KEDIRI, JP Radar Kediri- Bangunan semi permanen berdiri di tengah lapangan Desa Sambirejo, Gampengrejo. Tertutup deretan warung-warung. Dindingnya tersusun dari seng dan barang-barang bekas. Tulisan 'Ketoprak Mitra Erlangga' di bagian depan menandakan tempat apa bangunan ini.
Ya, tempat itu memang merupakan tempat ketoprak tobong milik suami istri Lelur - Mama Siwok itu tampil. Sudah empat bulan ini mereka pentas di lapangan Kwadungan.
Kebetulan saat itu malam minggu. Beberapa orang sudah duduk di kursi-terbuat dari bambu dan sebagian lagi plastik-depan panggung. Tapi, ada pula yang memilih lesehan, beralas tikar. Kian malam, jumlahnya bertambah. Malam minggu itu (16/12) ketoprak tobong ini bisa menjaring puluhan penonton. Jumlah yang tergolong lumayan.
"Jumlah penontonnya tak pasti. Tapi paling ramai ya malam minggu," ujar Lelur, yang punya nama asli Jahit Sutikno ini.
Di malam itu, pertunjukan dimulai tepat pukul 21.00. Ketika gamelan mengalun, suara sinden paro baya pun turut menyeruak. Diikuti layar bergambar Wisnu naik Garuda digulung naik. Menampakkan gambar latar suasana pedesaan.
Dua orang, Pak Ngeyel dan Pak Jumari, tampil. Menampilkan humor dengan cara berdebat lucu.
“Saiki tak takoni awakmu wong tenan...(sekarang tak tanya kamu orang sungguhan...,Red)," ucap Jumari.
"Aku mbok kira iki iblis apa piye (kamu kira aku iblis atau apa,Red)?" ucap Ngeyel memotong omongan rekannya.
Percakapan seperti itu sudah membuat gelak tawa penonton. Hingga mereka menikmati berbagai adegan hingga akhir cerita. Mengantar para penonton pulang dengan membawa perasaan puas.
“Ketoprak ini sudah berjalan 18 tahun,” terang Lelur, setelah selesai manggung.
Mereka biasa berpindah-pindah. Membangun tempat manggung dengan material bekas yang merupakan hasil sumbangan. Di tobong inilah Lelur dan istrinya bertahan. Berjuang menghidupkan salah satu seni budaya tanah air.
Paling terasa, tentu saja, animo penonton yang sudah sangat rendah saat ini. Bahkan, setiap awal pekan, saat pertunjukan Senin malam, pasutri ini harus nombok terlebih dulu.
“Setiap Senin saya harus siap uang Rp 300 ribu untuk tambel,” aku Mama Siwok, sang istri. Wanita ini enggan menyebutkan nama aslinya.
Uang itu untuk jaga-jaga bila penonton sepi, bahkan tidak ada sama sekali. Bila seperti itu, para pemainnya hanya diberi ganti uang bensin. Karena itulah, uang Rp 300 ribu harus ada. Meskipun diperoleh dari berutang.
Soal cerita, penonton lebih menyenangi kisah legenda lama atau cerita sejarah. Seperti Ande-Ande Lumut, Angling Dharma, Minak Jingga, Sekartaji, ataupun Jaka Kendhil. Bila cerita kekinian seperti ratapan anak tiri, tidak laku. Bahkan, bila cerita yang disuka itu ditampilkan berulang, juga tidak ada yang protes. Mereka tetap datang, terutama pas malam minggu. Siap merogoh kocek Rp 5 ribu untuk dewasa dan Rp 3 ribu tiket anak-anak.
Sangking lamanya para pemain memainkan lakon, mereka tak perlu lagi latihan. Hanya beberapa jam sebelum tampil, mereka rapat sebentar. Membahas cerita yang akan dibawakan.
Lelur dan rekan-rekannya memang bersusah payah menghidupi kelompok ketopraknya. Dan itu mereka lakukan selama 18 tahun terakhir. Kabar gembiranya, kali ini mereka sedikit mendapat perhatian. Baik dari pemerintah daerah maupun para penyuka ketoprak.
Namun, hal itu tetap tak menutupi kondisi apa adanya. Menegaskan bahwa nasib kesenian ini sekaligus pelakonnya sangat mengenaskan. Antara hidup segan mati pun enggan.
Tobong mereka sangat sederhana. Dindingnya dari barang-barang sisa. Atapnya pun seng yang kondisinya juga tak lebih bagus. Bocor di sana-sini. Bila hujan jadi persoalan yang serius. Air membasahi nyaris semua tempat. Termasuk tempat para pengrawit berada.
“Kalau hujan, penonton lari semua. Sengnya kan sudah robek-robek semua. Jadi para penonton langsung buyar mencari tempat yang tidak bocor,” terangnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah