Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Minggiran, Papar, Kabupaten Kediri: Program Desa Siaga untuk Siapkan Generasi Berkualitas

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 12 Maret 2024 | 20:16 WIB

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Padangan punya kekhasan terkait hasil pertanian. Mereka tak hanya menghasilkan padi, juga bengkuang. Bahkan, telah mampu membuka pasar hingga luar daerah.

Desa Padangan, Kecamatan Kayenkidul identik dengan bengkuang. Nyaris 90 persen warga yang petani menanam komoditas ini di lahan mereka. Terutama setelah tuntasnya musim tanam padi.

“Biasanya mulai bulan ketujuh (Juli, Red) hingga sembilan (September, Red),” kata Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kasi Kesra) Desa Padangan Mochammad Sundur.

Di antara sembilan dusun yang ada di desa ini, dua di antaranya merupakan pusat petani bengkuang. Yaitu Dusun Tangkilanlor dan Tangkilankidul. Dengan kualitas buah yang sangat bagus. Berukuran besar, hingga lima kilogram per buah.

Banyaknya petani yang menekuni penanaman bengkuang tak terlepas dari harganya yang bagus. Setidaknya bila dibandingkan dengan harga padi. Dalam 100 ru (1 ru setara 14 meter persegi) petani bisa menghasilkan bengkuang senilai Rp 30 juta.

Meskipun, Sundur mengakui, harga tidak selalu seperti itu. Kadang, bila di waktu panen raya, harganya turun. Sementara bila di luar panen raya harga akan tinggi.

Sundur, yang juga salah satu petani bengkuang, mengatakan bahwa potensi tanaman ini sangat tinggi. Pasarnya masih terbuka luas. Hasil panen dari Desa Padangan sudah dipasarkan hingga luar pulau.

Terkait melimpahnya hasil panen bengkuang ini, Pemdes Padangan, melalui dusun, rutin  menggelar sedekah bumi. Yang bentuknya membuat tumpeng dari buah bengkuang. Tumpeng ini akan diarak bersama tumpeng lainnya ketika berlangsung acara tersebut.

“Kegiatan ini sudah berjalan empat tahun lamanya,” terang sang kasi kesra. 

 

Limbah Tahu Bisa Jadi Pakan Ternak

Selain bertani, sebagian warga Desa Padangan juga ada yang berkecimpung di industri kecil pembuatan tahu. Salah satunya adalah Sugeng Ansori. Lelaki 57 tahun ini menjalankan usahanya itu sejak 2007 silam.

“Tapi usaha pembuatan tahunya sudah sejak lama, didirikan oleh orang tua. Mulai saya teruskan di tahun itu (2007, Red),” terang Sugeng, yang ditemui di sela-sela proses produksi tahunya.

Pabrik tahu milik Sugeng ini sudah menggeliat sejak pagi, pukul 07.00. Dalam sehari bisa melakukan proses pembuatan sebanyak 15 kali. Dengan kebutuhan bahan baku sebanyak 15 kilogram kedelai setiap kali produksi.

Proses produksi di tempat ini tak sepenuhnya tradisional. Peralatan penggilingan sudah menggunakan tenaga listrik.

Untuk pemasaran, Sugeng bekerja sama dengan delapan pedagang. Mereka tak hanya datang dari Desa Padangan, juga warga desa lain.

Menariknya, Sugeng juga menerima orderan pembuatan tahu. Biayanya juga murah. Namun, dengan catatan limbah berupa ampas kedelainya tak boleh dibawa. Harus diberikan kepada Sugeng.

Dari limbah pembuatan tahu ini Sugeng memiliki usaha lain berupa penjualan pakan ternak. Hasilnya juga sangat bagus. Setiap bulan bisa meraup penghasilan mencapai Rp 5 juta. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #generasi #berkualitas #jawapos