Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Segaran, Wates, Kabupaten Kediri: Mengoptimalkan Peran Pemuda Mengelola Peternakan Babi

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 2 Januari 2024 | 17:57 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Bisnis Turun-temurun, Pengelolaannya ProfesionalMayoritas penduduk Desa Segaran memang petani. Namun, jumlah peternak babi juga tak sedikit. Kini, pemdes mulai mengarahkan para pemuda desa mengelola bisnis ini secara profesional.

Berbeda dengan desa-desa lain di Kabupaten Kediri, Desa Segaran boleh disebut sebagai sentra peternakan babi. Hal ini tak lepas dari agama mayoritas yang dianut penduduknya. Warga desa ini didominasi oleh pemeluk Kristiani.

Jumlah peternaknya pun mencapai belasan orang. Terbanyak, jumlah yang dipelihara bisa mencapai puluhan ekor. Meskipun, sebagian lagi memelihara untuk kebutuhan sendiri.

Dalam perkembangannya, Pemerintah Desa (Pemdes) Segaran mulai mengarahkan pengelolaannya secara profesional. Serta mendorong anak-anak muda terjun menjadi peternak.

“Pengelolaan secara profesional sudah berlangsung sejak 2000,” terang Kades Dwija Kristianta.

Pengelolaan secara profesional membuat produksi dari Desa Segaran bisa terjual ke luar kota hingga luar pulau. Jumlahnya pun tidak sedikit.

“Baru-baru ini kirimke Kalimantan, tiga kali. Sekali kirim satu kontainer besar,” jelas Dwija.

Salah satu peternak besar adalah Yanu Semi Sanyoto. Memanfaatkan lahan 200 ru (1 ru setara 14 meter persegi), pemuda 28 tahun ini memelihara sekitar 70 ekor babi.

“Peternakan ini turun-temurun. Dari orang tua saya. Kini giliran saya yang meneruskan,” terangnya.

Pasar ternaknya hingga ke Sidoarjo. Dia punya pelanggan tetap. Setidaknya sebulan sekali.

Selain pembesaran, Yanu juga melakukan breeding sendiri. Karena itu, jumlah ternak yang dipanen masih fluktuatif. Bergantung berapa banyak induk yang melahirkan anak serta perkembangannya hingga dewasa.

“Satu bulan ini ada yang 40 ekor. Kalau sedang bagus bisa 80 ekor,” sebutnya.

Awalnya, Dwija Kristianta adalah seorang pendidik. Lulus 1998, dia langsung terjun di dunia pendidikan. Menjadi guru di salah satu SMK di Blitar hingga 2010.

Namun, cerita hidupnya berbelok ketika pakdenya, yang saat itu menjai kepala Desa Segaran meninggal dunia. Padahal baru menjabat selama 16 bulan.

“Saya kemudian diminta warga mencalonkan jadi kepala desa,” kenangnya.

Hasilnya, Dwija pun terpilih. Bahkan, karena kinerjanya yang dianggap memuaskan oleh warga, lelaki 49 tahun ini sudah menduduki posisinya itu selama tiga periode.

Selama menjadi kades, Dwija melihat potensi wilayahnya di bidang pertanian dan peternakan. Termasuk dengan berbagai problematikanya. Seperti kendala pupuk yang terus dirasakan petani.

“Saya berharap teman-teman petani ini pupuknya tercukupi. Hingga produksinya bisa baik,” kata Dwija.

Soal peternakan, upayanya adalah memudahkan komunikasi peternak dengan pembeli. Agar pengiriman babi ke luar kota berlangsung rutin. Selama ini, terkadang peternak over-production serta pengiriman tersendat. Hal itu bisa berpengaruh pada kebutuhan pakan.

“Satu ekor babi butuh Rp 15 hingga Rp 20 ribu. Bayangkan jika jumlahnya puluhan,” urai Dwija.

Permasalahan itu, sebenarnya bisa dideteksi penyebabnya. Yaitu adanya permainan pasar. Sama seperti kasus pada perniagaan ternak ayam dan sapi. Karena itu, menurutnya, perlu adanya memorandum of understanding (MoU) antara peternak dengan pengusaha jagal. Untuk menjami kelancaran suplai. 

Problem pupuk terus saja membelit petani. Karena itu, melalui badan usaha (BUM) desa, Pemdes Segara mencoba membuat terobosan. Yaitu memproduksi pupuk organik.

Perlatan pembuatan pupuk organik sudah siap. Selesai dipesan dari pembuatnya di Pare. Namun, belum difungsikan karena rumah pupuk-yang jadi tempat pembuatan pupuk organik-belum selesai dibangun. Setelah semua fasilitas tersedia, produksi pupuk non-kimia ini akan segera diproduksi.

Kebetulan, sebagai sentra ternak babi, desa ini punya kotoran hewan (kohe) melimpah. Agar bermanfaat, kohe inilah yang diproses menjadi pupuk organik. Selain juga memanfaatkan sampah organik lainnya.

Ke depan, pemdes berniat mendatangkan ahli pupuk organik. Agar bisa memberi pelatihan kepada anggota BUM desa. Yaitu seorang pengusaha pupuk organik dari wilayah Nganjuk.

“Dengan mendatangkan (ahli) dari Nganjuk yang sudah melakukan produksi, kami bisa tahu hitung-hitungan biaya produksinya. Termasul dalam soal pemasaran,” terang Dwija.

Sebelumnya, anggota BUM desa juga sudah mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik. Yang terkait dengan proses pembuatan. Sementara rencana pelatihan selanjutnya lebih lengkap.  Mulai biaya hingga tata laksana penjualan. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#babi #profil #desa #ternak