KEDIRI, JP Radar Kediri - Desa Kerkep punya potensi terpendam di sektor wisata alam. Yaitu keberadaan Sumber Sirah yang memikat. Yang setiap tahun mampu menyumbang pendapatan asli desa.
Keberadaan sumber air ini memang sudah lama. Namun, Pemerintah Desa (Pemdes) Kerkep, Kecamatan Gurah, baru memanfaatkannya selama tiga tahun terakhir. Menjadi tempat wisata bernama Sumber Sirah.
Tempat wisata ini dikelola oleh badan usaha milik desa (bumdes). Menjadi salah satu unit usahanya. Hasilnya juga menggembirakan.
“Selama tiga tahun mengelola tempat wisata tersebut, alhamdulillah setiap tahun omset mengalami kenaikan. Kemarin omset terakhir mencapai Rp 215 juta,” jelas Kepala Desa Kerkep Bondhan Wijokangko.
Menurut Bondhan, bumdes baru beroperasi 2019. Awalnya hanya bergerak di bidang jasa pembuatan kaos sablon yang bekerja sama dengan karang taruna. Namun, unit usaha ini mengalami penurunan selama pandemi.
Setelah itu bumdes mengembangkan ke unit wisata. Ini merupakan usulan dari warga desa. Yang ingin mengangkat potensi alam yang dimiliki.
Sebelum jadi tempat wisata, Sumber Sirah hanya peruntukannya hanya untuk pengairan sawah. Setelah itu muncul usulan agar dilakukan normalisasi. Kemudian disiapkan menjadi destinasi wisata desa.
“Alhamdulillah pada 2019 kami lakukan normalisasi, menambahkan wahana wisata berupa kolam renang,” kata Bodhan.
Pandemi juga sempat menutup operasional tempat wisata ini. Tapi buka kembali pada 2021. Pemdes pun berusaha memperkuat dengan menambah beberapa fasilitas. Mulai dari tempat kuliner hingga outbond.
Khusus outbond, ada tim sendiri yang mengelolanya. Terdiri dari anggota karang taruna, perangkat desa, dan ibu-ibu PKK.
Menariknya, paket outbond tak dipatok permanen. Menyesuaikan anggaran yang dimiliki peserta. Ini untuk fleksibilitas agar yang dananya cekak masih bisa memanfaatkan fasilitas ini.
Urai Masalah Sampah, Bangun TPS 3R Untuk Mengelola Sampah
Masalah sampah menjadi problem klasik di semua desa. Tak terkecuali di Desa Kerkep. Karena itu, pemerintah desa (pemdes) setempat berinisiatif membangun fasilitas tempat pembuangan sampah sementara (TPS) dengan sistem re-use, re-duce, dan re-cycling (3R).
"Kami memiliki fasilitas ini sejak tiga tahun lalu," terang Kades Kerkep Bondhan Wijongkangko.
Sebelum ada TPS 3R, warga memanfaatkan pekarangan untuk membuang sampah. Sebagian lagi bahkan ada yang membuang di tepi jalan atau saluran irigasi. Hal ini membuat wajah desa menjadi kotor dan kumuh. Serta, menyebabkan luapan air bila musim penghujan.
Setelah mendirikan TPS 3R, pemdes kemudian merekrut tiga orang sebagai tenaga kerja. Dua orang bagian pengambilan dan satu lagi untuk pemilahan.
Warga menyambut baik kehadiran TPS 3R. Apalagi mereka pula yang mengusulkan. Karena itu, setiap tahun warga yang berlangganan membuang sampah selalu bertambah. Bila dipersentase, jumlahnya mencapai 70 persen lebih.
“Warga bisa meminta petugas kami mengambil sampah dari rumah atau mengantar sendiri ke TPS," terang Bondhan.
Bila diambil, warga dikenakan biaya Rp 15 ribu sebulan. Sedangkan bila disetor hanya Rp 7.500. Biasanya, pengambilan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari.
Sampah yang terkumpul akan dipilah. Yang bisa didaur ulang akan dijual kembali. Sedangkan yang tidak bisa dijual dikumpulkan dan dibakar. Ke depan, pemdes merencanakan membuat pengolahan sampah organik.
Hanya saja, masalahnya lahan masih terbatas. Karena itu, bila dijadikan satu dengan pemilahan sampah plastik pemdes takut akan tercampur. Karena itu, mereka kini tengah mencari cara agar TPS 3R bisa berfungsi maksimal.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah