Banjir selalu datang ke Desa Jati setiap kali musim penghujan. Berbagai upaya dilakukan pemerintah desa, salah satunya melakukan normalisasi sungai. Meskipun, belum sepenuhnya mampu mengatasi banjir.
Bagi Desa Jati, yang terletak di lereng Gunung Wilis, banjir ibarat sudah menjadi langganan. Selalu datang setiap kali musim hujan. Sebab, air itu datang dari wilayah yang lebih atas.
“Banjir di desa kami karena kiriman air dari wilayah yang lebih atas,” kata Kades Jati Reni Nisika.
Kondisi seperti itu sebenarnya sudah ada jauh sebelum ada bandara. Bedanya, bila dulu ketika hujan deras di wilayah atas masih ada waktu 12 jam untuk sampai ke Desa Jati, kini tidak lagi. Sejak ada bandara, begitu hujan deras di wilayah atas, desa-desa yang ada di bawah sudah langsung siaga.
“Semua air bermuara di sini, baik dari Desa Bulusari dan Tarokan,” terangnya.
Kondisi itu kian parah karena tanggul sungai di Desa Jati belum dibeton. Masih berupa tanah. Meskipun hujan intensitas sedang sudah membuat empat tanggul di desa ini jebol. Seperti yang terjadi Januari lalu. Karena itulah dia berharap Pemerintah memberi bantuan gronjongisasi dari hulu hingga hilir.
“Kalau perbaikan tanggul sudah wewenang BBWS (balai besar wilayah sungai, Red),” ucap kades perempuan berusia 43 tahun ini.
Karena tak bisa memperbaiki tanggul, yang dilakukan Pemdes Jati hanyalah melakukan normalisasi sungai. Juga, bergotong royong untuk bersih-bersih sungai. Khususnya menjelang musim hujan.
Tahun ini juga dilakukan lagi normalisasi. Bedanya, endapan yang diambil tak ditumpuk di tanggul. Melainkan diberikan ke warga sebagai bahan genting maupun batu bata.
Perbaiki Jalan agar Warga Nyaman
Keberadaan jalan sangat penting untuk menjaga mobilitas warga. Karena itu, setiap tahun Pemdes Jati melakukan perbaikan. Seperti tahun ini, perbaikan itu dilakukan di dua lokasi. Di Dusun Krapyak dan Jati.
Selama ini, kondisi kedua ruas jalan tersebut rusak parah. Permukaan aspalnya banyak yang mengelupas. Hanya tersisa batu-batu, menjadi seperti jalan makadam.
“Pengaspalan terakhir terjadi lima tahun lalu,” terang Kades Reni Ninsiska.
Perempuan yang menjabat mulai 2020 ini menjelaskan, perbaikan jalan di Dusun Krapyak berada di satu titik. Panjang yang dikerjakan mencapai 300 meter. Sedangkan yang di Dusun Jati terbagi di dua titik. Masing-masing sepanjang 210 meter. Jalan-jalan itu berada di area permukiman.
Sumber dana proyek ini berasal dari anggaran dana desa (DD). Pelaksanaannya pun baru bisa berlangsung ketika dana sudah cair. Juga bergantung pada ada tidaknya kepentingan yang lebih urgent.
Selain memperbaiki jalan menuju pemukiman warga, pemerintah desa juga akan membangun jalan yang terkait program ketahanan pangan. Jalan usaha tani ini rencananya dibangun di Dusun Tegalrejo.
“Sebelumnya hanya berupa jalanan tanah di tengah sawah,” ungkap Reni.
Karena jadi akses penting menuju lahan pertanian, jalan tersebut ditingkatkan kualitasnya. Dengan melalui beberapa tahap pengerjaan. Mulai membangun tembok penahan tanah terlebih dulu. Yang panjangnya sama seperti panjang jalan, yaitu sekitar 600 meter.
Sementara itu, pada 2023 juga dilakukan pembangunan jalan usaha tani. Lokasinya di Dusun Manyaran, dengan panjang 375 meter. Pembangunan jalan baru tersebut mempermudah akses transportasi untuk petani. Sekaligus untuk pengangkutan hasil panen. (ara/fud)
Editor : Anwar Bahar Basalamah