. Tak banyak hiasan yang menempel di tembok. Namun, hal itu justru mengesankan nuansa elegan. Menonjolkan kesan budaya Jawa yang kental.

Seperti di bagian dalam masjid, ada empat tiang utama sebagai penyangga bagian atap. Yang di arsitektur Jawa dikenal dengan istilah saka guru. Maknanya sebagai kekuatan rumah dari empat penjuru mata angin.

“Semua ornamennya dari kayu, mulai yang di pilar, ukiran, sampai pintu utama dari kayu jati. Yang membuatkan langsung dari Pacitan,” lanjut pria yang akrab disapa Roni itu.

Tampilan fasad yang terkesan minimalis itu terdongkrak dengan pintu utama tepat di tengahnya. Pintu berdaun ganda itu terbuat dari material kayu jati. Lengkap dengan ukiran detail khas Jawa dan kaligrafi di tengahnya.

Sentuhan ornamen berbahan kayu jati di setiap sudut masjid itu justru memberikan kesan hangat dan elegan. Termasuk dengan banyaknya bukaan dari jendela-jendela kaca yang memberi kesan luas dengan pencahayaan yang maksimal di dalam masjid.

Selain itu, di setiap atas jendela kaca juga diberi jendela jalusi kayu yang menjaga sirkulasi udara dalam masjid. Di atasnya lagi, terdapat ornamen dari kayu jati berisi kaligrafi ayat suci.

“Itu isinya bacaan Alquran yang sifatnya pepeling. Seperti ajakan untuk bersedekah, menjalin interaksi yang baik dengan sesama manusia, semangat untuk beribadah, dan lain sebagainya,” lanjut Roni.

Tak hanya diunggulkan dari sisi estetika, fungsi masjid ini juga sangat esensial bagi warga setempat. Roni mengingat kembali saat sebelum ada masjid di lingkungan tempat tinggalnya. Warga dari tiga lingkungan rukun tetangga (RT) hanya bisa beribadah di satu musala kecil di lingkungan tersebut.

“Karena kalau ke masjid jauh semua. Bahkan kalau waktu salat Ied dulu kan pasti ramai. Sampai saya pasang terpal di pinggir kali untuk jemaah. Ya nggak layak memang,” tandasnya.

Dengan hadirnya masjid wakaf itu sejak setahun lalu, kini warga setempat sudah memiliki masjid sendiri. Semua orang yang sekarang bisa beribadah di sana juga didukung oleh fasilitas masjid. Terdapat jalur khusus pengguna kursi roda. Termasuk di tempat perwuduan yang juga didesain agar bisa aksesibel bagi jemaah tunadaksa.

“Istilahnya apa yang diharapkan warga sekitar sini terkabulkan lewat masjid ini,” pungkasnya. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #masjid kuno #ramadan #jawapos