Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Ngreco, Kandat, Kabupaten Kediri: Mengelola Sampah dengan Lomba Desa Berseri

Habibaham Anisa Muktiara • Senin, 29 Januari 2024 | 18:45 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Jadi Kampung Pengrajin Batu Bata Desa Ngreco, yang lokasinya berbatasan dengan wilayah Kota Kediri, dikenal sebagai sentra batu bata. Karena banyak pengrajinnya. Produknya pun dikirim hingga ke luar kota.

Dari ratusan pengrajin batu merah tersebut,  adalah Muhsin salah satunya. Laki-laki  40 tahun ini menjadi penerus usaha sejenis yang telah dilakukan orang tuanya.

“Saya meneruskan usaha pembuatan batu bata ini setelah lulus SD,” cerita Muhsin.

Muhsin memproduksi batu bata masih dengan cara manual. Dicetak dengan tangan kemudian dibakar dengan kayu dan sekam. Dibantu istri dan kedua anaknya, dalam sehari dia bisa memproduksi 1.000 batu bata mentah. Setelah dijemur kemudian batu bata tersebut dibakar hingga matang.

“Penjemuran ini sangat mempengaruhi kualitas dari batu bata,” imbuhnya.

Jika tidak kering sempurna, saat pembakaran batu bata mudah hancur. Kendala ini banyak terjadi ketika musim hujan. Selain lama keringnya, suhu yang lembab membuat batu bata mudah berjamur. Sehingga perlu ditutup plastik.

Bapak tiga anak ini menambahkan bahwa dalam proses pembakaran jangan sampai kobaran api  padam. Karena itu perlu ditunggui. Penunggu ini bertugas mendorong kayu ke lubang perapian agar bara api tidak padam.

Batu bata buatan Muhsin ini harganya Rp 350 ribu per 1.000 biji. Harga ini juga disebabkan bahan baku yang harus didatangkan dari luar desa. Sekali pengiriman, satu dum truk, tanah liat hanya bisa untuk 4 ribu batu bata. 

 

Perbaikan Jalan agar Permudah Transportasi

Setiap tahun Pemdes Ngreco menyusun rencana meningkatkan fasilitas jalandesa. Anggarannya tak hanya  mengandalkan dana desa (DD) saja, juga yang didapat dari perlombaan.

“Pencairan dana desa dilakukan akhir tahun lalu, penggunaannya baru dilakukan  tahun ini,” jelas Sekdes Ngreco Duseb. 

Peningkatan jalan tersebut berlangsung secara bertahap. Tahun ini  ada di tiga titik prioritas. Semuanya di Dusun Sumbernongko.

“Jalan yang diperbaiki selain mengarah ke persawahan. juga ke permukiman warga,” imbuhnya.

Duseb menjelaskan, saat ini jalan yang akan dibangun itu masih berupa jalan tanah. Yang mempersulit akses warga. Terutama bila ada truk pengangkut batu bata yang hendak lewat.

Pada 2023 lalu setidaknya ada satu jalan yang sudah diperbaiki. Jalan tersebut mengarah ke area persawahan, permukiman warga, dan lokasi pembuatan batu batu bata. 

 

Mampu Kurangi Sampah meski Tak Punya TPS 3R

Setiap tahun, desa ini menghasilan berton-ton sampah. Yang butuh penanganan serius agar tak menjadi problem besar. Selain ada bank sampah dan sedekah rosok, pemdes punya cara unik dengan menggelar 'Desa Berseri'

Persoalan sampah menjadi satu hal yang pelik bagi Pemdes Ngreco, Kecamatan Kandat. Jumlah warganya yang mencapai 5 ribu jiwa membuat limbah yang dihasilkan sangat besar. Mencapai 25,8 ton setiap tahun. Padahal, di sisi lain mereka belum memiliki tempat pembuangan sampah sementara yang reuse, reduce, dan recycle (TPS 3R).

"Akhirnya kami melakukan terobosan, salah satunya dengan lomba Desa Berseri," terang Sekretaris Desa (Sekdes) Ahmad Duseb Juan.

Lomba yang mulai berlangsung 2023 itu  tujuan utamanya adalah menggugah kesadaran warga agar lebih peduli lingkungan. Karena dalam lomba tersebut ada kategori ramah lingkungan. Yang indikatornya tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah, serta melakuka pemilahan sampah.

“Secara tidak langsung lomba ini mengajak warga melakukan tiga hal penting itu," lanjut Duseb.

Ketika kesadaran warga mulai muncul, pemdes pun melakukan tahapan selanjutnya. Karena belum memiliki TPS 3R, pemdes pun membuat program sedekah rosok, bank sampah, komposter, hingga pembuatan biopori. Hasilnya, mereka berhasil mengurangi menumpuknya sampah secara signifikan.

Selain itu, agar memaksimalkan program-program tersebut, warga desa juga diajak  mendaur ulang sampah. Seperti menggunakan botol bekas air minum untuk menjadi tempat pupuk cair dan tempat sampah, menggunakan karung sudah tidak terpakai menjadi tempat pemilah sampah organik dan an-organik, hingga menggunakan tas kain untuk pengurangan sampah plastik. 


Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #milenial #mengelola #desa #sampah