KEDIRI, JP Radar Kediri- Usianya lebih dari satu abad. Wajar jika banyak bagian yang mengalami renovasi dan berubah bentuk. Namun, ada bagian yangbtetap dipertahankan hingga kini.
Tidak ada catatan pasti kapan Masjid Taqwa, yang berada di Kelurahan/Kecamatan Pare, pertama kali dibangun. Namun dari berbagai versi, usianya bisa dipastikan 100 tahun lebih.
Meskipun sudah tua, masjid ini tetap mempertahankan beberapa bagian awal. Salah satunya adalah empat pilar-biasa disebut saka guru-masjid yang berada tepat di tengah bangunan utama.
“Empat pilar dari kayu jati itu sudah ada sejak ratusan tahun. Antara tahun 1850 sampai 1900-an,” terang Mohammad Nasikin, takmir Masjid Taqwa.
Pilar yang di bagian bawahnya terdapat ukiran itu menjadi penanda betapa kecilnya masjid itu dahulu. Bahkan, hanya berukuran 5x5 meter persegi. Jauh lebih kecil bila dibandingkan bangunan masjid saat ini.
Perubahan ukuran itu karena sejak 1990-an, masjid direnovasi total. Bangunannya dipertinggi dan diperluas. Meskipun direnovasi, ada beberapa bagian yang tak diubah. Selain empat pilar itu, ada bagian mihrab yang juga tetap seperti pertama kali dibuat.
Secara umum, bangunan masjid menerapkan konsep arsitektur rumah joglo. Terlihat di bagian atap. Total ada lima prisma segi empat yang terpasang. Satu yang paling besar berada di tengah-tengah. Sedangkan empat lainnya di setiap ujung masjid.
Gaya rumah joglo juga terlihat dari banyaknya ornamen kayu di bagian dalam masjid. Seperti empat pintu dan dua jendela yang berada di bagin depan. Semua pintu dan jendela itu juga diukir. Memperkental ciri khas rumah joglo.
“Konsepnya memang rumah joglo. Karena memang di tahun tersebut sedang ngetren,” sambungnya.
Agar masih terlihat seperti masjid, ada ornamen khas yang dibuat di bagian dalam. Seperti tembok yang bersiluet kubah masjid. Siluet-siluet tersebut dibuat di antara tiap pilar. Dan, total ada 14 pilar yang berdiri menopang tempat ibadah ini.
“Ke-14 pilar itu bangunan baru. Siluet itu selain untuk estetika juga agar terlihat kalau bangunan ini masjid,” terangnya.
Nasikin menjelaskan jika masjid ini memiliki dua tingkat. Namun tingkat kedua hanya dibangun di bagian tepi. Fungsinya adalah untuk menampung jemaah yang kerap membeludak. Khusus untuk tingkat kedua tersebut hanya digunakan bagi jemaah perempuan.
“Karena kadang di tempat ini sering membeludak. Terutama saat salat Id,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah