KEDIRI, JP Radar Kediri - Upaya Pemerintah Desa (Pemdes) Pule memperindah wajah desa ditunjukkan dengan membangun balai desa. Terutama merenovasi ruang pertemuan. Menambahi dengan sentuhan etnis. Yaitu bergaya Jawa kuno dengan membuat joglo.
“Dulu ruang pertemuan sudah ada, hanya saja di ruang tertutup,” terang Kades Pule Sucipto.
Sucipto menjelaskan bahwa ruang pertemuan lama memiliki beberapa kekurangan. Selain tertutup posisinya juga tidak terlalu tinggi. Tidak hanya itu saja, alasan dilakukan renovasi ulang karena genting juga sudah tidak layak. Saat musim hujan atapnya bocor.
Karena itulah, sekalian merenovasi atap, mereka mengubah desain. Lebih ke etnis dan bergaya tradisional.
“Sehingga karakter Jawanya lebih terlihat. Nanti juga akan dihiasi dengan gunungan,” terangnya.
Alasan kenapa menggunakan desain Joglo, agar kantor desanya terlihat lebih menonjol. Selain itu juga menunjukkan bahwa masyarakat Jawa berada di desa tersebut.
Untuk kerangka banguna, sudah dikerjakan pada 2023 lalu. Tepatnya pada bulan Januari. Pengerjaanya dilakukan selama tiga bulan. Karena menggunakan dana desa, maka pengerjaan akan dilanjutkan pada 2024 ini.
“Mulai dari pemasangan keramik dan pemasangan back ground,” terangnya.
Yang diperbaiki lagi adalah gapura di pintu masuk desa. Juga melakukan peningkatan jalan. Yang semula makadam, menjadi beraspal.
Tanam Melon Bermetode Hidroponik
Di Desa Pule ada beberapa warga yang menanam melon dengan metode hidroponik. Salah satunya Rustamaji. Menggunakan sistem nutrient film technique (NFT) melon hasil tanam pria ini juga sudah pernah dikirim ke luar negeri.
“Usaha penanaman melon hidroponik ini berjalan dua tahun,” jelas Rustamaji.
Rustam, panggilannya, mengaku tertarik menanam melon hidroponik karena harga jualnya yang bagus. Kini dia sudah memiliki empat greenhouse.
“Kalau buah menurut saya meski ditanam di hamparan juga masih bagus. Apalagi ini hidroponik,” imbuhnya.
Di lahannya, Rustam menggunakan metode NFT. Melalui pipa paralon yang menghubungkan satu tanaman dengan tanaman lain.
Sebelum menekuni melon hidroponik Rustam pernah menanam semangka. Hanya saja saat itu masih menggunakan metode penanam di lahan.
Saat itu, pemilik Green House Omah Melon Pule Indah ini beranggapan jika sudah memiliki dasar menaman semangka, tidak sulit mengembangkannya di penanaman melon hidroponik. Karena prosesnya mirip. “Yang membedakan penanaman dengan cara hidroponik dan hamparan berada di tingkat teknis dan efisiensi kerja,” jelas laki-laki kelahiran 1970 tersebut.
Jika melon hamparan, paling lama panen sebanyak dua kali sudah harus pindah tanam. Jika tidak hasilnya tidak akan bagus. Sedangkan untuk tanaman hidroponik mahal di biaya awal. Namun proses bertaninya murah.
Untuk mengawali penanaman untuk membagun greenhouse sekitar Rp 22 juta. Uang tersebut masih belum termasuk instalasi, yang harganya mencapai Rp 25 juta. Meskipun begitu hasilnya sangat manis.
Terkait penjualan, Rustamaji menjualnya tanpa perantara. Dia hanya mengandalkan promosi di media sosial. Setiap panen, selalu ada pemberitahuan. Meski begitu pembelinya tidak hanya dari Kediri saja, namun hingga keluar kota. Bahkan buah melon hidroponik ini menjadi buah tangan yang sampai dibawa keluar negeri.
Kades Sucipto Ingin Kembangkan Wisata Sumber
Empat tahun lamanya Sucipto berstatus Kepala Desa (Kades) Pule. Latar belakangnya adalah wiraswasta. Sebelum memimpin Desa Pule, laki-laki 56 tahun ini adalah pemilik usaha penyewaan terop.
“Dulu saya memiliki usaha dibidang penyewaan terop,” cerita Sucipto saat ditemui oleh wartawan Jawa pos Radar Kediri.
Kini, setelah jadi kades, Sucipto punya obsesi. Yaitu mengembangkan Sumber Pule sebagai destinasi wisata. Agar tempat itu bisa mengangkat perekonomian warga desa. Langkah awal adalah membuka lapak untuk berjualan.
“Saya ingin perekonomian masyarakat dapat berjalan,” harapnya.
Sucipto menjelaskan, untuk menjadikan Sumber Pule menjadi tempat wisata ini memerlukan waktu. Sebab tidak mungkin jika hanya mengandalkan dana desa. Karena itu pembenahan perlu dilakukan agar mengundang pengunjung yang bisa menghasilkan pendapatan.
“Saat ini sudah diberi fasilitas toilet,” kata Sucipto.
Ke depannya, pengembangan yang dilakukan adalah memberi bronjong. Pembronjongan ini bertujuan agar pinggiran sumber ini tidak mengalami erosi.
Beberapa keunggulan memang dimiliki kawasan Sumber Pule. Selain luas juga memiliki dua mata air. Mata air utama bermuara di satu waduk. Dikelola dengan pintu air yang masih berfungsi. Debit air di sumber ini pun melimpah.
Saat cuaca sedang panas-panasnya banyak pengunjung yang datang untuk mendinginkan badan. Istilahnya, ngadem.
Ada pula opsi aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung di kawasan seluas kurang lebih satu hektare ini. “Kadang ada ada yang memancing,” ungkap Sucipto.
Namun begitu, tak jarang pula pengunjung yang hanya untuk duduk-duduk. Menikmati suasana di antara pohon-pohon besar. Sebab, berada di tempat ini memberi kesan sejuk meskipun di tengah terik matahari sekalipun.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah