KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Jambu mengusung konsep wisata yang berbeda dari desa lain. Menonjolkan agrowisata tanaman buah alpukat. Selain merasakan petik langsung, pengunjung mendapatkan edukasi tentang buah tersebut.
Nama Desa Jambu, Kecamatan Kayenkidul, relatif dikenal di masyarakat Kabupaten Kediri dan sekitarnya. Bahkan, juga di berbagai penjuru Nusantara. Ini tak lepas dari akun Youtube desa ini yang memiliki banyak penonton. Yang mengetengahkan cerita tentang agrowisata di desa ini.
Konsep agro-wisata untuk pengembangan desa wisata sudah dilakukan sejak 2015. Dimulai dengan upaya budi daya tanaman buah kelengkeng.
Setelah itu, buah yang ditanam mengalami penambahan. Yaitu tanaman alpukat. “Saat itu jenisnya alpukat aligator,” terang Kepala Desa (Kades) Jambu Agus Joko Susilo.
Seiring berjalannya waktu, jenis alpukat yang ditanam di Desa Wisata Jambu bertambah. Kini mencapai 57 jenis alpukat. Sebagian besar ditanam di lahan wisata dengan luasan satu setengah hektare. Selain itu juga di halaman rumah warga.
“Salah satu kegiatan di tempat wisata ini adalah petik buah,” imbuhnya.
Karena melibatkan masyarakat, lokasi wisata petik buah tak hanya di lahan khusus wisata. Juga di halaman rumah warga yang memiliki tanaman ini. Nuansa yang dirasakan pun lebih natural.
Hal itu juga ditopang jumlah warga yang banyak menanam alpukat. Lebih dari 20 persen dari total kepala keluarga. Sehingga lebih memunculkan daya tarik bagi wisatawan.
Lebih menarik lagi, ada nilai edukasi dalam wisata petik buah ini. Yaitu penjelasan detil tentang alpukat dari pemandu wisata. Penjelasan tersebut terkait cara budi daya sekaligus mempraktikkan menanam alpukat.
“Ada juga yang melakukan studi banding. Kebanyakan dari instansi pemerintah,” ungkap Agus.
Selain wisata petik buah, warga juga menyediakan buah untuk dibeli langsung. Untuk yang dijual ini tak hanya alpukat, tapi juga durian dan kelengkeng.
Keberagaman yang Memunculkan Kebersamaan
Desa Jambu menjadi salah satu desa yang punya keragaman agama di antara warganya. Ada yang memeluk agama Islam, Kristen, dan Hindu. Meskipun dengan agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, tidak membuat kehidupan mereka terpecah-belah. Justru semakin merekatkan hubungan antar-warga.
“Kerukunan umat beragama di desa ini sangat bagus,” ucap Kades Jambu Agus Joko Susilo.
Contohnya ketika menjelang perayaan Hari Raya Nyepi seperti saat ini. Masyarakat yang beragama Hindu pun mulai menyambut dengan, salah satunya, membuag ogoh-ogoh. Yaitu boneka raksasa dengan wujud menyeramkan yang akan diarak sehari menjelang Nyepi. Lokasi arak-arakan biasanya melintasi Bundaran Patung Garuda di Pare. Sebelum itu juga diarak keliling desa.
Yang patut dicontoh adalah soal kebersamaan. Warga non-Hindu pun membantu pembuatan ogoh-ogoh tersebut.
“Pembuatan ogoh-ogoh ini dibantu oleh masyarakat yang beragama Islam dan Kristen,” imbuhnya.
Tahun ini jumlah ogoh-ogoh yang akan dibuat mencapai puluhan. Pembuatannya di beberapa rumah warga. Dengan rata-rata ukuran setinggi satu meter.
Pada tahun ini perayaaan Nyepi bertepatan dengan awal Puasa Ramadan. Karena itu, setelah warga non-Hindu membantu pembuatan ogoh-ogoh, sebaliknya warga non-Muslim juga ikut bekerja bakti. Membersihkan lingkungan menjelang datangnya bulan suci bagi umat Islam tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah