KEDIRI, JP Radar Kediri- Sempat dikenal sebagai sentra pengolahan tebu menjadi gula bathok, warga yang bertahan menggeluti usaha itu kini tinggal dalam hitungan jari. Menggugah Bumdes Gadungan untuk membangkitkan lagi. Namun, akan diolah menjadi gula pasir merah.
Bila menengok masa lalu, Desa Gadungan, Kecamatan Wates ini sangat terkenal dengan pengolahan tebu menjadi gula bathok-nya. Banyak warga yang terjun di usaha itu. Apalagi, hasil tebu yang ditanam warga juga melimpah.
Namun, itu cerita lalu. Sekarang, nyaris tidak ada warga yang menekuni jenis usaha itu. “Zaman saya kecil dahulu, di sini banyak sekali pengolahan gula. Namun banyak yang tutup tanpa diketahui penyebabnya,” cerita Kepala Desa Gadungan Khairul Basir.
Kenangan itu berusaha dihidupkan lagi oleh Pemdes Gadungan. Melalui badan usaha milik desa (bumdes) yang mereka miliki, pemdes akan mendirikan unit usaha penggilingan tebu. Yang rencananya bisa beroperasi di akhir 2024 ini. Upaya yang tidak sekadar untuk memutar memori tapi sekaligus memutar roda ekonomi.
Namun, yang mereka buat nanti bukan lagi gula bathok. Melainkan gula pasir yang berwarna merah. "Untuk membuat gula pasir merah tidak perlu tebu yang berkualitas premium," ujar Kades Basir.
Perencanaan usaha ini sudah lama. Sejak 2019, sebelum akhirnya terkendala pandemi Covid-19. Setelah suasana mereda, pada 2022, rencana itu diteruskan lagi. Dengan langkah awal melengkapi peralatan penggilingan. Yang diteruskan dengan penyiapan sumber daya manusia (SDM)-nya.
"Akan ada lima orang yang diikutkan pelatihan," terang pria 48 tahun ini.
Saat ini, bumdes sudah memiliki beberapa peralatan. Seperti mesin penggilingan, crane, dan tempat memasak.
"Kami tinggal melengkapi peralatan cetak gula serta pemasangan lantai dan instalasi listrik di tempat penggilingan nanti," beber Kades Basir.
Dana Desa dan Pokir untuk Perbaikan Rumah - Jalan
Ada dua macam proyek fisik yang akan dikerjakan Pemdes Gadungan pada 2024 ini. Perbaikan rumah yang masih tak layak huni serta peningkatan kualitas jalan. Kedua program itu memanfaatkan anggaran dari dana pokok pikiran (pokir) DPRD Kabupaten Kediri serta dana desa (DD).
"Sudah ada dananya. Tinggal melaksanakannya saja," terang Kades Khairul Basir.
Khusus untuk perbaikan rumah warga, yang menggunakan dana pokir sebanyak lima unit. Sementara tiga unit lagi memanfaatkan anggaran dari DD.
"Wujudnya memperbaiki bagian bangunan yang rusak. Bukan membangun yang baru," tandas sang kades.
Meskipun demikian, pemdes juga tak melarang bila ada warga yang mendapat bantuan ingin merenovasi rumah secara total. Dengan catatan, bantuan dana yang diberikan nilainya tetap. Yaitu Rp 15 juta per orang bila mendapatkan dana p okir dan Rp 10 juta untuk yang dari DD.
Program lain adalah peningkatan kualitas jalan. Perbaikan itu menyasar ke dua jalan di dua dusun. Yaitu Dusun Gadungan dan Bulurejo.
Kades Basir menjelaskan, panjang jalan yang akan diperbaiki di Dusun Gadungan adalah 700 meter. Sementara yang di Dusun Bulurejo sepanjang 500 meter. Jalan-jalan itu berada di tengah permukiman warga. Namun selama ini hanya berupa makadam.
Jual Jamurnya, Juga Jual Baglognya
Bila berbicara tentang Desa Gadunga, Kecamatan Wates, yang tidak boleh dilewatkan adalah budi daya jamur. Sebab, tidak sedikit warga desa yang berkecimpung di usaha ini. Seperti yang dilakukan Supriyanto. Yang menjadi pembudi daya jamur tiram dan kuping bersama dengan keluarga dan beberapa tetangga.
Bahkan, yang bisa menghasilkan uang bukan hanya jamurnya. Media tanam alias baglog juga disediakan oleh pria 48 tahun ini.
“Pernah kirim ke petani jamur di Tuban dan ke Mojokerto,” jelas Supriyanto.
Lelaki ini memanfaatkan halaman samping dan belakang sebagai lokasi pembuatan baglog. Prosesnya masih tradisional. Mulai dari steam baglog, produksi jamur, hingga panen.
Untuk produksi meda tanam, dalam satu bulan bisa menghasilkan 12 ribu baglog. Sebagian ia jual bila ada permintaan. Sebagian lagi dipakai sendiri.
Saat ini Supriyanto masih membudidayakan tiga jenis jamur. Yaitu jamur tiram putih, tiram cokelat, dan kuping. Pemasarannya pun masih tradisional. Dijual ke pengepul atau ke pasar langsung setelah panen.
"Paling banyak diminta ya tiram putih," terangnya.
Selain menjual jamur segar, Supriyanto juga menyediakan jamur olahan. Yaitu jamur krispi. Pembuatan jamur krispi itu berawal ketika banyaknya permintaan pasar. Akhirnya dia membuat jamur olahan itu selain menyediakan yang segar.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah