KEDIRI, JP Radar Kediri - Bila melihat Masjid An-Nur Kapurejo saat ini, berarti juga melihat bangunan yang sama pada seratus tahun lalu ketika pertama kali dibangun. Sebab, desain tempat ibadah ini tetap dipertahankan sejak generasi pertama pendiri. Tidak ada yang berani mengubahnya hingga saat ini.
Desain lama itu mulai dari kubah yang merepresentasikan rasa toleransi serta hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kubah kecil yang berada di puncak atap limasan itu dicat warna hijau, mirip dengan warna kubah di Masjid Nabawi.
“Rasulullah menyukai warna hijau,” ujar Pengasuh Ponpes Salafiyah Kapurejo, Desa Pagu, Kecamatan Pagu Agus Muchyidin. Pondok ini memang berada di komplek pondok pesantren tersebut. Merupakan tempat ibadah utama para penghundi ponpes.
Kubah itu memang puncak dari atap masjid yang bermodel limas dengan empat sisi. Ditutup dengan genting dari tanah liat. Sementara penopang atap sudah berganti beton. Semula, balok dan kolom itu dari kayu jati. Namun, terpaksa diganti beton karena sudah lapuk pada 1995 silam.
“Dulu penyangga atap terbuat dari kayu jati. Karena termakan usia harus diganti,” jelas pria yang biasa disapa Gus Uyik ini.
Berada di dalam ruang utama masjid, suasananya terasa lega dan lapang. Salah satu faktornya adalah tidak adanya langit-langit di bawah atap. Konsep ini memang dibuat agar ruang masjid terasa luas.
Nuansa kuno terasa pada lantai yang masih menggunakan ubin tegel. Ukurannya satu jengkal, berwarna krem kecokelatan. Ubin ini usianya juga sudah seratusan tahun. Atau sama dengan usia masjid.
Sebenarnya, ada yang sempat ingin mengubah lantai dengan batu granit. Namun oleh pengelola masjid ditolak. Karena mereka ingin mempertahankan ubin tegel yang sudah tua tersebut.
“Ada orang Jakarta yang ingin mengganti lantai masjid menjadi granit. Setelah kami rapat, kami menolaknya,” akunya.
Bagian dindingnya, keseluruhan berwarna putih. Mencerminkan kesucian tempat ibadah. Di dinding ini ada 58 rongga yang bagian atasnya melengkung. Banyaknya lengkungan inilah yang membuat masjid ini juga disebut Masjid Lengkungan sewu. Menariknya, meskipun bukan pintu namun rongga ini bisa menjadi akses keluar masuk masjid. Sekaligus simbol bahwa masjid terbuka bagi siapapun. Dan tidak pernah tutup.
“Siapapun boleh masuk masjid untuk beribadah dan beristirahat,” jelas generasi keempat dari pendiri ponpes ini.
Masjid ini hanya memiliki satu pintu. Baik kusen maupun daun pintunya terbuat dari kayu jati berukir Jepara dengan motif daun trubus. Dilengkapi pegangan luar berupa cincin yang terbuat dari besi. Sementera di bagian dalam ada gerendel besar yang terbikin dari kayu.
Pintu ini dilengkapi jendela di kanan kirinya. Juga terbuat dari kayu jati berukir khas Jepara.
Ruangan dalam masjid bisa menampung sekitar 30 jemaah. Luasnya 8 menter x 15 meter. Mihrabnya kecil, berukuran 2 x 2 meter. Terkesan sangat sederhana. Hanya dikelilingi tembok polos. Sedangkan tempat khotib berkhotbah bukan berupa mimbar. Melainkan hanya kursi untuk duduk dilengkapi tongkat yang biasa dipegang khotib waktu khotbah Jumat.
Ada lagi yang kuno. Yaitu bedug di serambi masjid. Usianya sudah seratus tahun lebih. Terbuat dari kayu mahoni dengan garis tengah hampir satu meter. Tergantung di balok kayu dengan menggunakan tali dari kulit sapi.
“Tali itu dari kulit sapi yang sudah dikeringkan kemudian dipilin,” terang pria berusia 47 tahun ini.
Namun, karena usianya sudah tua, bedug ini hanya sebagai pajangan saja. Sedangkan yang digunakan untuk penanda waktu salat disediakan bedug baru dengan ukuran lebih kecil.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah