Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Sumberjo, Kandat, Kabupaten Kediri: Gencarkan Program Jambanisasi bagi Warga Tidak Mampu

Habibaham Anisa Muktiara • Jumat, 26 Januari 2024 | 16:32 WIB
BANGUNAN BARU : Pemdes Sumberjo, Kecamatan Kandat mengadakan proyek jambanisasi, berupa pengadaan fasilitas MCK bagi warganya.
BANGUNAN BARU : Pemdes Sumberjo, Kecamatan Kandat mengadakan proyek jambanisasi, berupa pengadaan fasilitas MCK bagi warganya.

KEDIRI, JP Radar Kediri-Meskipun sudah era milenium ketiga, masih ada warga Desa Sumberjo yang belum memiliki fasilitas MCK yang memenuhi standar kesehatan. Tentu saja mayoritas adalah warga tidak mampu. Karena itulah pemdes setempat menggencarkan program jambanisasi.

Program jambanisasi yang dibuat Pemerintah Desa Sumberjo berlangsung secara berkesinambungan. Yang meneruskan pelaksanaan di tahun sebelumnya. Dengan sumber dana dari bantuan keuangan khusus. Dan sasarannya adalah warga kurang mampu.

"Total pembangunan MCK nanti ada di 50 lokasi," terang Kades Sumberejo Muh. Muharom Fauzi.

Untuk tahun ini, mereka juga sudah memastikan mendapatkan bantuan tersebut. Hanya, pelaksanaannya menunggu turunnya surat keputusan (SK).

Kades berusia 55 tahun ini mengakui masih banyak warga desanya yang  belum memiliki kamar mandi  layak. Terutama fasilitas jamban. Sehingga mereka buang air besar (BAB) di tepi sungai. Hal itulah yang berusaha dihilangkan oleh pemdes. Karena persoalan ini bisa berpengaruh pada persoalan lain.

“Program ini masih berkaitan dengan penanganan kasus stunting,” ungkap Fauzi, sambil menyebut kebersihan adalah salah satu penyebab stunting.

Tahun lalu, pemdes membangun MCK di delapan lokasi. Salah satunya di rumah warga bernama Muhammad Fauzi. Bangunan MCK yang dibangun di  belakang rumah ini memiliki ukuran 1,5 x 2,5 meter. Yang pengerjaannya  oleh TPK Desa Sumberejo. 

 Baca Juga: Profil Desa Ringinsari, Kandat, Kabupaten Kediri: Wadahi Potensi Ekonomi Warga, Bentuk Kelompok Usaha Bersama

FIGUR MILENIAL

Kades Muharom Fauzi Perbaiki Rumah hingga Fasum

Di bawah pimpinan Muh. Muharom Fauzi, Desa Sumberjo banyak menggarap proyek fisik. Terutama yang menyasar warga kurang mampu. Tak hanya pengadaan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) juga perbaikan rumah. 

“Jika tidak ada rumah yang perlu diperbaiki, digunakan untuk pembangunan MCK,” jelas Fauzi.

Fauzi membeberkan, perbaikan rumah pada  2023 mencakup  25 lokasi. Anggarannya berasal dari dana bantuan keuangan khusus.

Sasaran perbaikan meliputi pembenahan genting yang bocor, memperbaiki pintu rusak, pemlesteran dinding, atau pengadaan lantai keramik bagi yang masih berupa tanah. 

Selain itu, proyek infrastruktur juga untuk peningkatan fasilitas umum (fasum). Seperti pembangunan drainase. Yang tahun ini berlangsung di dua lokasi.

“Memperkuat bangunan fisik drainase yang sebelumnya hanya berupa tanah,” terang kades dua periode ini.

Tujuan revitalisasi saluran drainase tersebut jelas. Yaitu untuk mengantisipasi agar tidak terjadi tanggul longsor. Sebab, bila masih berupa tanah sangat berpotensi runtuh. Juga, mudah ditumbuhi rerumputan yang menjadikan aliran air tidak lancar.

“Selain hal-hal itu, pembangunan infrastruktur lainnya adalah meningkatkan fasilitas jalan,” pungkas Kades Fauzi. 

Sukses dengan Keripik Bekicot

Seperti desa lain, Sumberjo juga punya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Salah satunya pasangan suami istri (pasutri) Nurhadi dan Hariani. Yang membuat produksi keripik bekicot berlabel Dua Putri.

“Usaha ini sebenarnya dari orang tua, kemudian diteruskan oleh anak-anaknya,” jelas Hariani tentang awal usaha mereka.

Sebagai generasi ketiga, Hariani menyeriusi usaha ini sejak 2000 silam. Saat masih jarang yang menekuninya. Meskipun juga menyediakan jenis menu lain, tapi fokusnya pada keripik.

“Sampingan ada pembuatan sate atau krengsengan. Namun hanya jika (ada) pesanan saja,” terangnya.

Perempuan 43 tahun ini bercerita, dulu mudah mendapatkan bahan baku. Bekicot atau siput masih banyak di sekitar rumahnya. Meskipun, dia tak pernah mencari sendiri. Melainkan membeli dari pencari langsung maupun pengepul. 

“Dulu saya proses ketika masih hidup. Karena kurang efisien akhirnya beli dalam bentuk daging saja,” terang Hariani.

Saat awal, harga keripik bekicot Rp 18 ribu per kilogram. Seiring kian banyaknya penjual olahan bekicot membuat bahan baku langka dan harganya mahal. Hal itu membuat harga keripik saat ini mencapai Rp 260 ribu per kilogram.

Masih menurut Hariani, ada kendala yang dipengaruhi musim. Misal, ketika kemarau bahan sulit tapi proses pembuatan mudah. Karena pengeringan bisa mudah dengan teriknya matahari. Sedangkan bila musim penghujan, bahan baku melimpah tapi proses pengeringan tersendat. Bila saat kemarau hanya beberap jam, ketika hujan bisa tiga hari.

Terkait proses, semua masih manual. Mulai dari pembersihan, perebusan, penjemuran, hingga penggorengan yang masih menggunakan kayu bakar.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #milenial #umkm #desa