Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Bogem, Gurah, Kabupaten Kediri: Menjaga dan Melestarikan Benda Bersejarah untuk Nguri-uri Asal-usul Desa

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 6 Februari 2024 | 20:27 WIB
BERSEJARAH: Kepala Desa Bogem Samsodin (kiri) menunjukkan salah satu artefak di museum desanya.
BERSEJARAH: Kepala Desa Bogem Samsodin (kiri) menunjukkan salah satu artefak di museum desanya.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Desa Bogem sangat lekat dengan nilai-nilai sejarah. Banyak sekali ditemukan artefak-artefak berserajah. Mulai arca, yoni, prasasti, batu-bata kuno, dan benda bersejarah lain. Semuanya berkaitan degan peradaban dan kebudayaan kuno yang ada di desa ini pada masa lampau.

“Dulu, diperkirakan, desa ini adalah lokasi beribadah,” terang Kepala Desa (Kades) Bogem Mohamad Samsodin.

Sayang, benda-benda purbakala itu tak terawat. Tidak pula dikumpulkan di satu tempat khusus. Akibatnya, sebagian hilang karena dijarah. Kemudian dijual ke luar daerah.

Sebagai kades, Samsodin nelangsa melihat itu. Dia pun mencari cara agar benda-benda bersejarah tersebut tetap lestari.

Suatu saat dia bertemu dengan komunitas pegiat sejarah. Setelah berbincang dan berdiskusi, muncul ide membuat museum desa. Fungsinya untuk menampung artefak-artefak itu. Agar lebih terjaga dan terawat.

Kebetulan, pemdes memiliki gudang yang tak terpakai. Tempat itu disulap menjadi lokasi penyimpanan benda-benda sejarah yang ada di Desa Bogem.

“Tempat itu jadi lebih berfungsi dan lebih bermanfaat,” jelas Samsodin.

Selain mengamankan benda-benda berserajarah, museum digunakan untuk mengedukasi masyarakat. Utamanya para generasi muda. Agar mereka mengetahui asal-usul Desa Bogem. Kemudian menggunakan pengetahuan itu untuk membangun desa.

“Harapannya asal-usul desa tidak hilang. Masyarakat tahu dengan sejarah yang bisa dibuktikan dari benda-benda yang masih tersimpan,” terangnya.

Genjot Pengunjung, Promo ke Sekolah

Keberadaan museum akan kurang bermanfaat bila tak ada yang mengunjungi. Karena itu, Pemdes Bogem berusaha semaksimal mungkin agar pengunjung terus mengalir ke tempat bersejarah itu. Salah satunya dengan mendatangi sekolah-sekolah. Mengajak mereka agar ber-study tour, mengagendakan kunjungan ke museum.

Sekolah-sekolah yang didatangi juga dari berbagai jenjang. Mulai taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA).

“Kami ngomong ke sekolah-sekolah, bertanya kapan mengagendakan ke museum. Kurang lebih seperti study tour gitu,” terang Samsodin.

Menurut Samsodin hal ini penting dilakukan. Karena yang rawan melupakan sejarah adalah anak muda. Oleh karena itu, perlu merangkul generasi penerus, agar sejarah desa juga selalu diingat dan dilestarikan.

“Karena kalau anak-anak kan masih belum pusing mikirin banyak hal, jadi juga akan mudah masuk bila mengenalkan sejarah kepada mereka,” terangnya.

Selain itu, museum desa juga terbuka untuk umum. Seluruh masyarakat boleh berkunjung. Baik sekadar melihat-lihat maupun belajar. Karena pada dasarnya, tujuan pembuatan museum memang untuk mengenalkan sejarah desa pada khalayak umum.

“Tidak jarang dari luar daerah datang untuk mempelajari sejarah Desa Bogem. Dinas pariwisata juga pernah ke sini lakukan peninjauan. Teman-teman komunitas maupun dari perguruan tinggi juga tidak jarang datang,” terangnya.

Untuk masuk ke museum pengunjung tidak harus merogoh kocek. Karena tidak ada bea masuknya. Masyarakat bebas keluar masuk museum.

“Asalkan untuk belajar, bukan untuk mengambil ataupun merusak,” terangnya sambil tertawa.

Nguri-uri Budaya dan Sejarah

Mohamad Samsodin punya tekad kuat untuk nguri-uri budaya serta sejarah desanya. Tidak hanya melalui museum desa yang dijadikan penyimpan artefak-artefak. Dia juga berupaya mengadakan kegiatan-kegiatan yang berbau kebudayaan. Ini sesuai visinya sejak menjabat kepala desa (kades) pada 2013 silam. Yaitu keinginannya mengangkat destinasi wisata budaya di Desa Bogem.

“Agar sejarah yang itu tak hilang dimakan zaman,” terang sang kades.

Salah satu yang rutin dilakukan adalah acara tumpengan. Berupa syukuran atas melimpahnya hasil pertanian. Wujudnya, membuat tumpeng dari berbagai hasil pertanian kemudian diarak keliling desa. Diakhiri dengan ‘rebutan’ warga mengambil semua bahan-bahan itu.

Awalnya, kegiatan itu sempat dianggap remeh oleh segelintir kelompok. Namun Samsodin tetap bertekad memulainya. Bahkan, awalnya dengan biaya mandiri.

“Awalnya ya pakai ragat sendiri,” akunya.

Setelah acara berjalan sukses, barulah kegiatan itu diakui. Dan kini kegiatan tumpengan situ menjadi daya tarik Desa Bogem.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#benda bersejarah #Desa Bogem #Profil Desa