JP Radar Kediri - Modal mereka adalah solidaritas dan saling berbagi ilmu. Merintis jalan menciptakan lahan pertanian kurma di Kediri. Dan, keuntungan yang mereka dapatkan ternyata menggiurkan.
Budhi Utami memegang gunting di tangan kanannya. Sementara, tangan satunya memegang tangkai menjuntai yang penuh dengan bulatan-bulatan lonjong berwarna kuning keemasan. Wanita ini bersiap menggunting salah satu tangkai dari pohon kurma yang ada di depannya.
“Ayo, semuanya (baca) bismillah dulu,” ucapnya, setengah berteriak. Ajakan itu segera diikuti oleh sekumpulan orang yang ada di sekitarnya.
Teriknya sang surya di siang itu tak mengurangi antusiasme orang-orang tersebut. Mereka ini adalah anggota Komunitas Kurma Kediri. Yang tengah melakukan panen perdana buah kurma yang mereka budi dayakan sejak 2021.
Perasaan anggota komunitas ini tentu saja sangat gembira. Hasil jerih payah mereka menanam belasan pohon kurma di area persawahan Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu terbayar. Penantian selama hampir tiga tahun itu terwujud saat itu. Yang ditandai dengan panen untuk pertama kalinya.
Komunitas ini dengan berani bereksperimen membudidayakan tanaman khas padang pasir ini di Kediri. Bahkan, upaya mereka itu seperti tidak masuk akal. Karena berada di antara lahan cabai, tebu, dan sayuran.
“Ternyata iklim di Kediri memungkinkan untuk berkebun kurma,” ucap Arifin. Lelaki 65 tahun ini adalah pemilik tanah seluas 140 ru (satu ru setara 14 meter persegi) yang dijadikan lahan budi daya itu.
Selain itu, ketahanan tanaman kurma terhadap perubahan cuaca di Kediri juga sangat tinggi. Serupa dengan spesies yang se-family seperti kelapa dan palem.
“Hanya wawung (belalang tanduk, Red) yang masih jadi hama. Lainnya relatif mudah,” terang sang pemilik lahan di Dusun Kunir.
Sembari melihat-lihat tangkai kurma yang lebat itu, Arifin meneruskan ceritanya. Saat memulai dia hanya perlu menyiapkan media tanam dengan baik. Menggali lubang sedalam satu meter. Memberinya kompos, kemudian difermentasi.
“Kalau sulit itu sebenarnya relatif. Anggap saja seperti cabai. Kalau tanamannya sudah keriting itu juga sulit mengatasinya,” ucap lelaki yang juga anggota Komunitas Kurma Kediri ini, membesarkan hati mereka yang berniat ikut menanam.
Kusmadi, anggota lain, ikut nimbrung. Menurutnya, menanam kurma justru berpotensi mensejahterakan petani. Apalagi di zaman yang kian menyeret sektor pertanian ke arah kapitalisme ini. Yang membuat petani tak lagi memiliki daya ketika menentukan harga. Mereka lebih sering menjadi objek penderita dari permainan tengkulak atau perantara. Hal ini berbeda dengan tanaman kurma yang relatif stabil harganya setiap tahun.
“Seperti cabai misalnya, kalau sudah habis (usia pohon) harus tanam lagi. Tebu juga tebang dan tanam lagi. Sedangkan kalau kurma, kan, begitu tanam makin lama makin besar hasilnya,” urai pria asal Kabupaten Tulungagung ini.
Alasan-alasan itulah yang mendorong komunitas ini bergerak merintis pertanian kurma di Kediri. Berawal pada 2019 dengan menyemai terlebih dulu biji kurma. Kemudian, pada 2021, memulai menanam di beberapa tempat. Tak hanya di Kabupaten Kediri tapi juga di seluruh Jawa Timur.
“Untuk jenisnya memang masih kurma ruthob,” lanjutnya.
Kusmadi mengakui, dalam usia tiga tahun itu buah kurma rothob itu belum bisa maksimal. Toh, bisa panen hanya dalam waktu tiga tahun adalah pencapaian besar. Sangat luar biasa. Apalagi bila melihat tinggi pohon yang baru 2-3 meter itu buahnya sudah lebat bergerombol.
Soal pemasaran, pria ini menyebut kurma rothob mereka sangat bisa bersaing. Apalagi, mereka menjualnya masih dalam keadaan segar. Tidak seperti yang dijual di supermarket yang sudah melewati proses pematangan maksimal.
Memang, rasanya tak semanis kurma yang banyak ditemui di pasaran. Kurma ruthob berciri khas rasa sepat dan manis dengan tekstur seperti buah kesemek muda yang renyah. Namun demikian, nutrisinya dipercaya jauh lebih tinggi dibanding kurma olahan.
“Di Indonesia memang ada kekurangan nggak bisa kurma tamr (kurma matang yang ada di pasaran, Red), tapi justru harganya akan lebih tinggi,” timpal Yaqin, anggota yang lain.
Harga yang tinggi itu juga menjadi faktor penggiur bagi para petani kurma. Dalam sekali panen keuntungan bisa mencapai Rp 2,5 juta. Sebab, harga kurma ruthob saat ini bisa mencapai Rp 350 ribu per kilogram.
“Orang-orang menengah ke atas yang dicari biasanya adalah fresh food. Buah segar. Kalau yang sudah matang, atau tamr, secara nutrisi sudah turun. Sehingga harganya juga lebih murah,” tandasnya terkait pasar kurma ruthob yang memang masih belum seluas kurma tamr.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah