Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri: Kembangkan Wisata Labu Madu

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 19 Desember 2023 | 20:07 WIB
Photo
Photo

 

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Desa Toyoresmi identik dengan labu madu. Mereka memiliki satu destinasi wisata yang bernama Kampung Labu Madu. Tempat pengunjung bisa belajar budi daya atau mengolahnya menjadi makanan dan minuman.

Namanya Kampung Labu Madu. Lokasinya di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem. Sesuai namanya, tempat wisata ini adalah lokasi budi daya labu madu. Yang sudah ada sejak 2016. 

“Di Kampung Labu Madu ini pengunjung dapat belajar cara budi daya labu madu,” jelas Kepala Desa Toyoresmi Gatot Siswantoro.

Memang, ketika menjelang musim panen, pengunjung Kampung Labu Madu dapat melihat  buah labu madu yang bergelantungan berjajar-jajar. Warnanya yang oranye membuat orang akan tertarik.

Budi daya labu madu merupakan ide yang cermerlang. Terutama jika melihat tingginya permintaan pasar. Terlebih, menanam labu madu bisa dilakukan di lahan tidak produktif.

Selain itu, labu madu bisa ditanam di lahan sempit. Dengan perawatan yang mudah. Masa panen juga tak mengenal musim. Sekitar 90 hari sejak waktu tanam.

“Setelah dipanen, labu madu bisa bertahan hingga enam bulan,” imbuhnya.

Tidak hanya dijual dalam bentuk buah mentahan saja, panenan labu madu di Kampung Labu Madu Desa Toyoresmi juga diolah menjadi produk pangan. Nilai jualnya pun tinggi. Baik untuk usaha kecil menengah (UKM) atau di Kampung Labu Madu sendiri.

Selain bisa menambah pengetahuan soal labu madu, pengunjung juga dapat mencicipi kuliner berbahan labu madu. Seperti sari labu madu, labu madu oven, stik labu madu, dan kembang goyang. “Olahan tersebut dijual di pusat oleh-oleh yang ada di desa,” kata Gatot.

 

Jadi Lokasi Edukasi – Entrepreneur

 

Kampung Labu Madu di Desa Toyoresmi ini tak sekadar jadi jujugan untuk destinasi wisata saja. Atau hanya untuk budi daya labu madu saja. Melainkan juga menjadi tempat edukasi serta entrepreneur. Yang pesertanya dari berbagai kalangan.

“Pesertanya mulai anak-anak usia dini hingga yang purna kerja,” jelas Dewi Purwanti, pengelola Kampung Labu Madu sekaligus istri kepala desa.

Dewi menjelaskan bahwa progam pelatihan edukasi entrepreneur ini sudah berjalan salama satu tahun. Dimulai sejak 2021. Merupakan pengembangan dari Kampung Labu Madu. Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari Kediri saja, namun hingga luar kota.

“Harapan kami dengan adanya program ini untuk ke depannya semakin banyak enterpreneur muda dan tidak fokus menjadi pegawai saja,” imbuhnya.

Menurut Dewi, bila banyak entrepreneur muda yang lahir, maka bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru. Sekaligus menjadi solusi problem pelik selama ini, yaitu sempitnya lapangan kerja.

Saat Jawa Pos Radar Kediri mengunjungi lokasi Kampung Labu Madu, tengah berlangsung pelatihan edukasi entrepreneur yang diikuti oleh siswa SDN Kampungbaru 1 Kepung. Mereka mendapatkan edukasi tentang pembuatan tahu. Selain labu, tahu juga merupakan salah satu produk UMKM lain di desa  ini. Selain melihat proses pembuatan, namun peserta pelatihan juga melakukan praktik pembuatan secara langsung.

“Anak-anak yang berkunjung ini dapat secara langsung melihat proses pembuatannya,” terang Dewi.  

Kepala SDN Kampungbaru 1 Kepung Muhamad Iskak mengatakan bahwa tujuan murid-muridnya melakukan kunjungan ke Kampung Labu Madu adalah untuk kegiatan tengah semester. Di dalam kegiatan tengah semester tersebut mengambil tema kewirausahaan, yang cocok dengan kegiatan pelatihan edukasi entrepreneur. “Dengan mengetahui proses pembuatan tahu ini, kelak anak-anak punya inspirasi setelah lulus sekolah nanti,” terang Iskak.

Minuman Segar Berbahan Herbal

 

Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem juga memiliki potensi andalan pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) minuman segar. Yang terbuat dari bahan herbal. Mulai dari kunyit hingga asam. Seperti kunyit asam, sinom, hingga teh rempah.

“Dalam satu hari ini bisa melakukan produksi sebanyak 150 botol,” terang owner Mashacky Nyamat Rachmat.

Kepada Jawa Pos Radar Kediri, Rachmat bercerita, sebelum mengembangkan minuman rempah dia pernah membuat minuman dari labu madu. Usaha pertamanya tersebut tidak berhasil. Labu madu sulit dikendalikan, karena mudah sekali bau.

“Labu madu ini cepat sekali bau karena mengandung tepung,” imbuhya.

Sebelum dikemas cantik seperti saat ini, awal mula minuman terbuat dari rempah hanya dikemas menggunakan botol bekas. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan mengikuti banyak pelatihan, tempatnya mulai mengalami pergantian. Menjadi botol baru.

Nyamat bercerita bahwa proses membuat ramuan membutuhkan waktu yang panjang. Dia ingin membuat minuman terbuat dari rempah tanpa adanya endapan. Sebab endapan ini sangat berbahaya untuk kesehatan ginjal. “Caranya dengan memotong bahan tipi-tipis kemudian direbus. Agar hasilnya jernih proses penyaringannya sebanyak delapan kali,” ungkap Rachmat.

Proses pembuatan minuman dari rempah ini masih dilakukan secara manual. Rempah-rempah tersebut direbus di dalam panci besar, dengan kompor yang berbahan bakar gas. Saat rempah-rempah tersebut mendidih, barulah dimasukan gula.

Karena setiap hari memproduksi ratusan botol, Nyamat harus selalu sedia bahan baku. Rempah tersebut dibeli dari petani langsung. Sehingga kesegaran terjamin.

Keunggulan dari minuman rempah ini tidak menggunakan pengawet. Jika disimpan pada suhu ruang akan tahan selama 15 hari. Sedangkan untuk pendingin bisa sampai tiga bulan.

“Saya mengutamakan kualitas, kalau menggunakan pengawet bisa menimbulkan efek jangka panjang,” kata Nyamat.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kampung labu madu #kecamatan ngasem