KEDIRI, JP Radar Kediri-Sri Mutmainah semringah. Senyumnya mengembang. Wajahnya juga terlihat ceria. Wanita 34 tahun ini tak canggung meskipun berhadapan dengan wartawan. Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (WBL) Kelas IIA Kediri ini juga blak-blakan menceritakan pengalamannya. Terutama ketika mendapat pelatihan melinting rokok.
"Tidak apa-apa nama saya masuk koran. Toh, karena sesuatu yang baik," ucap wanita kelahiran Pulau Madura ini dengan renyah.
Bagi Mutmainah, status sebagai narapidana memang membebani. Menjadi stigma hingga ketika mereka keluar penjara nanti. Karena itulah, mendapatkan pelatihan ibarat menjadi penyegar bagi mereka. Melepas penat dari keseharian di penjara yang membosankan. Merasakan suasana yang mereka sebut sebagai kemewahan sesaat. Yang tidak mereka dapatkan setiap hari di balik jeruji besi.
"Kami refresh banget. Benar-benar kayak mantenan duduknya, dengan ruangan ber-AC. Kalau di dalam (penjara) kan panas meskipun juga ada kipasnya," ucap narapidana kasus narkotika ini.
Memang, pelatihan yang berlangsung Kamis (12/12/23) itu hanya belajar melinting rokok. Tapi, para WBL itu sangat antusias. Mereka berkali-kali mencoba. Merasakan keahlian yang baru bagi sebagian besar mereka.
“Kami excited sekali. Kalau ada yang bisa langsung pada bilang aku bisa, hore aku bisa,” cerita ibu tiga anak ini suasana saat pelatihan yang diikuti 50 orang WBL ini.
Kegembiraan itu sudah terasa sehari sebelumnya. Sampai-sampai mereka bersepakat harus mengenakan outfit yang senada. Celananya, baju, hingga kerudung.
"Jilbabnya harus hitam. Gak boleh bercorak dan berbunga-bunga," Mutmainah bercerita tentang kesepatakan itu.
Pun, antusiasme mereka tak luntur ketiha hari H tiba dan acara molor. Para peserta, yang sebagian juga WBL laki-laki, tetap sabar menunggu. Sesekali menjajal alat yang sudah disiapkan di meja.
Ketika melihat jajaran tamu yang datang, Mutmainah pun kian terkesima. "Ada Bapak Sekda, yang ibarat kata, kami tuh siapa sih (kok sampai pejabat datang melihat)," ucapnya, dengan senyum penuh syukur.
Karena itulah, meskipun pelatihan hanyalah melinting rokok. Itupun dengan peralatan yang sederhana. Mereka tetap bersyukur. Mereka sadar bahwa tangannya bisa menghasilkan sesuatu yang berguna.
Dia-dan napi lainnya-berharap pelatihan itu akan diulang lagi. Karena masih ingin belajar lagi. Seperti yang terkait dengan bahan-bahan yang diracik. Serta ingin memperbaiki hasil lintingan.
"Sudah bisa sih, tapi ukurannya beda-beda. Ada yang kebesaran ada yang kekecilan," senyum Mutmainah mengembang ketika bercerita.
Dia berharap, sekeluar dari lapas nanti, pelatihan ini bisa berguna. Dia diterima di perusahaan rokok. Tak memandang statusnya sebagai mantan napi.
Bahkan, pelatihan itu melambungkan pula mimpinya. Suatu saat bisa membuat produk rokoknya sendiri.
“Berandai-andai kan boleh, tetap yang baiklah,” tandas Mutmainah, sembari menyebut bahwa napi juga manusia, sebelum mengakhiri wawancara.
Baca Juga: Ekonomi di Kota Kediri Tumbuh, tapi Masih Bergantung Rokok
Editor : Anwar Bahar Basalamah