KEDIRI, JP Radar Kediri - Sirojul Abid pusing tujuh keliling. Warga Dusun Sugihwaras, Desa Kuwik, Kecamatan Kunjang ini gemas melihat ulah tikus-tikus yang merusak lahan pertaniannya. Berbagai cara sudah dia lakukan. Toh, tak ada satupun yang manjur.
"Saya buat jebakan, beri racun, tapi tetap saja ada (tikusnya)," gerutunya kesal.
Hingga suatu saat, dia bertemu seorang kawan. Sirojul disarankan menaruh ular di sawahnya. Ide itu, di benaknya, sangat masuk akal. Namun dia tak berani melakukannya. Sebab, pengetahuannya tentang hewan melata itu tak ada sama sekali. Dia takut upayanya menghilangkan hama justru berbahaya bagi orang lain.
“Ya bener hama tikus (mungkin) bisa hilang. Tapi kalau berbahaya bagi petaninya kan ya sama saja,” ucap pria 24 tahun ini.
Karena penasaran, dia pun mulai mempelajari segala hal tentang ular. Kebetulan ada temannya yang kuliah di Bojonegoro bergabung dengan Exalos-komunitas penyelamat ular dan tawon-wilayah Jawa Timur. Akhirnya, keduanya-bersama dengan empat orang lain-mendirikan Exalos Sektir Kediri pada 2020.
“Tepat saat (pandemi) korona. Diklatnya di Situs Dalem Pojok," terangnya.
Mendirikan Exalos, sebenarnya, bukan semata-mata demi membasmi hama tikus dengan ular. Namun, juga karena Sirojul merasa desanya itu jauh dari fasilitas kesehatan. Nah, bila ada yang tergigit ular akan sulit menolong karena jarak tempuh ke fasilitas kesehatan butuh 15 menit.
“Kalau penyebaran racun itu kan sekitar 10 menit, jadi bisa terlambat,” dalihnya.
Di Exalos Sirojul mendalami pengetahuan tentang ular. Terutama cara menangani korban yang tergigit ular berbisa. Setidaknya, bagaimana cara memperlambat penyebaran racun.
“Selain itu juga biar bisa menangkap bila adar ular yang masuk di rumah warga,” sebutnya.
Setelah mengikuti diklat, Sirojul pun berubah. Dari yang dulu takut memegang kini sudah berani menangkapi. Terutama bila diminta bantuan tetangga.
Paling penting, dia tahu harus melepas ular jenis apa di sawah. Yang bisa memakan tikus tapi tak melukai orang. Sejak itu populasi hama hewan pengerat itu turun drastis.
Exalos-yang sebenarnya kependekan dari Exotic Animals Lovers-tak hanya berusaha menyelamatkan manusia dari gangguan ular. Tapi, komunitas ini juga mempertimbangkan keselamatan ular dan keseimbangan ekosistem. Ular yang ditangkap tak disimpan atau dipelihara. Tapi langsung dilepas ke alam liar untuk menjaga populasi.
"Paling lama disimpan dua minggu, menunggu ada panggilan untuk kegiatan edukasi atau tidak. Bila tidak, ya dilepas di alam liar," terang Sirojul.
Tidak hanya mengevakuasi ular, Exalos juga embantu warga memindahkan tawong bila terindikasi membahayakan. Nah, untuk yang satu ini ternyata jauh lebih berbahaya dibandingkan mengevakuasi ular. Penyebabnya, mereka tak punya perlengkapan yang memadai. Hanya seadanya karena uang memang didapat dari swadaya.
Misal, untuk baju yang dipakai mengevakuasi tawon adalah jas hujan karet. Bila tidak ada, kadang memakai jaket yang tebal. Penutup kepalanya helm atau caping yang diberi jaring untuk menutupi bagian kepala hingga leher.
"Setidaknya lebih terlindungi. Tapi karena sangat sederhana yang tetap kurang aman. Jadi memang taruhannya kalau gak opname, ya mati," ucapnya sembari tersenyum.
Kini, komunitas ini sudah memiliki 30-an anggota. Semuanya telah mendapatkan pengetahuan tentang ular. Mulai jenis hingga penanganan bila tergigit. Para anggota yang memiliki sertifikat juga banyak mendapat tawaran kerja. Mulai jadi penjaga kebun binatang hingga pawang hewan.
"Saya kemarin ditawari jerha di kebun binatang Pekalongan, syaratnya hanya pakai sertifikat Exalos saja, " akunya bangga.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah