KEDIRI, JP Radar Kediri - Lokasi mata air ini cukup berdekatan dengan lingkungan masyarakat. Bahkan, mata air yang dijuluki Sumber Kawitan ini berada tepat di samping jalan antardesa.
Di ujung salah satu jalan menikung itulah terdapat anak-anak tangga menurun menuju kawasan mata air. Begitu menuruni anak tangga, suara gemericik air langsung terdengar dari sela rumpun bambu. Mata air ini memang dikelilingi rimbunan pohon bambu.
Meski berada di antara pohon-pohon bambu, mata air ini masih nampak bersih dan terawat. Kawasan sumbernya diberi bangunan pengaman di sekelilingnya. Saluran airnya masih alami. Namun cukup bersih dan lancar alirannya. Bisa dibilang, mata air ini relatif terawat.
“Karena setiap hari masih dipakai orang-orang. Untuk nyuci baju biasanya,” ujar Marsunik, warga setempat.
Perempuan berusia 60 tahun itu termasuk salah satu warga yang masih sering mencuci pakaian di Sumber Kawitan. Warga yang sering mencuci pakaian di sanalah yang juga merawat dan membersihkan kawasan mata air.
“Apalagi kalau musim kemarau gitu semakin banyak yang mencuci baju ke sumber. Karena biasanya sumur orang-orang juga berkurang airnya. Makanya larinya ke sumber,” ungkapnya.
Sayang, debit air sumber kini justru berkurang. Bahkan saat musim hujan mulai datang, ketinggian airnya tak seperti dulu. “Biasanya bisa lebih tinggi dari sekarang. Bisa sampai peres (sejajar dinding mata air, Red). Kalau ini nggak sampai selutut,” tandasnya.
Tradisi masyarakat mencuci pakaian di mata air itu menurutnya tidak mengenal waktu. Mulai pagi hingga sore menjadi waktu bebas bagi warga untuk beraktivitas di sana.
“Kalau saya biasanya pagi setelah masak. Karena kalau siang kan panas, capek naik turun tangganya,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah