Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus Ramadan: Masjid Al-Manshur Campurejo Kota Kediri Tampilkan Akulturasi Jawa-Oriental

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 18 Maret 2024 | 16:47 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Tak Berkonsep, Masjid Al-Manshur Justru Tampilkan Akulturasi Budaya Jawa – OrientalDari Gambar Sederhana Jadi Masjid Indah Penuh Ukiran.

Bila melihat sekilas, banyak yang mengira masjid ini dibangun dengan konsep arsitektur yang matang. Memadukan gaya oriental dan Jawa. Ternyata, justru masjid ini dibangun tanpa memiliki konsep arsitektur sama sekali.

Mungkin, tak banyak yang tahu keberadaan masjid ini. Berada di Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Masjid Al-Manshur tersembunyi di tengah permukiman warga. Harus melewati gang-gang kecil untuk menujunya.

Tapi, bentuknya terkesan istimewa. Seakan menjadi akulturasi dua budaya, Jawa dan Tionghoa. Unsur Jawa terlihat dari material kayu yang jadi penyusunnya serta tempelan-tempelan ornamen khas tempo dulu. Sementara unsur orientalnya terlihat dari atap masjid.

Ya, atap masjid ini mirip dengan bangunan berarsitektur Tiongkok. Memiliki kemiringan ekstrem di keempat sisinya. Menyatukan atap pelana di dua sisi berlawanan. Atap bertumpuk ini biasa disebut atap pinggul dan pelana Asia Timur.

Tapi, anggapan itu ditolak oleh Wakil Ketua Takmir Masjid Al-Manshur Suharno.  

“Kalau ditanya arsiteknya siapa ya ngga ada. Tanpa arsitek tanpa konsep,” jelas Suharno.

Banyak hal menarik dalam  proses pembangunannya. Seperti gambar awal yang hanya masjid sederhana. Kemudian, mendapat banyak kemudahan selama prosesnya. Seperti banyak donatur yang memberi material bangunan. Padahal pihak panitia tak pernah mencari-cari donatur.

Terlepas dari itu semua, masjid ini punya bentuk yang khas. Banyak materialnya yang dari kayu jati yang semuanya berukir.

Ukiran sudah terpandang mata ketika memasuki serambi. Yaitu di pintu masuk utama, jendela, dan langit-langit masjid. Lebih-lebih bila masuk ke ruang utama masjid, sejauh mata memandang akan bertemu ukiran di kayu jati yang sangat detil.

Bagian mihrab masjid dihiasi ukiran kayu jati dengan menampilkan kaligrafi syahadat. Di setiap sisi tembok dalam ada ukiran kayu yang dihiasi asmaul husna dengan warna cokelat khas kayu. Bagian dalam masjid juga memiliki aksesoris berupa lampu gantung besar yang berada di tengah. Serta mimbar masjid-yang juga dari kayu jati-dipenuhi dengan ukiran pula. Demikian pula di bagian langit-langit, semuanya dari kayu dengan elemen ukiran di bagian tengah.

Bagian atapnya berbentuk limas susun dua. Dilengkapi genting yang dicat warna merah maron. Pada bagian ujung atap terdapat bentuk melengkung khas bangunan oriental, dihiasi empat kubah kecil di sekelilingnya.Dindingnya, tersusun dari batu  bata tanpa finishing. Hanya dipernis sehingga memunculkan kesan mengkilap.

Dinding ini memiliki tiga pintu sebagai akses masuk. Setiap pintunya memiliki ukiran kuno yang indah.Selain pintu, ada 12 jendela yang dimiliki masjid ini. Pinggirannya terdapat ukiran yang dipadu kaca dengan ornamen bercorak biru emas.

Selain itu, masih ada jendela dengan pinggiran ukiran kayu dan kaca dengan ornament corak biru dan emas.Kesan oriental dan Jawa kian melekat dengan adanya 25 pilar kayu. Terbagi 13 di bagian luar dan 12 di bagian dalam. Yang di bagian luar setiap pilar tertempel lampu kecil dengan nuansa Jawa klasik

Hawa di ruangan utama, yang ukurannya ‘hanya’ 7x7 meter ini, sangat sejuk. Ada empat kipas angin yang terpasang di dinding. Namun, sangat jarang digunakan.Mungkin, yang agak kurang adalah keberadaan bedug dan ketongan. Dua bagian yang tak terpisahkan dari masjid dengan konsep klasik itu tak dimiliki Masjid Al-Manshur ini.

“Mungkin setelah ini ada yang menyumbang bedug dan kentongan,” ucap sang wakil takmir.

Yang juga patus diapresiasi adalah, sejak masjid ini berdiri dan dipakai salat Jumat, selalu ada hidangan setiap Jumat. Berupa makanan ringan hingga yang berat. Tergantung anggaran yang ada di masjid ini.

“Tinggal lihat uangnya, kadang-kadang nasi ayam geprek, nasi dengan sayur. Kalau anggarannya kecil ya mungkin hanya roti dengan minuman,” terangnya. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #berkonsep jawa kuno #jawapos #masjid