KEDIRI, JP Radar Kediri - Sungai kecil, selebar sekitar dua meter, itu berada tepat di belakang Kantor Kelurahan Pakunden. Biasanya sepi-sepi saja. Hanya dilewati warga yang kebetulan melintas.
Tapi, Minggu (18/2) itu berbeda. Tepi sungai, yang langsung bersambung dengan jalan gang kecil, penuh sesak oleh manusia. Mereka berbondong-bondong mendatangi sungai yang biasa disebut kali isor pring itu. Melewati jalanan gang yang lebarnya juga tak lebih dari dua meter.
Sebagian yang datang membawa perahu mini, yang panjangnya hanya setengah meter. Perahu-perahu mainan inilah yang akan disertakan dalam lomba yang digelar oleh warga.
“Acara ini spontanitas. Sebagai upaya menciptakan sungai bersih,” ucap Suyudi, yang menjadi ketua panita kegiatan tersebut.
Ada dua lomba yang dilangsungkan. Pertama, balap perahu mainan. Yang kedua, kontes perahu terbaik. Tentu saja, yang dikonteskan juga perahu miniatur alias mainan.
Meskipun hanya perahu mainan, antusiasme warga sangatlah tinggi. Yang berpartisipasi melewati angka seratus orang! Padahal, sejak digagas hingga pelaksanaan waktunya cuma tiga minggu.
Paling seru tentu saja lomba balap perahu. Karena tak ada nakhodanya, dan perahu mainan itu tak bermesin, teknis lomba sangat sederhana. Perahu peserta diletakkan di permukaan air. Kemudian dibiarkan mengikuti aliran sungai. Yang sampai garis finis pertama kali menjadi pemenangnya.
Kalau lintasannya, boleh disebut panjang untuk ukuran balap perahu mainan. Sepanjang 500 meter. Selama berlayar, pemilik perahu itu tak boleh cawe-cawe. Terbalik atau tenggelam ya harus dibiarkan.
“Kalau nyangkut nggak boleh dibenerin. Pokoknya harus ikutin aliran sungai,” ujar Topik Budiyanto, salah satu panitia.
Hebatnya, meski hanya perahu mainan, para peserta tak membuatnya secara asal-asalan. Mereka tetap serius menghadapi lomba. Mempersiapkan perahu dengan sungguh-sungguh.
Mawar Andika misalnya. Pria 38 tahun ini anaknya menjadi salah satu peserta. Dia pun bolak-balik mengetes perahu buatannya di air sungai. Mengecek apakah sudah seimbang atau belum. Lalu, bila bila ditambahi aksesoris apakah masih bisa hanyut?
“Saya buat sekitar tiga hari. Cara membuatnya nanya-nanya ke teman dan lihat Youtube,” terang sang pemilik perahu yang menjadi pemenang dalam lomba itu.
Baginya, keikutsertaannya untuk memeriahkan acara. Tak ada niat memenangkan perlombaan. Yang mengikuti lomba pun atas nama anaknya.
“Ya ada deg-degan. Nggak nyangka menang,” ungkapnya.
Kegiatan warga Pakunden itu patut dicontoh. Semua warga begitu ceria. Semua perhatian mengarah pada lomba balap perahu. Seharian itu anak-anak seperti lupa pada gawainya.
Selain balap perahu, satu lagi adalah kontes desain perahu terbaik. Juara pertama jatuh kepada Bramantyo Putra Kurnia,13. Dia masih duduk di bangku kelas 6 SD.
“Yang bikin ayah saya. Nggak ada persiapan, tiba-tiba,” katanya sembari menyebut dirinya dan sang ayah terlebih dahulu mengetes perahu tersebut sehari sebelum lomba.
Karena memang tujuannya untuk kampanye sungai bersih, lomba bukanlah tujuan utama. Maka, pemenang dan peserta, semuanya mendapat hadiah. Suyudi tak menyebutkan apa hadiahnya. Menurutnya, yang terpenting semua warga senang dan gembira.
“Mudah-mudahan ini bisa menyambung terus, teman yang belum bisa ikut nantinya bisa ikut. Mudah-mudahan ini memberi manfaat yang luar biasa,” harapnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah