Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Janti, Papar, Kabupaten Kediri: Kenduri di Punden Sugihwaras, Wujuh Penghormatan Penyebaran Islam

Habibaham Anisa Muktiara • Kamis, 14 Maret 2024 | 18:18 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Ada yang rutin dilakukan Pemdes Janti dan warganya setiap Jumat Pon. Mereka menggelar kenduri atau selamatan di salah satu punden yang ada, yaitu Punden Sugihwaras di Dusun Janti.

Tujuan kenduri ini terutama untuk menunjukkan rasa syukur. Selain itu, juga mendoakan sosok yang dimakamkan di punden yang merupakan penyebar Islam di desa ini.

“Punden ini adalah makam Hasan Muladi, prajurit Pangeran Diponegoro yang lolos dari kejaran Belanda. Kemudian babat alas dan  menyebarkan agama Islam di tempat ini,” terang Kepala Desa Janti Didik Sujatmiko.

Sebagai penghormatan karena menjadi pembuka tanah desa, Pemdes dan warga Janti rutin menggelar selamatan. Waktunya setiap Jumat di hari pasaran PON. Atau, berlangsung lima pekan sekali.

Selain itu, juga di setiap Suro, warga menggelar kenduri serupa di punden ini. Bedanya, bila waktu Suroan itu, disertai dengan pementasan pagelaran wayang kulit. Kesenian ini dipilih untuk dipentaskan karena terkait anggapan bahwa Desa Janti setiap tahun harus ‘gantung’. Nah, salah satu alat musik di pentas wayang ada yang menggantung.

Sementara, selain Punden Sugihwaras, ada dua punden lagi di Desa Janti. Yaitu punden Mbah Randu Kuning dan Punden Mbah Ronggo. Dua punden tersebut juga berlokasi di Dusun Janti.

Setiap punden tersebut memiliki cerita masing-masing.  Punden Mbah Randu Kuning untuk mendoakan wayang. Sedangkan Punden Mbah Ronggo adalah makam orang yang pertama kali menjadi kepala desa.

 

Gelar Pelatihan, dari Menjahit hingga Basmi Gulma

Banyak upaya yang dilakukan Pemdes Janti untuk memberdayakan warganya. Termasuk menggelar pelatihan setiap tahun. Dengan materi yang menyesuaikan kebutuhan warga.

Tahun ini, pelatihan mengusung materi yang terkait dengan pertanian. Yaitu tentang cara memberantas gulma atau tanaman pengganggu di persawahan.

Terkait pemilihan materi pelatihan tentang pemberantasan gulma, ini terkait dengan masalah yang mendera warga, terutama petani. Seringkali hasil panen tak maksimal karena gangguan gulma tersebut.

Baca Juga: Liputan Khusus Ramadhan: Masjid An-Nur Pare yang Tak Ingin Kehilangan Nuansa Jawa

“Ada warga yang sama sekali tidak panen gara-gara gulma ini. Dia terpaksa mengulang tanam lagi,” terang Kades Didik Sujatmiko.

Memang, Desa Janti memiliki lahan pertanian yang lebih luas dibandingkan dengan permukimannya. Mencapai 176 hektare dengan mayoritas lahan padi dan jagung. Sebagian yang lain ada yang menanam sayuran dan tebu.

Laki-laki kelahiran 1967 ini mengatakan setidaknya ada sepuluh petani yang lahannya ditumbuhi gulma. Meskipun tak sampai membuat gagal panen namun sudah pasti mengurangi produktivitas.

“Saya sendiri juga mengalaminya, masak rumput ini tingginya melebihi tanaman padinya,” cerita Didik.

Didik memiliki lahan seluas dua hektare. Bila tak diganggu gulma bisa menghasilkan satu ton padi. Namun bila ditumbuhi gulma, dia hanya bisa mendapatkan setengahnya saja.

Pelatihan pembasmian gulma ini nanti bekerjasam dengan Dinas Pertanian Kabupaten Kediri. Harapannya, petani desa bisa mengendalikan gulma yang tumbuh di lahan pertanian.

Sementara itu, untuk pelatihan tahun 2023 lalu topik yang diambil ini adalah menjahit. Mereka yang melakukan pelatihan menjahit adalah ibu-ibu PKK. Dari pelatihan tersebut bahkan ada yang membuka usaha jahit.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#budaya #kesenian #wayang #Profil Desa