KEDIRI, JP Radar Kediri - Mata pencaharian warga Desa Ngablak tak hanya didominasi petani dan peternak. Sebagian lagi ada yang terjun di usaha pembuatan tahu. Ke depan, para pembuat tahu ini berupaya mengembangkan pasarnya. Tak hanya menjual tahu mentah. Namun juga memproduksi makanan jadi.
Salah satu pembuat tahu di desa ini adalah pasangan Muhaimin dan Yuli Nirwanti. "Sudah sejak 15 tahun lalu," terang Nirwanti mengenai usaha yang dia kelola ini.
Pengalaman membuat tahu didapat suaminya ketika bekerja di pabrik tahu. Setelah keluar,Muhaimin mencoba membuka usaha pembuatan tahu sendiri. Meskipun sempat mandek karena dia bekerja di pabrik rokok sekitar 10 tahun.
Ternyata, bagi pasangan ini, membuat dan menjual tahu dianggap lebih menjanjikan. Muhaimin pun resign dan meneruskan usaha tahunya hingga saat ini.
Selain memproduksi, Muhaimin juga menjual sendiri produknya. Awalnya, dijajakan berkeliling menggunakan sepeda. Namun saat ini sudah didatangi tengkulak yang membeli tahu dalam jumlah besar.
Ke depan, Nirwanti menyebut akan mengembangkan usahanya. Yaitu akan membuat olahan makanan berbahan tahu.
“Nanti saya mau membikin usaha di depan menggunakan gerobak berjualan tahu petis,” ungkap Nirwanti.
Ubah Kumuh dengan Olah Sampah
Kebiasaan buruk warga yang membuang sampah sembarangan membuat wajah desa menjadi kumuh. Sebagian ada yang membuang sampah di pekarangan. Ada juga di pinggir jalan. Bahkan, di saluran irigasi.
Menanggulangi hal itu, Pemdes Ngablak pun melakukan terobosan. Membangun tempat pembuangan sampah reuse, reduce, dan recycle (TPS 3R).
“Sebelum adanya TPS 3R ini warga banyak yang membuang sampah di pinggir jalan dan sungai,” jelas Kepala Desa (Kades) Ngablak Santoso.
Awalnya, pemdes hanya menyediakan lahan khusus membuang sampah. Namun, dalam perkembangannya, menjadikan lokasi itu menjadi TPS 3R.
“Dulu hanya berupa lahan kecil untuk membuang sampah. Setelah pemkab menggalakkan TPS 3R saya mengikuti,” terangnya.
Rencana ini berlangsung sejak 2021. Karena murni menggunakan dana desa (DD), prosesnya bertahap. Bahkan masih berjalan pada 2024 ini.
Tahap pertama adalah pembangunan gedung berukuran 10 x 20 meter. Tempat ini akan menjadi lokasi pemilahan sampah. Namun belum berfungsi karena menunggu keberadaan beberapa fasilitas.
"Masih menunggu selesainya pembuatan kontainer," kata Santoso.
Kontainer nanti menjadi tempat pengumpulan sampah yang sudah tidak bisa digunakan. Sampah inilah yang akan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Meskipun belum memfungsikan TPS 3R, pemdes gencar melakukan sosialisasi. Terutama bagaimana teknis pembuangan sampah. Nantinya, akan ada petugas khusus yang mengambil sampah di rumah warga. Warga juga hanya membayar retribusi setiap bulan.
Optimalkan Pencapaian PAD dengan Unit Usaha Peternakan Bumdes Bantu Pemasaran dan Ketersediaan Pakan
Pemdes Ngeblak melihat potensi warganya yang banyak berkecimpung di bidang peternakan kambing. Menyatukan mereka dengan unit usaha bumdes. Terutama dalam hal pemasaran.
Selama ini banyak warga Desa Ngablak yang terjun di bidang peternakan kambing. Sebagian besar tak berskala besar. Merawat beberapa ekor, kemudian menjualnya untuk kurban, akikah, atau ke penjual sate.
Potensi itu berusaha ditangkap oleh Pemdes Ngablak. Melalui badan usaha milik desa (bumdes) mereka membuat unit usaha peternakan.
"Mulai dikelola bumdes pertengahan 2023," jelas Ketua Bumdes Guyub Rukun Ahmad Azis.
Bagi peternak yang menjalin kerja sama, mereka mendapat beberapa keuntungan. Terutama dalam pemasaran. Dari penjualan itu keuntungan dibagi dua. “Pembagiannya 20 persen dari laba ini untuk bumdes, sedangkan 80 persen untuk yang mengelola,” terangnya.
Selain itu, bumdes juga melakukan pendampingan untuk pemberian pakan. Agar kambing piaraan bisa gemuk dengan cepat. Yang membutuhkan pakan bergizi, tak sekadar rumput saja.
Agar memenuhi kebutuhan pakan, bumdes menganggarkan pengadaan mesin pencacah. Yang bisa digunakan sebagai pembuat pakan fermentasi. Sehingga peternak tidak perlu setiap hari mencari pakan. “Karena masih belum waktunya mesin panen, maka alat belum digunakan,” ungkap Azis.
Kenapa menunggu musim panen? Hal itu karena pakan kambing yang dicacah adalah sisa panenan jagung. Yaitu bagian daun, batang, dan bonggol buah.
Sampai saat ini, sudah tiga peternak yang bekerja sama dengan bumdes. Salah satunya adalah Mohamad Bahwi yang memiliki delapan ekor.
"Dulu setiap hari harus angon, membawa kambing ke lapangan untuk cari rumput. Sekarang tidak lagi karena ada pakan fermentasi," terang peternak yang juga pembuat mebel ini.
Ke depan, bumdes akan menambah jumlah peternak yang diajak kerja sama. Juga akan berkembang ke arah pembibitan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah