Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gencarkan Wawasan Pertanian Modern, Inilah Sosok Petani Milenial Bernama Yohan Pramudya

Ayu Ismawati • Rabu, 20 Desember 2023 | 20:15 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Menjadi petani, agaknya, tidak mudah. Paling tidak bagi sebagian orang. Padahal, semakin berkembangnya zaman, kebutuhan akan pangan terus meningkat. Sementara produksi kian menurun.

Itulah yang menjadi keresahan Yohan Pramuda Ariefianto. Sebagai petani milenial, ia tahu bagaimana pola pertanian saat ini masih menganut cara-cara konvensional. Belum lagi, semakin sedikitnya anak muda yang tertarik terjun ke dunia pertanian. Padahal, dari tangan anak muda kerap kali tercipta inovasi-inovasi baru. Yang juga menjembatani pola lama pertanian dengan teknologi-teknologi masa kini.

“Tanah kita sekarang sudah habis zat organiknya. Efek dari terlalu banyak pupuk kimia yang dipakai. Padahal, itu tidak membuat tanaman jadi sehat. Tapi malah merusak tanah,” ujarnya.

Kondisi tanah pertanian yang semakin tidak sehat memang menjadi perhatiannya. Bagaimana tidak, rata-rata zat organik yang tersisa dalam tanah persawahan di Kota Kediri tidak sampai menyentuh 2 persen.

“Bahkan mungkin nol koma. Idealnya kan minimal enam persen,” sambungnya.

Untuk menyiasati itu, baginya penting untuk petani mengolah tanah. Pengelolaan tanah dengan mengintegrasikan mikroorganisme dan bahan organik seperti kompos bisa jadi trik jitu. Bahkan, disebut-sebut bisa menyelesaikan hingga 70 persen problem pertanian yang kerap dihadapi petani. Itulah yang tengah ia perjuangkan agar semakin banyak petani yang tersadarkan.

“Miris ketika tanya ke petani apalagi yang sepuh, Kung, kok ra nandur pari nyapo (Mbah, kenapa tidak menanam padi, Red)? Gah, Le, raenek batine (Nggak mau. Nggak ada untungnya, Red),” ucapnya menirukan percakapannya dengan salah satu petani konvensional.

Mindset seperti itulah yang menurutnya masih menjadi penghalang bagi petani. Padahal, jika diolah dengan baik, bertani pangan –khususnya padi—bisa memberi keuntungan yang luar biasa. Ia mencontohkan, dengan rentang harga beras saat ini, seharusnya petani yang diuntungkan.

“Salah satunya juga karena petani belum tergerak mencoba sistem budidaya padi dengan metode baru,” imbuhnya.

Selain pendampingan dari pemerintah, menurutnya peran anak muda juga dibutuhkan dalam mengenalkan teknologi pertanian modern. Sayangnya, minat anak muda untuk terjun ke dunia pertanian terus menyusut tiap tahunnya. Dari 2.604 petani di Kota Kediri, hanya 331 orang yang berusia 18-40 tahun. Itu pun tak serta merta sudah menerapkan pola pertanian modern.

“Kita stagnan. Nggak menurut, tapi sangat lambat untuk regenerasi. Yang saya rasakan, termasuk dari teman-teman KTNA (kontak tani nelayan andalan, Red) provinsi bilangnya juga sama. Sulit untuk mendapatkan bibit-bibit (penerus, Red) baru,” keluh pria yang juga Ketua KTNA Kota Kediri itu.

Ribet, kotor, dan nggak untung. Itulah tiga kata yang ia ucapkan saat mendeskripsikan penyebab anak muda ogah jadi petani. Jaminan pasar untuk hasil pertanian dan penerapan teknologi yang efisien belum cukup untuk menarik minat anak muda.

Menerapkan teknologi pertanian yang efisien pun jadi persoalan lain. Penerapan teknologi disambut baik dan buruk. Di satu sisi, mempermudah kerja petani dan mempersingkat waktu kerja. Sedangkan di sisi lain, teknologi itu harus berhadapan dengan buruh tani yang selama ini banyak berperan di sektor pertanian dalam negeri.

“Tetap, pada akhirnya respon emosional mereka tidak bisa kita nomorduakan,” ujarnya. Menyebutkan penyebab penolakan yang juga kerap ia temui dalam proses mengenalkan teknologi kepada petani-petani konvensional.

Dia berharap dengan adanya petani-petani muda, problem pertanian sedikit demi sedikit bisa terselesaikan. Tentunya, dengan tanpa menegasikan peran aktor-aktor yang terlibat dalam kerja-kerja pertanian.     

“Statistik penambahan petani muda rata-rata tiap tahun berkisar dua persen. Masih rendah. Target kami tahun depan bisa 10 persen,” pungkasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#petani #kediri #petani milenial #petani kediri