KEDIRI, JP Radar Kediri - Ketika harga jeruk anjlok, Pemdes Bulusari justru punya ide cemerlang. Memasarkan langsung melalui wisata petik jeruk. Sekaligus menjadi ajang promosi wisata desa.
Awalnya saat panen raya jeruk. Harganya ternyata terus menurun. Membuat Pemerintah Desa (Pemdes) Bulusari, Kecamatan Tarokan mencari jalan agar membantu warganya yang punya lahan jeruk. Caranya, membuat model pemasaran dengan petik langsung dari pohon.
“Ketika di upload di media sosial responnya bagus. Pengunjung tidak hanya dari Kediri juga dari luar kota,” jelas Kepala Desa (Kades) Bulusari Agus Utomo.
Melihat antusiasme wisatawan tinggi, beberapa lahan jeruk menggunakan sistem seperti itu. Khususnya ketika tiba waktu panen. “Pengunjung ini masuk dapat makan gratis buah jeruk sepuasnya,” ujarnya.
Tapi, tentu saja ada persyaratannya. Pengunjung harus memetik dengan cara manual. tak boleh pakai alat. Mengonsumsinya pun dengan langsung dikupas. Tak boleh memakai alat seperti diperas misalnya.
Syarat yang utama adalah pengunjung terlebih dulu harus membeli sebanyak 3 kilogram. Dengan harga saat ini dipatok Rp 15 ribu per kilogramnya.
“Dengan harga tersebut selain menguntungkan bagi pengunjung, namun juga petani jeruk,” kata laki-laki 47 tahun ini.
Wisata petik jeruk ini sudah berjalan dua tahun. Pemdes dan para petani berusaha agar kontinuitas bisa terjaga. Agar wisata petik jeruk ini bisa bertahan hingga bertahun-tahun lagi. Terutama menjaga produktivitas tanaman jeruk. Seperti memberi perangsang agar cepat berbunga dan melakukan regenerasi pohon. Mengganti pohon tua dengan yang baru.
Lokasi petik buah ini seluas tujuh hektare berada di Dusun Sela dan Sawur, yang dekat dengan bandara. Jumlah pohonnya saat ini mencapai 500 batang jeruk Pontianak.
Pemdes juga terus meningkatkan kualitas tempat wisata ini. Dengan menambah beberapa fasilitas penunjang seperti gazebo.
Wisata petik buah jeruk ini biasanya ramai pengunjung setiap Sabtu dan Minggu. Terkadang beberapa instansi dari pemerintahan, atau sekolah melakukan gathering di tempat ini.
Memoles Air Terjun yang Tak Terurus
Pemdes Bulusari tidak hanya menggiatkan wisata petik buah jeruk saja. Mereka juga menggarap wisata alam lain. Kali ini, memoles air terjun yang selama ini tidak terkelola. Air terjun di Dusun Sumberboto ini bernama Coban Jodo.
"Sebelumnya ya sudah jadi jujukan untuk rekreasi, tapi tidak ada yang mengelola," terang Kades Bulusari Agus Utomo.
Saat ini, Coban Jodo sudah banyak didatangi pengunjung. Meskipun demikian, tempat wisata ini masih dalam proses pengembangan fasilitas. Terutama akses menuju lokasi yang akan ditingkatkan kualitasnya. Proyek berupa pelebaran jalan dan pembuatan plengsengan ini sebagian menggunakan anggaran dari dana desa (DD).
“Jalan menuju ke coban ini sempit. kemarin kita melakukan tahap pelebaran,” jelasnya.
Dulunya, jalan menuju tempat wisata ini hanya selebar empat meter. Setelah dilebarkan menjadi delapan meter. Dengan lebar seperti itu bisa digunakan dua mobil berpapasan.
Menurutnya, pelebaran jalan sangat penting. Agar mempermudah mencapai Coban Jodo. Apalagi lokasi air terjun ini tergolong sedikit terasing.
“Berada di ketinggian 200 mdpl,” kata Agus.
Pembuatan jalan ini sudah berlangsung sejak 2023. Tahun ini dilanjutkan yang di area wisata.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah