KEDIRI, JP Radar Kediri - Rumah Desa Sehat (RDS) adalah program yang dibentuk sebagai pusat informasi tentang kesehatan dan kebutuhan masyarakat. Terdapat data tentang kesehatan, pendidikan, dan pakan.
Menurut Kades Kwadungan Abdul Kamid, RDS adalah sekretariat bersama bagi para pegiat pemberdayaan masyarakat dan pelaku pembangunan desa di bidang kesehatan. Berfungsi sebagai ruang literasi kesehatan, pusat penyebaran informasi kesehatan, serta forum advokasi kebijakan di bidang kesehatan dan peta kerawanan sosial desa atau kemiskinan.
“Dalam menjalankan dan mengelaborasi RDS dibutuhkan kolaborasi lintas elemen baik intra desa sebagai pelaku RDS,” terang Kades Kamid.
Mereka yang terlibat dalam RDS ini adalah lembaga desa, kader pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), pembantu pembina keluarga berencana desa (PPKBD), posyandu, kelompok wanita tandi (KWT), dan karang taruna.
Program RDS sebagai wahana komunikasi guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat desa. Juga upaya menurunkan angka stunting. Program ini untuk menyamakan persepsi dan gerak langkah para kader serta pengambil kebijakan di desa.
“Di RDS ini sendiri juga bisa melihat pencapaian masyarakat terdaftar di UHC (universal health coverage, Red),” kata Kamid.
Terkait UHC adalah program pemerintah dalam memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Dengan adanya RDS ini juga dapat memantau masyarakat yang belum terdaftar di UHC. Dan akan mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya.
Selain memantau tentang kesehatan, juga kondisi rumah warga desa. Nantinya RDS akan tercatat jumlah rumah layak dan tidak layak huni di desa tersebut. Agar mempermudah mencari solusi dan penanganannya.
“Nanti melakukan solusi pemerintah desa ini bisa bekerjasama dengan siapa saja untuk mendapatkan program bedah rumah atau yang lain,” ungkap Kamid.
Dengan adanya RDS menjadi data yang paling valid untuk digunakan. Selain untuk kesehatan, sosial hingga pendidikan.
Baca Juga: Gencarkan Wawasan Pertanian Modern, Inilah Sosok Petani Milenial Bernama Yohan Pramudya
Bentengi dengan Agama untuk Tangkal Radikalisme
Radikalisme menjadi salah satu isu bersama. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghindari hal tersebut. Harapannya, perpecahan dapat terhindarkan. Sehingga kekompakan dan kebersamaan di masyarakat dapat terjaga.
Menyikapi hal tersebut Pemdes Kwadungan berupaya membentengi warganya dengan kegiatan keagamaan. Tercatat, ada tiga masjid besar di Desa Kwadungan, Ngasem. Yaitu Masjid Jami’ Nidhomiyah, Hasan Asy’ari, dan An Nur.
Sebagai benteng akhirnya dibentuk dewan takmir masjid. Pengurusnya adalah orang-orang dari tiga masjid yang berada di desa ini. “Jika nanti ada sebuah permasalahan nanti dapat diselesaikan bersama di dewan takmir,” ujar Kepala Desa Kwadungan Abdul Kamid.
Kamid menjelaskan bahwa saat ada kegiatan selalu dilakukan kolaborasi. Seperti contohnya Masjid Jami’ Nidhomiyah dengan agenda rutin setiap bulan diadakan pengajian ahad pagi. Sedangkan Masjid Annur ini dengan kreativitas pemudanya berkesenian rebana.
“Jadi ketika ada kegiatan semuanya ternaungi dalam dewan takmir masjid,” kata Kamid.
Hal ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Sebab semakin banyaknya kegiatan dapat menambah kerukunan. Salah satu kegiatan yang terakhir dilakukan ini adalah hasil kolaborasi dari semua masjid dan pemuda masyarakat.
“Sehingga kami berdayakan semuanya. Muslimat, fatayat, dari Nu hingga masjid masuk dewan takmir,” ungkapnya.
Selain meningkatkan silaturahmi, kegiatan keagamaan ini juga mengangkat perekonomian masyarakat. Terutama untuk kegiatan yang mendatangkan banyak jamaah. Pasalnya, dapat menggerakan UMKM di desa. Jualan jadi laris karena banyak massa yang datang.
Sedekah Rosok Jadikan Desa Bebas dari Sampah
Di sini terdapat program cukup unik. Jika kebanyakan orang melakukan sedekah berupa uang. Di Desa Kwadungan berbeda. Program tersebut adalah sedekah rosok. “Sedekah rosok ini bertujuan agar kami memiliki kemandrian ekonomi,” Abdul Kamid selaku Kepala Desa Kwadungan.
Kamid menjelaskan dengan adanya program sedekah rosok hasilnya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan masyarakat. Kegiatan ini baru saja berjalan selama empat bulan yang lalu. Dilakukan setiap satu bulan sekali.
Pihaknya mendukung program positif ini. Sebelum berlangsung seperti sekarang, awalnya sosialisasi kepada masyarakat harus digencarkan. Baik secara formal maupun informal. “Kami melakukan musyawarah terlebih dahulu. Motivasi kami adalah bagaimana menjaga kebersihan desa,” tuturnya.
Keberadaan sampah jangan selalu dilihat sebagai masalah. Namun, bisa juga menjadi sebuah berkah. Selama sampah tersebut dapat dikelola dengan baik. “Dari musyawarah untuk merawat lingkungan dengan masyarakat, terciptalah ide untuk membuat program sedekah barang rosok,” tandas Kamid.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah