Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus Ramadan: Masjid Ringinagung Kepung Kediri yang Berusia Seabad dan Pertahankan Bangunan Awal

Karen Wibi • Rabu, 20 Maret 2024 | 17:57 WIB

 

caption

KEDIRI, JP Radar Kediri- Masjid Ringinagung sudah berusia lebih dari seabad. Hebatnya, bangunan awal tetap dipertahankan hingga kini. Termasuk cara berwudu yang langsung di kolam air.

Tidak ada catatan khusus tentang berdirinya Masjid Ringinagung yang berada di Desa Keling, Kecamatan Kepung ini. Wajar bila kemudian tidak ada yang tahu pasti berapa usianya. Hanya berdasarkan cerita dari keturunan Imam Nawasi, sang pembangun masjid. Serta sedikit tambahan cerita dari masyarakat sekitar.

“Masjid ini dulu dibangun antara tahun 1825 hingga 1870,” terang Rofi’i Lukman. Lelaki ini adalah pengasuh di Pondok Pesantren (Ponpes) Mahir Arriyadl Ringinagung, yang merupakan keturunan Imam Nawawi.

Ya, Masjid Ringinagung memang berada di area ponpes yang biasa disebut dengan Ponpes Ringinagung. Dulu, pada 1825, Imam Nawawi datang ke Desa Keling. Tujuannya adalah untuk mbabat alas dan juga ingin mendirikan pusat pembelajaran agama Islam di Kediri bagian timur.

Sejak dibangun  tidak banyak yang berubah dari arsitektur masjid. Hanya penambahan serambi yang berada di bagian depan masjid. Tujuannya agar dapat menampung lebih banyak jemaah yang akan melaksanakan salat di tempat ini.

Sementara bagian utama masjid tak banyak tersentuh perubahan. Masjid dengan arsitektur rumah joglo itu tetap terlihat seperti dulu. Mulai dari atap masjid yang berbentuk kerucut hingga bangunan di bawahnya.

Keaslian terlihat dari saka guru atau  empat tiang penyangga utama. Pilar ini terbuat dari kayu jati. Bentuknya persegi dengan sisi masing-masing 20 sentimeter  itu tak pernah diutak-atik.

Begitu juga dengan delapan jendela di bagian dalam. Yang letaknya ada tiga di masing-masing kiri dan kanan. Kemudian di kiri dan kanan pintu masuk ada satu. Jendela ini berbentuk persegi panjang dengan tambahan ornamen setengah lingkaran di bagian atas.

“Semuanya masih sama seperti dulu, hanya dipugar secara minor. Seperti dicat ulang,” tambah Rofi’i.

Keaslian masjid juga dapat dilihat dari kentongan dan bedug. Kedua benda itu berada di bagian utara masjid. Berada di tempat khusus yang luasnya hanya sekitar empat meter persegi. Diposisikan dengan cara digantung. Tingginya mencapai sekitar 180 sentimeter. Sedangkan bedug yang memiliki diameter sekitar 150 centimeter itu ditempatkan di sebelah barat dari kentongan.

Namun ada yang lebih unik dari Masjid Ringinagung. Yaitu tempat wudu untuk jemaah laki-laki. Lokasi tempat wudu tersebut berada di sisi selatan masjid. Namun masih berada di satu bangunan yang sama.

Jemaah yang akan wudu tidak akan menemukan keran air. Alih-alih menggunakan keran, para jemaah harus langsung berwudu di kolam yang memiliki ukuran 2x3 meter.

Meskipun demikian para jemaah tidak usah khawatir air akan menjadi kotor. Karena kolam tersebut memiliki sumber air di bawahnya. Karena itu air akan terus mengalir. Ditambah ada saluran untuk pembuangan air yang sudah kotor.

“Nanti setiap beberapa hari sekali kolam dari sumber tersebut akan dibersihkan. Jadi air tetap suci,” sambungnya.

Selain bangunan masjid, di area yang sama, ada beberapa bangunan bersejarah lain. Seperti makan Imam Nawawi dan keturunannya yang berada di sebelah barat masjid. Juga ada tempat tinggal Imam Nawawi selama hidup yang berada di barat laut dari bangunan masjid. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #masjid kuno #ramadan #jawapos