Tahun ini Pemerintah Desa Turus melakukan terobosan besar. Membuat badan usaha milik desa (bumdes). Tujuannya, mewadahi kepentingan warga yang berkecimpung di peternakan dan pertanian.
Namanya Bumdes Joyo Guno. Unit usahanya pun ada dua, unit perternakan dan unit pertanian. Tak tanggung-tanggung, bumdes tersebut akan segera didaftarkan agar memiliki legalitas secara hukum.
"Tujuannya dibentuk bumdes untuk memfasilitasi UMKM yang kami miliki," terang Kades Turus Bui Santoso.
Unit usaha yang dibentuk nanti akan selalu menjadi tempat warga beraktivitas ekonomi. Selain mendirikan warung desa untuk UMKM< juga membeli hasil panen atau ternak. Terutama yang menjadi bahan baku makanan yang dijual di warung desa.
Warung desa ini dibangun di tanah kas seluas sekitar tiga per empat hektare. Atau, sekitar 500 ru. Berada di seberang kantor Desa Turus.
Meskipun baru buka tahun ini namun persiapan sudah terjadi sejak 2019. Dimulai dengan penanaman beberapa jenis buah-buahan. Mulai dari jambu, kelengkeng, dan mangga. Sebagian tanaman buah itu sudah bisa dipanen.
“Kemudian mulai membangun gedung pada 2021,” imbuhnya.
Gedung tersebut berukuran 15 x 15 meter. Pembangunannya menggunakan dana desa (DD) sebesar Rp 122.938.000. Yang dikerjakan oleh tim pelaksana kegiatan. Rencananya, akan kelar tahun ini.
Tugas dua unit itu jelas berbeda. Unit peternakan tugasnya membantu peternak untuk menjualk ternaknya. Sebab selama ini peternak di Desa Turus menjualnya ke tengkulak. Harga yang didapat pun kurang menguntungkan. Bila melalui bumdes maka harga tetap memprioritaskan pada keuntungan peternak.
Sedangkan untuk pertanian, akan membantu petani menjual hasil panen. Terutama produk unggulan warga desa, yaitu cabai, jagung, dan tebu.
Bangun TPS 3R untuk Kelola Sampah
Seperti desa-desa lain, Pemdes Turus juga harus berjibaku menyelesaikan problem sampah. Karena itu mereka membentuk tempat pembuangan sampah sementara (TPS) reuse, reduce, dan recycle (3R). Di tempat ini sampah yang terlihat tak berguna masih bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama.
"TPS 3R ini dibangun pada 2922 dan selesai tahun lalu," jelas Kades Budi Santoso sambil menyebut dana pembangunan berasal dari dana bantuan keuangan khusus dari Pemkab Kediri.
Meskipun sudah beroperasi sejak Februari 2023, belum banyak yang menjadi anggotanya. Hingga saat ini baru 100 kepala keluarga yang mendaftarkan diri, membuang sampah di TPS 3R.
“Yang menjadi kendala, banyak masyarakat masih merasa memiliki lahan untuk digunakan membuang sampah,” akunya.
Pemdes pun gencar melakukan sosialisasi. Sebab, bila tetap membuang di lahan pekarangan, lama-lama akan penuh. Pada akhirnya warga kebingungan.
Sementara pengambilan sampah oleh petugas TPS 3R berlangsung setiap hari. Warga tinggal membayar Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Sampah yang dapat di daur ulang dijual. Sedangkan yang tidak bisa akan dibuang ke TPA.
“Untuk membantu biaya operasional, pengelolaan TPS 3R bekerjasama dengan desa lain dan beberapa instansi,” ungkap kepala desa dua periode ini.
Desa yang diajak kerja sama itu adalah Desa Gabru. Sedangkan yang dari lembaga adalah pondok pesantren yang ada di desa ini. Kerja sama dengan desa lain bertujuan agar warga mereka tidak membuang sampah sembarangan. Terutama di wilayah Desa Turus.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah