Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus Ramadan: Masjid Wakaf Jamsaren Kota Kediri sejak 1908 Tak Pernah Membongkar Bangunan Utama

Emilia Susanti • Senin, 1 April 2024 | 16:48 WIB

 

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Bangunan tua yang diperkirakan dibangun pada 1908 ini telah mengalami perbaikan dan pengembangan. Namun tak pernah mengubah bentuk bangunan asli. Sebab, sang pemberi wakaf pernah berpesan agar jangan pernah membongkar bangunan aslinya.

Menemukan keberadaan Masjid Wakaf Jamsaren ini bisa dibilang susah-susah gampang. Lokasinya, sebenarnya, berada di tengah keramaian. Namun, justru itu yang membutuhkan kejelian bagi si pencari. Meskipun telah memanfaatkan pertolongan fasilitas maps di internet.

Masjid ini berada di dalam gang di Jalan HOS Cokroaminoto. Sangat dekat dengan Pasar Pahing. Jadi, meskipun ada gapura bertuliskan Masjid Wakaf Jamsaren tapi seperti tenggelam dalam deretan ruko-ruko yang ada di sekitarnya.

Namun, bila sudah memasuki gang tersebut, hiruk-pikuk dan keramaian pasar seperti sirna. Suasana menjadi lebih tenang. Keramaian orang bertransaksi seakan terserap oleh atmosfir tempat ibadah yang berusia sangat tua ini.

Nama masjid ini menjelaskan tentang sebagian riwayat berdirinya. Kata wakaf menegaskan bahwa bangunan ini berdiri di atas tanah wakaf. Sementara Jamsaren jelas merujuk pada alamat berdirinya masjid yang masuk wilayah Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Kota, Kota Kediri.

“Pendirinya Mbah Kiai Abdul Latief,” ucap Mochammad Zubaid Ansori, 59, yang juga cicit dari sang pendiri, yang juga merupakan anggota takmir masjid.

Pria yang karib disapa Moch ini menyebut tak ada catatan terkait dengan sejarah bangunan masjid ini. Mulai dari siapa arsiteknya hingga berapa lama masjid ini dibangun. Yang dia tahu, ketika dia lahir, pada 1965, bangunan itu sudah ada. Dan bentuknya tak mengalami perubahan sama sekali.

“Hanya pengembangan aja. Tidak boleh diubah, itu pesan Mbah Kiai dulu,” terangnya saat ditemui di emperan masjid.

Pesan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, masjid ini merupakan wakaf. Apapun yang dilakukan, harus serba hati-hati. 

Untuk membuktikan bangunan utama itu tidak berubah, dia pun menunjuk jendela-jendela masjid. Katanya, jendela yang terbuat dari kayu itu asli sejak pertama masjid dibangun. Begitupun pintu-pintunya. Kemudian, dia juga menunjukkan empat tiang penyangga utama atau saka guru-nya.

“Ini juga tidak berubah, dari dulu ada empat tiang dari kayu. Tapi ini ada pengembangan, ada penambahan kayu lagi (mengeliling tiang utama) di bagian luar. Supaya lebih kokoh,” jelasnya sembari menekankan bahwa komponen masjid yang asli tak pernah diganti.

Begitupun dengan langit-langit masjid. Masih terbuat dari anyaman bambu. Atau biasa disebut gedek. Meski sudah melebihi satu abad, plafon tersebut masih terawat dengan baik.

“Ya kalau bocor kami tambal, nggak langsung diganti. Kalau penambahannya ya diberi lis (kayu di pinggiran plafon, Red),” lanjut Moch.

Yang paling menarik dari masjid ini adalah pilar pada bagian luar. Totalnya lebih dari dua puluh batang. Semuanya berbentuk bulat, seperti tabung. 

Jika diperhatikan, barisan pilar bagian dalam membentuk segi delapan. Kemudian, di luarnya masih ada barisan pilar lagi yang mengelilingi. Di luarnya lagi, juga masih ada barisan pilar yang ketiga. Jika ditotal, terdapat lebih dari dua puluh pilar.

Antara pilar satu dengan yang lain juga tersambung. Dihubungkan dengan ornamen berbentuk lengkung. Membuat masjid ini tampak seperti ciri bangunan-bangunan di Timur Tengah. Tetapi untuk bagian atapnya, bangunan masjid bagian dalam ini seolah mengadopsi arsitektur Jawa. Pasalnya, ada empat tiang yang menjadi ciri khas dari bangunan joglo.

“Saya lahir sudah seperti itu. Saya juga nggak tahu idenya datang dari mana. Yang pasti, masjid ini dulu dibangun oleh warga, dananya juga dari infaq,” jelas cucu dari anak bungsu sang pendiri masjid.

Kemudian, masjid ini mengalami pengembangan tempat salat. Yakni di sebelah kanan dan kiri dari bangunan utama. Pembangunannya dilakukan pada 2000-an. Itu dilihat dari ukiran penanda bangunan itu dibuat, bertuliskan angka 1423 Hijriyah.

Hal lain yang menunjukkan masjid ini tua ialah masih dipertahankannya jam matahari, penunjuk waktu masjid-masjid zaman dulu. Benda berbentuk kotak yang tingginya tak sampai satu meter. Kemudian pada bagian atasnya tertancap batang yang mencuat sekitar 10 – 15 sentimeter. Fungsinya, sebagai penunjuk waktu. Cara kerjanya, dengan melihat bayangan yang dihasilkan batang tersebut setelah terkena sinar matahari.

“Kalau masjid tua pasti ada ini (jam matahari, Red),” tekan Moch.

Terakhir, untuk mempertahankan bangunan masjid ini, para pengurus melakukan perawatan rutin. Setiap bulan rajab, biasanya dilakukan pengecatan ulang masjid.

“Ya ganti-ganti. Kadang krem, terus kembali ke putih, terus krem lagi, ya begitu saja. Kalau warna aslinya dulu putih,” urainya. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #masjid kuno #lipsus #jawapos