KEDIRI, JP Radar Kediri - Di sungai terpanjang di Jawa Timur tersebut, tim melakukan identifikasi kondisi terkini. Caranya dengan mengambil sampel air dan melakukan uji kualitasnya. Koordinator Forum Kali Brantas Chandra Iman Asrori mengatakan, kualitas air di kondisi Sungai Brantas saat ini dalam kondisi tercemar. Dia mencontohkan kadar fosfat paling tinggi di air sungai seharusnya sekitar 0,1 hingga 0,2 miligram per liter. Namun, berdasar uji yang dilakukan Selasa (26/3) lalu, kadar fosfat air Sungai Brantas mencapai 0,8 mililiter.
Kondisi tersebut menurut Chandra dipicu banyaknya limbah yang dibuang ke sungai hingga membuat airnya tercemar. Untuk menyelamatkan Sungai Brantas dan ekosistem di dalamnya, menurut mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Kediri ini tidak ada cara lain. Yakni, harus menghentikan dari sumbernya. “Selain limbah dari masyarakat banyak juga limbah dari pabrik yang dibuang ke sungai. Ini yang harus ditertibkan,” tegasnya.
Berdasar penelitian yang dilakukan di beberapa daerah di Jawa Timur, menurut Chandra masih banyak pabrik yang diduga membuang limbah tanpa diolah saat masyarakat terlelap. Limbah tersebut masuk ke Sungai Brantas dan mencemari sungai yang di Surabaya diolah jadi air minum itu.
Kota Kediri menurutnya memiliki peraturan daerah (perda) terkait penggunaan plastik sekali pakai. Jika aturan itu ditegakkan, dia optimistis limbah plastik yang juga banyak bermuara di sungai itu akan berkurang signifikan. “Saya masih banyak melihat kafe-kafe memakai sedotan dan plastik sekali pakai,” tandasnya sembari menyebut butuh gerakan masif untuk membiasakan masyarakat tidak menggunakan plastik sekali pakai.
Anggota Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Firly Mas’ulatul Janah menambahkan, Sungai Brantas sudah tercemar mikroplastik. “Sensus ikan yang digelar Oktober lalu menyebutkan, jenis ikan di Sungai Brantas hanya sekitar enam. Menurun terus,” papar Firly sembari menyebut populasi ikan terus berkurang karena terdampak pencemaran.
Demi menyelamatkan Sungai Brantas, menurut Firly diperlukan gerakan-gerakan yang memancing kepedulian masyarakat akan kelestarian alam dan lingkungan lebih banyak lagi. “Perangkat pemerintah hingga yang terbawah juga harus aktif terlibat,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kediri Chevy Ning Suyudi menjelaskan, Kota Kediri merupakan daerah yang memiliki anugerah atau given. Yakni, dibelah oleh Sungai Brantas. Sungai tersebut merupakan muara dari puluhan atau bahkan ratusan sumber air di Kediri Raya.
Karena itu pula, menurut Chevy bappeda sengaja menginisiasi gerakan pelestarian sumber air di Kota Kediri. “Sumber-sumber air yang bermuara di Sungai Branta situ harus dijaga kelestariannya demi generasi mendatang,” terangnya.
Pemkot Kediri menurut Chevy tengah menyusun rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). Isu terkait lingkungan juga masuk di sana. Termasuk pengurangan emisi karbon, perdagangan karbon dan lainnya. “Pelestarian lingkungan ini jadi tanggung jawab bersama. Selain individu dan swasta, pemerintah juga harus bisa menangkap isu ini sebelum terlambat untuk menjaga keseimbangan alam,” paparnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah