KEDIRI, JP Radar Kediri - Misti berjalan santai usai menyalurkan hak pilihnya. Beranjak dari bilik suara, wanita 58 tahun ini kemudian memasukkan surat suara ke kotak. Setelah itu menuju pintu samping rumah yang digunakan sebagai Tempat Pemungutan Suara (TPS) 003 Desa Maesan, Kecamatan Mojo itu. Berjalan keluar, sembari mengenakan sandal yang tadi dia lepaskan ketika masuk ke TPS.
Tapi, Misti tak langsung pulang. Dia lebih dulu mendatangi rak yang berisi sayur-sayuran. Sempat melihat-lihat beberapa saat, tangannya kemudian menjumput satu paket sayuran yang terbungkus plastik bening.
“Saya ambil sop-sopan buat dimasak,” ucapnya, sesaat sebelum meninggalkan lokasi.
Ya, suasana coblosan di TPS itu memang sedikit berbeda dibanding yang lain. Tak ada tenda yang terpasang karena memanfaatkan rumah kosong milik warga. Juga, ada bungkusan-bungkusan berisi sayuran yang, sebagian, bergelantungan di satu pohon. Bungkusan sayuran lainnya ditata rapi di rak bertingkat.
Sayuran itu boleh diambil oleh setiap warga yang telah menggunakan hak pilihnya. Tapi, hanya boleh mengambil satu bungkus saja, tak boleh lebih.
“Ini tadi ada sekitar 230-an bungkus. Insya Allah sesuai prediksi 95 persen semua pencoblos dapat,” terang Ketua KPPS Achmad Edy Purwanto.
Dia menjelaskan ide awal muncul lantaran ada sisa anggaran. Pria yang akrab disapa Pur itu mengatakan bahwa di TPS tersebut tak menyewa tenda. Sehingga, sisa anggaran itu dialokasikan untuk membeli sayur-mayur.
“Daripada sisanya kami ambil sendiri mending kami bagi kembali ke masyarakat,” katanya sembari menyebut ide tersebut sudah disepakati oleh anggota KPPS.
Kenapa sayur-mayur? Pur menjawab bahwa banyak warga desa yang suka memasak sayur. Selain itu, juga harga yang mudah dijangkau. Dengan uang sekitar Rp 250 ribu, sudah bisa mendapat banyak bahan sayur.
“Kemudian, oleh teman-teman KPPS malamnya dibungkus sendiri-sendiri terus dicantol-cantol (digantung, Red),” jelasnya.
Beda lagi dengan TPS 002 di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare. Di TPS ini suasananya terlihat sangat kental nuansa Jawa-nya. Di pintu masuknya berhias gapura berbahan bambu dengan atap ijuk. Dindingnya ditutup banner bermotif batu bata yang membuat kesan kuno.
Tak hanya itu saja, ada pula back drop besar bergambar rumah adat Jawa di belakang deretan bilik suara. Juga, ada seperangkat gamelan yang ditempatkan di dekat kotak suara.
Suasana adat Jawa kian kental dengan dress code yang dikenakan anggota KPPS. Yang laki-laki berbaju lurik lengkap dengan blangkonnya. Sementara yang wanita berkebaya.
“Konsep ini dipilih bukan hanya untuk menarik minat warga, tapi juga mengedukasi generasi Z yang mulai luntur pengetahuan tentang budaya Jawa,” terang Ketua KPPS TPS 002 Rossy Andriyanto.
Alunan gending juga mengalun menemani para pemilih. Namun, bukan berasal dari perangkat gamelan yang ada. Melainkan dari seperangkat sound system.
“Sebenarnya gamelan itu akan dimainkan langsung. Namun ada anggota keluarga dari pengrawit (pemain gamelan, Red) yang meninggal. Sehingga tidak jadi,” terang Rossy.
Tapi, nuansa Jawa itu bukan satu-satunya daya tarik bagi pemilih di TPS ini. Ada juga undian dengan hadiah aneka peralatan dapur. Juga, ada kursi pijat elektrik yang bisa dimanfaatkan para pemilih. Baik yang sedang antre menunggu giliran ataupun yang sudah selesai menyalurkan hak pilih. Termasuk pula fasilitas cek kesehatan gratis dan makanan dan minuman laiknya angkringan.
“Intinya agar warga tertarik datang untuk nyoblos,” dalih Rossy.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah